Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Pilunya Wanita Rembang, Tetap Menanti Suami Pulang Meski Telah Tenggelam di Laut dan Tak Pernah Ditemukan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
29 Februari 2024
A A
Wanita Rembang Menanti Suami yang Tenggelam di Laut MOJOK.CO

Ilustrasi - Wanita Rembang menanti suami yang tenggelam di laut (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mojok merangkum cerita-cerita pilu dari perempuan asal Rembang, Jawa Tengah, yang menanti suami pulang kerja, tapi justru yang datang adalah duka.

***

Kepulangan orang-orang tersayang tentu menjadi hal yang paling ditunggu oleh setiap orang. Seperti misalnya seorang istri yang menunggu kepulangan suami dari tempat kerja.

Melihat sosok suami ada di depan mata: duduk di teras rumah sembari menyesap rokok dan secangkir kopi, menjadi wajah pertama yang terlihat saat bangun tidur, jelas menjadi hal yang sangat melegakan.

Terlepas dari dinamika dan problematika hidup yang menyelimuti sebuah rumah tangga, bisa kumpul dengan suami seolah memberi kelegaan untuk menyongsong hari tua. Menumbuhkan keyakinan bahwa selama menua bersama, maka hari tua rasanya tak kesepian-kesepian amat.

Bahkan ada orang yang saat dapat pertanyaan, jika harus memilih salah satu saja antara anak atau pasangan (suami/istri), pilih mana? Dengan mantap akan menjawab memilih pasangan.

Alasannya, anak-anak akan terus tumbuh dan kelak akan tiba masanya mereka makin jauh dari orang tua: meniti jala hidupnya sendiri. Sementara pasangan hidup akan membersamai sampai akhir hayat.

Namun, takdir tak ada yang tahu. Seperti kisah pilu wanita-wanita asal Rembang, Jawa Tengah ini. Setia menanti kepulangan suami dari kerja, tapi yang pulang justru hanya jasad dan tinggal nama.

Pengumuman duka usai salat Subuh

Seperti biasanya, setiap pulang ke Rembang, saya pasti bangun sedikit lebih molor. Seperti pada Selasa, (21/11/2023) silam.

Sebenarnya tak molor-molor amat, di jam lima lebih sedikit. Tapi bagi saya jam lima sudah terhitung molor. Sebab, di Surabaya, biasanya saya bisa bangun persis ketika azan Subuh berkumandang pukul 04.00 WIB.

Saat hendak ke kamar mandi, saya terhenti sejenak oleh suara pengumuman dari masjid.

Setiap ada pengumuman di jam-jam setelah salat Subuh, sudah pasti ada berita kematian. Saya mencoba menyimaknya, untuk memastikan, kabar duka datang dari keluarga siapa?

Persis setelah pengumuman itu selesai. Terdengar suara riuh dari tetangga-tetangga sekitar masjid.

Kebetulan rumah saya di Desa Manggar, Kecamatan Sluke, Rembang dengan masjid desa letaknya berdekatan. Jadi samar-samar saya bisa ketiban informasi.

Iklan

Barulah saya tahu, cerita memilukan seorang istri yang menunggu suami kerja, tapi yang sampai rumah justru hanya jasadnya.

Suami tak kunjung pulang hingga hampir tengah malam

Wastini (50) makin resah ketika sang suami, Darji (53) tak kunjung pulang dari ladang, sementara Magrib hampir tiba.

Ini tak seperti biasanya. Sebab, menurut Wastini, Darji akan pulang sekitar jam empat sorean. Selambat-lambatnya jam lima sore.

Darji sendiri pamit untuk ke ladang pada Senin, (20/11/2023) pagi.

Karena petang itu Darji tak kunjung tiba di rumah, Wastini pun sontak merasa gelisah.

“Saya langsung ngomong sama sanak keluarga untuk nyusul ke ladang,” ungkap perempuan asal Desa Manggar, Rembang waktu itu.

Wastini dan beberapa anggota keluarga pun lekas bergegas ke ladang. Namun, keanehan terjadi. Seolah tak ada jejak Darji sama sekali di ladang.

“Sapi di kandang belum dikasih makan. Terus orangnya (Darji) di mana?,” tuturnya.

Pencarian terus dilakukan sampai hampir tengah malam. Saat jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB, Wastini dan keluarga menyerah. Mereka lantas menghubungi Polsek Sluke.

Berdasarkan olah TKP, kemudian ada dugaan bahwa Darji tenggelam di lubang bekas galian tambang sedalam lima meter tak jauh dari ladangnya tersebut.

Benar saja. Setelah polisi dan Tim SAR dari Rembang melakukan pencarian di lubang bekas galian tambang tersebut, jasad Darji ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyawa.

“Saya tangisan. Pamitnya ke ladang, tapi malah nggak pulang selamanya,” tutur Wastini dengan kesedihan yang mendalam.

Sampai saat ini, Wastini masih merasa sangat terpukul atas kematian sang suami. Sementara soal kematian Darji, di Desa Manggar sendiri masih menjadi perbincangan hangat terkait lubang bekas galian tambang tersebut.

Narasi-narasi mistis beredar. Meskpun ada juga yang menyalahkan pihak penambang yang tak menutup lubang dalam itu.

Jasad suami tak kunjung ketemu usai tenggelam di laut Rembang

Cerita yang hampir mirip saya dapat dari Sukanah, perempuan asal Kragan, Rembang, Jawa Tengah.

Pada Jumat, (7/1/2022) silam, saya sempat mewawancarai Sukanah bersama ibu-ibu lain yang bekerja di TPI Tasik Agung Rembang.

Kepada saya, Sukanah bercerita bahwa sejak suaminya meninggal, mau tak mau ia harus mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga. Menanggung ibu dan satu orang anaknya yang masih SMP.

Bagian terpedihnya adalah, hinga saat ini Sukanah tak pernah bisa melihat jasad dari sang suami.

Wanita Rembang Menanti Suami yang Tenggelam di Laut Pulang MOJOK.CO
Ilustrasi – Wanita menanti suami yang tenggelam di laut. (Shahin Khalaji/Unsplash)

Sang suami sehari-hari berprofesi sebagai nelayan. Suami Sukanah lantas dilaporkan tenggelam di laut Kragan, Rembang saat sedang melaut pada penghujung 2017 silam.

Tidak kurang dari seminggu pencarian dilakukan oleh Tim SAR di Rembang. Sayangnya, Sukanah harus mengikhlaskan tak melihat jasad suaminya lagi. Jasad suami Sukanah tak pernah ketemu, hingga saat ini.

“Hidupku sempat tidak karu-karuan. Tapi aku ingat, aku masih punya anak dan ibu yang harus aku urus,” ujarnya saat saya wawancara 2022 silam.

“Berat, Mas, tapi aku nyoba netegke ati (menguatkan hati),” sambungnya.

Sejak saat itu, Sukanah lantas bekerja sebagai buruh di TPI, berpindah-pindah hingga akhirnya kerja di TPI Tasik Agung yang secara upah memang sedikit lebih banyak dari TPI-TPI lain di Rembang.

Namun, kehilangan suami tanpa pernah melihat jasadnya untuk yang terakhir kali tentu menciptakan lubang yang tak kunjung tertutup di hati Sukanah.

Sukanah menjadi lebih banyak diam dan melamun. Hanya ada kesan muram dan murung dari raut wajahnya.

Sebab, dari lubuk hatinya, hingga hari ini ia masih menanti ‘kepulangan’ sang suami. Entah lewat keajaiban yang seperti apa, Sukanah masih berharap bisa melihat jasad suaminya untuk yang terakhir kali.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Mbah Istianah: Nenek Asal Demak yang Suka Ngasih Uang ke Anak Muda di Jalan, Obat Kangen pada Sang Cucu

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 29 Februari 2024 oleh

Tags: kematianpilihan redaksirembangtenggelamtpi tasik agung
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO
Sehari-hari

Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban

8 April 2026
perumahan, tinggal di desa, desa mojok.co
Urban

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Catatan

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO
Tajuk

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater

3 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Kerja WFH untuk ASN bukan solusi. MOJOK.CO

WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?

6 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban

8 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.