Ada beberapa kultur di kalangan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) yang bagi mereka keren. Hanya saja, di mata mahasiswa dari PTN atau PTS umum, justru dianggap sebagai kultur pinggiran dan nggak ada keren-kerennya blas.
***
3,5 tahun saya kuliah di UIN. Selama itu pula saya menyadari satu hal: betapa kampus saya kerap tidak diperhitungkan, apalagi jika dibandingkan dengan PTN atau PTS umum ternama.
Misalnya, ketika saya bertemu dalam sebuah forum heterogen, lalu ditanya dari mana asal kampus saya dan saya sebut “Universitas Islam Negeri”, kemungkinan ada dua reaksi yang saya terima. Satu, “Oh aku nggak pernah denger. Kalau di Surabaya saya tahunya “nyebut nama-nama PTN besar”.” Dua, “Oh UIN.” Lalu obrolan tentangnya menjadi tidak terlalu antusias.
Jujur saja, terlalu sering mengalami dua situasi tersebut membuat alam bawah sadar tersetel “ciut” tiap ditanya “Kuliah di mana?”. Tidak percaya diri untuk mengakui. Merasa seolah-olah UIN adalah kampus terbelakang dan tertinggal. Padahal sebenarnya setara.
Melalui jajak pendapat dengan 3 mahasiswa aktif UIN dan 3 alumnus, ternyata ada beberapa hal tentang mahasiswa UIN yang kerap direspons dengan “Hah?!” oleh mahasiswa PTN atau PTS umum. Padahal, hal-hal tersebut sebenarnya merupakan bagian keren dari mahasiswa di kampus di bawah Kementerian Agama (Kemenag) RI tersebut.
#1 Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) dianggap terlalu berisik di kedai kopi karena diskusi
Gejala ini terutama ditemukan di Jogja dan Surabaya. Mahasiswa UIN kerap memadati kedai-kedai kopi. Kalau tidak untuk mengerjakan tugas, ya untuk diskusi dengan teman sejurusan atau seorganisasi.
Rasa-rasanya amat jarang mahasiswa aktif meriung di kedai kopi hanya untuk sekadar bertemu atau ngobrol biasa. Pasti ada saja yang didiskusikan. Kalau toh ada mabarnya, biasanya setelah diskusi itu selesai.
Namun, ada stereotip yang cukup mengganggu bagi para mahasiswa UIN. Sebab, tak jarang mereka mendengar celetukan dari mahasiswa PTN atau PTS lain: menganggap anak UIN terlalu berisik di kedai kopi untuk sebuah diskusi yang tidak konkret.
“Masih aja diskusi Tuhan itu ada tidak.”
“Masih aja diskusi filsafat dan tafsir.” Dan celetukan-celetukan yang lain.
Padahal, bagi mahasiswa UIN, mendiskusikan hakikat Tuhan adalah bagian penting agar manusia tidak krisis eksistensi. Sejalan dengan Hadis: Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu (Barangsiapa ingin mengenali dirinya sendiri maka harus mengenali Tuhannya).
Toh yang didiskusikan tidak hanya soal gagasan ketuhanan. Tapi juga aspek spiritual lain yang implementasinya konkret juga untuk menyongsong kehidupan. Sebenarnya tidak jauh berbeda kok dengan diskusi mahasiswa PTN atau PTS pada umumnya. Begitu kata responden saya. Bedanya, jika mahasiswa PTN atau PTS umum. Bedanya, jika pondasi berpikir mereka adalah pragmatisme, mahasiswa UIN lebih ke spiritual.
#2 Spek yalil-yalili dan akhi-akhi, dikira kayak orang pengajian padahal itu outfit terbaik
Namanya juga Universitas Islam Negeri. Apa salahnya jika mengenakan outfit syar’i yalil-yalili (gamis dan hijab panjang) bagi perempuan dan bergaya ala akhi-akhi bagi laki-laki.
Tidak jarang ada selentingan kalau outfit syar’i semacam itu dianggap tidak modis. Kurang kalcer. Padahal, di lingkungan UIN, penampilan syar’i justru dianggap paling kalcer, loh.
Apalagi sekarang outfit syar’i yalil-yalili bisa dimodifikasi dengan berbagai model kekinian. Sehingga, sekalipun tampak berhijab dan bergamis panjang, tapi masih kelihatan gaul.
Buktinya, kata responden saya, sekarang beredar konten di medsos: Perempuan idaman laki-laki itu seperti apa sih? Yang kemudian muncul adalah deretan perempuan-perempuan berbusana syar’i.
Artis Natasha Rizky menjadi sosok yang paling sering muncul. Sebab, ia membuktikan, pakaian syar’i justru membuat perempuan bisa tampak lebih elegan dan berwibawa. Auranya damage lah kalau meminjam istilah populer.
#3 Jurusan anti mainstream di Universitas Islam Negeri (UIN)
Fakultas dan jurusan di UIN umumnya tidak jauh dari PTN atau PTS umum lain. Bedanya, di UIN—karena label kampus Islam—kebanyakan akan diikuti dengan embel-embel “Islam”.
Misalnya, Ekonomi dan Bisnis Islam, Sejarah Peradaban Islam, Komunikasi Penyiaran Islam, dan lain-lain. Walaupun ada pula jurusan yang tanpa embel-embel tersebut: Hukum Tata Negara, Sastra Inggris, Sastra Arab, dan seterusnya.
Selain itu, UIN juga punya jurusan yang anti mainstream dari PTN atau PTS umum lain. Seperti, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Ilmu Hadis, Perbandingan Mazhab, Tasawuf, dan semacamnya. Jurusan ini anti mainstream karena tidak ditemukan di PTN atau PTS non “Islam”.
Responden saya mengatakan, ada saja orang yang memandang remeh jurusan-jurusan tersebut. Lagi-lagi, dianggap tidak konkret dan tidak relevan dengan kebutuhan pasca-lulus: kerja.
Namun, bagi mahasiswa UIN, masuk jurusan tersebut justru merasa keren. Karena rasa-rasanya seperti berada di kampus-kampus di Timur Tengah dan belahan dunia Islam lain: di mana Al-Qur’an, Hadis, hingga Tasawuf sampai difakultaskan. Menimbang betapa urgennya keilmuan tersebut.
#4 Pinter bahasa Arab dan ngaji, dianggap kolot dan tak berguna
Ini tidak datang khusus dari mahasiswa PTN atau PTS umum. Tapi memang ada masyarakat umum yang beranggapan minor tentang ini.
Umumnya mahasiswa UIN memang jebolan pesantren. Tidak heran jika cukup menguasai bahasa Arab dan ngaji (baik Al-Qur’an maupun kitab kuning).
Bagi mahasiswa UIN, di kelas atau di lingkungan kampus, pintar bahasa Arab dan ngaji kitab kuning itu keren loh. Sampai mendapat rispek lah.
Tapi bagi beberapa orang umum, justru dianggap kolot: kitab kuning terlalu tradisional. Juga dianggap tidak berguna: karena bakat tersebut tidak menjamin lulus kuliah bakal dapat kerja.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Ironi Kuliah UIN: Katanya Kampus Islam tapi Jadi Mahasiswa Agamis Malah Dicap Aneh, Dihakimi dan Dijauhi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














