Dari keterpaksaan justru jatuh hati pada Negeri Jiran
Pergulatan batin serius harus dialami oleh Aira (27), perempuan asal Batam, Kepulauan Riau.
Melalui beasiswa, Aira sempat mencecap S1 di Malaysia pada 2016. Jelas ia terbuai dengan kondisi Negeri Jiran. Fasilitas lebih memadai dari Indonesia, terkesan tertib, dan tidak terlalu banyak drama seperti di Indonesia (kecuali kalau sudah menyoal sepak bola).
Jujur saja, awalnya Aira mengaku terpaksa saat harus kuliah di Malaysia. Saat itu, Aira ingin mengejar beasiswa kuliah di Eropa. Hanya saja, orang tuanya tidak merestui kalau terlalu jauh.
“Kalau mau kuliah di luar negeri, sudah lah ke Singapura atau Malaysia saja,” begitu kata bapak Aira saat itu.
Seturut pengakuan Aira, keluarganya memang penganut sistem patriarki. Sangat kuat sekali. Sehingga perempuan seperti Aira tidak bisa leluasa menentukan pilihan hidupnya sendiri. Harus ngikut apa kata orang tua, terutama bapak. Kendati dalam konteks kuliah itu, Aira sebenarnya menggunakan beasiswa, alias tidak akan meminta sokongan biaya dari orang tua.
“Akhirnya terpaksa ya di Malaysia. Masih untung diizinkan kuliah di luar Indonesia kan. Untung juga waktu itu lolos,” kata Aira.
Akan tetapi, dari keterpaksaan itu, Aira lambat laun justru jatuh hati dengan Negeri Jiran. Sebagaimana yang ia ungkapkan di awal tulisan ini. Malaysia sekian langkah lebih maju ketimbang Indonesia: baik infrastrukturnya maupun sumber daya manusianya.
Sial, harus terkurung sebagai WNI!
Aira menjalani aktivitas kuliah dan aktivitas sehari-hari di Negeri Jiran dengan sangat antusias. Sampai-sampai ia jarang pulang ke Batam.
Menjelang kelulusan, ia bahkan mendapat tawaran untuk langsung bekerja di tempat magangnya sebelumnya: mengisi posisi digital marketing.
“Apalagi karena aku muak banget dengan situasi politik dan betapa beratnya jadi WNI, aku berpikir, kayaknya menarik kalau nggak cuma kerja, tapi sekalian saja lepas paspor Indonesia, jadi WN Malaysia,” ujar Aira.
“Karena ternyata ada beberapa teman kuliahku yang memutuskan seperti itu. Nyaman di Malaysia, terus pindah warga negara,” sambungnya.
Namun, bapaknya justru memaksa Aira untuk pulang ke Indonesia. Tentu saja menentang keras bayangan Aira untuk pindah kewarganegaraan. Kata sang bapak, persetan urusan kondisi negara Indonesia. Pokoknya kalau Aira pindah jadi WN Malaysia, ia bakal mendapat dua cap sekaligus dari keluarga: pengkhianat negara sekaligus pengkhianat keluarga besar alias durhaka.
“Kesel juga. Tapi akhirnya pulang ke Batam. Kerja di bidang yang sama sebenarnya, digital marketing. Tapi jangan tanya mentalku aman atau nggak di Indo, karena setiap hari dijejali kabar buruk yang terus-menerus dikirim oleh orang-orang berdasi itu, sial betul!” Pungkasnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Ramai, ‘Cukup Aku Saja yang WNI’: Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














