Sikap Pekewuh dan Basa-basi Ala Orang Jawa bikin Repot Diri Sendiri, Sialnya Tak Gampang buat Terus Terang

Sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa jadi karakter yang justru merepotkan diri sendiri MOJOK.CO

Ilustrasi - Sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa jadi karakter yang justru merepotkan diri sendiri. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Orang Jawa memang tumbuh dengan karakter pekewuh dan basa-basi sebagai bentuk tata krama dan rasa sungkan (tidak enak hati).

Karakter tersebut di satu sisi memang membuat seseorang terlihat penuh kesantunan. Namun, di sisi lain, beberapa orang Jawa justru merasa bahwa sikap—khususnya reaksi—pekewuh dan basa-basi justru sangat merepotkan diri sendiri. 

#1 “Mboten usah”, sikap pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa yang kerap berujung sesal

Bukan hanya sekali, teman kampung saya asal Rembang, Jawa Tengah, mengaku amat sering terjebak dalam sikap pekewuh dan basa-basi yang sering ia tunjukkan sendiri. Terutama jika berurusan dengan pemberian orang lain. 

Ketika ada orang yang hendak memberi sesuatu (uang, barang, atau sesederhana misalnya bingkisan saat berkunjung ke rumah saudara), reaksi pertama dan secara otomatis muncul darinya adalah ucapan: “Mboten usah (Nggak usah).” 

Mungkin ada orang Jawa yang benar-benar menolaknya karena didorong rasa pekewuh, tidak enak. Namun, ada juga tipikal orang seperti teman saya itu: sikap pekewuh tersebut sebenarnya bentuk basa-basi. 

Dalam istilah Jawa disebut dengan ethok-ethok (pura-pura). Jadi meski reaksinya menolak, tapi dalam hati sebenarnya ia sangat ingin menerima. Ia hanya butuh dipaksa. Kalau sudah dipaksa berkali-kali, baru lah ia bisa menerima. 

Masalahnya, dalam beberapa kasus yang sering teman saya alami, paksaan yang berulang dengan kesan “maksa banget” agar pemberian diterima itu tidak terjadi. Alhasil, sikap pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa yang ia tunjukkan malah berujung penyesalan. 

Sebab, ia akhirnya tidak menerima pemberian sama sekali, karena si pemberi sudah kepalang menganggap kalau pemberiannya sudah ditolak. 

#2 “Santai mawon”, ungkapan yang membuat tamu makin lama tidak beranjak

Kalau saya ingat-ingat, saya sendiri ternyata juga sering terjebak dengan reaksi pekewuh dan basa-basi tiap kali menerima tamu di rumah. 

Saya bukannya tidak senang jika ada tamu. Namun, kadang kala, jika saya sudah sangat lelah sementara para tamu tersebut justru tampak masih betah, saya agak kerepotan untuk meladeni. 

Sebagai orang yang tumbuh dengan karakter khas Orang Jawa, jelas saya tidak sampai hati jika terkesan “mengusir”. Sekadar mengusir halus dengan mengeluh kalau saya sudah lelah atau ngantuk saja saya tidak bisa. 

Alhasil, satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah tetap mencoba meladeni setiap obrolan, pura-pura antusias menyimak, dan bersikeras menyembunyikan raut lelah, menunggu para tamu benar-benar berinisiatif pamit undur diri. 

Sebenarnya, ada kalanya salah seorang dari para tamu yang datang menyadari kalau mereka sudah teramat lama bertamu. Namun, saat mereka “basa-basi” berpamitan, saya justru spontan merespons dengan ungkapan “Santai mawon (Santai aja dulu).” 

Reaksi spontan itu muncul lantaran dorongan perasaan tidak enak: Takut kalau-kalau saya menunjukkan kesan pengusiran sehingga mereka berpikir untuk pamit. 

Di situ lah letak merepotkannya bagi saya. Sebab, setelah mendapat jaminan “santai aja dulu”, pada akhirnya rencana pamitan pun ditunda sampai waktu tidak ditentukan. Alhasil, saya yang sudah kelelahan mau tidak mau harus tetap meladeni. 

#3 “Mboten napa-napa”: reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa yang berarti sebaliknya

Seorang responden Mojok, pemuda 27 tahun pekerja swasta asli Jogja, turut mengakui, betapa sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa membuatnya kerap terjebak dalam perasaan dongkol nan sumpek. Sialnya, perasaan tersebut tidak bisa tersalurkan, hanya bisa dipendam sendiri. 

Misalnya, ia sering berhadapan dengan orang-orang yang tidak tepat waktu setiap membuat janji temu. Itu membuatnya kesal sekali. 

Akan tetapi, ketika orangnya sudah datang dan minta maaf karena telat, responden Mojok ujungnya hanya bisa berkata “Mboten napa-napa (Nggak apa-apa/Nggak masalah),”, karena ia tidak sampai hati untuk menegur atau marah. 

Reaksi semacam itu pada akhirnya membuatnya terjebak dalam lingkaran setan. Barangkali karena dianggap sebagai orang yang toleran atas keterlambatan, alhasil setiap membuat janji temu, pasti orang-orang lebih sering datang terlambat. 

Berlaku juga dalam urusan bantu-membantu. Responden Mojok asal Jogja ini mengaku kerap direpotkan orang lain yang butuh bantuan. Yang paling sering adalah persoalan utang. Padahal ia sendiri merasa tidak pernah merepotkan apalagi sampai utang ke orang lain. 

Tiap kali si orang yang merepotkan atau utang bilang “Mohon maaf telah merepotkan”, reaksi “Mboten napa-napa” dari responden Mojok—yang awalnya ditujukan untuk memberi kesan baik—justru menjadi bumerang bagi diri sendiri. 

Pasalnya, sebenarnya ia bukannya aman-aman saja, tapi kesal bukan main karena selalu jadi pihak yang diutangi. Lebih-lebih, pekewuh itu kemudian disalahpahami sebagai bentuk menunda-nunda atau bahkan sama sekali tidak punya itikad baik untuk membayar utang. Repotnya lagi, karakter pekewuh menjadi penghambat responden Mojok tiap hendak menagihnya. 

#4 Tak kuasa menolak dan problematika “Monggo pinarak”

Saat membawa diskusi bab “pekewuh dan basa-basa ala orang Jawa” ini ke meja redaksi, seorang kru Liputan asal Wonogiri, Jawa Tengah langsung terbersit satu hal: Betapa susahnya orang Jawa menolak ajakan orang lain. 

Sebagai orang Jawa, tanpa sadar perasaan pekewuh menolak ternyata sudah mengendap dalam dirinya. Alhasil, ketika ada ajakan dari orang lain—untuk ngumpul, menghadiri sebuah acara, atau sekadar mampir—yang sebenarnya tidak ia kehendaki, kerepotan lah yang ia hadapi. 

Ia tidak bisa menolak ajakan secara tegas. Maka yang ia gunakan adalah basa-basi seperti: “Ya nanti nyusul”, “Nanti kalau nggak ada halangan aku datang”, atau bahkan terpaksa mampir karena kepalang tidak bisa menolak. Baginya, menghadiri perkumpulan atau acara yang tidak dikehendaki hanya buang-buang waktu dan energi. 

Di sisi lain, ia juga merasakan, sepertinya sebuah ajakan seperti ajakan mampir dengan kalimat “Monggo pinarak”, sebenarnya juga merupakan basa-basi yang tidak menyenangkan dari tuan rumah. 

Dari yang sering ia alami sendiri: “Monggo pinarak” itu sebenarnya tidak berangkat dari benar-benar ajakan untuk mampir. Sehingga, ketika orang lain mengiyakan tawaran tersebut, si tuan rumah jadi kelimpungan karena harus menyiapkan segala sesuatu. 

Memang, seringkali ada tamu yang dengan enteng mengatakan: Tidak usah repot-repot. Akan tetapi, jika si tamu merasa tidak dijamu sebaik-baiknya, ujung-ujungnya si tuan rumah bakal menjadi omongan. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version