Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Naik Bus Jaya Utama Surabaya-Semarang Selalu Mengoyak Batin, Bocah dalam Gendongan Sudah Harus “Mencari Uang” demi Bertahan Hidup

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
16 Juli 2025
A A
Suasana dalam bus Jaya Utama Surabaya Semarang yang membuat hati terkoyak MOJOK.CO

Ilustrasi - Suasana dalam bus Jaya Utama Surabaya Semarang yang membuat hati terkoyak. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Perjalanan di jalan pantura rute Surabaya-Semarang, terutama yang saya alami dengan bus Jaya Utama, benar-benar membuat batin saya terkoyak-koyak.

Sebenarnya sudah beberapa kali menuliskannya. Misalnya, suara-suara parau para pengamen saat perjalanan ke Surabaya dalam tulisan, “Kesedihan yang Saya Rasakan di Atas Bus Surabaya Semarang”.

Juga cerita jalanan di Terminal Pati melalui tulisan, “Berhenti di Terminal Pati Langsung Disuguhi Kekacauan dan Nasib Nelangsa Orang Pantura yang Bikin Iba”.

Tapi cerita dalam bus di jalan pantura rute Surabaya-Semarang memang tak habis-habis. Begitu keras. Amat mengoyak batin.

Mengamen di bus Jaya Utama Surabaya-Semarang sembari menggendong balita

Nyaris dalam setiap perjalanan saya dengan bus Jaya Utama Surabaya-Semarang, saya selalu berpapasan dengan perempuan pengamen itu. Usianya 40-an tahun. Dia kerap membawa dua anak. Satu balita dalam gendongan, dan satu anak-anak usia menjelang 10 tahunan.

Alhasil, saya menjadi saksi pertumbuhan si balita. Dari tahun lalu yang masih mungil dengan dot selalu terselip di bibirnya dan mata selalu terpejam, kini telah menjadi balita yang sudah bisa minum air dan nyaris selalu terjaga menatap penuh tanda tanya suasana dalam bus Jaya Utama: yang ramai riuh, bau keringat, sumuk, dan sesekali dipenuhi asap rokok.

Dengan kentrung seadanya, si ibu membawakan beberapa lagu melayu 90-an hingga dangdut Denny Caknan. Anaknya yang usia 10 tahunan—dengan wajah kusam dan pakaian agak kumal—akan mengiringinya bernyanyi. Suaranya melengking renyah. Begitu juga suara si ibu yang tinggi dan dalam.

Sementara si balita tampak mengerjap-ngerjap. Mata beningnya tak henti-henti melirik sana-sini. Seperti ada tanda tanya besar di sana: Dunia macam apa yang dia tempati dan bakal menjadi tempatnya tumbuh?

Bocah yang terpaksa bergaul dengan kerasnya bus Jaya Utama Surabaya-Semarang

Perempuan itu saya jumpai—mesti—setiap bus Jaya Utama Surabaya-Semarang yang saya naiki memasuki Kudus. Lalu ketika memasuki Pati, pengamen yang naik adalah perempuan menjelang 40-an lagi, bawa anak juga: bocah laki-kaki umur 5 tahunan.

Baik si ibu maupun anaknya tampak sudah sangat akrab dengan kondektur bus Jaya Utama itu. Sejak masuk dari pintu belakang, mereka langsung bercengkerama beberapa saat, sebelum kemudian melanjutkan mengais recehan dari para penumpang.

Tampak betul si ibu tak terlalu jenak saat mengamen. Pertama, alih-alih anteng di dekat sang ibu, bocah 5 tahun itu memang terlihat hiperaktif. Lari ke depan, balik ke belakang, begitu terus. Sesekali bahkan duduk di kursi penumpang hingga membuat beberapa penumpang tampak risih.

Si ibu, di sela-sela nyanyian melayu dengan suara dalamnya, nyaris selalu menegur dan menarik si anak agar “tidak nakal”. Namun, si anak kelewat aktif, tidak bisa dikendalikan.

Kedua, saking akrabnya si bocah dengan kondektur bus Jaya Utama Surabaya-Semarang itu, si kondektur sampai leluasa mengajarinya beberapa kosakata yang tidak sepatutnya diucapkan oleh bocah seusianya (setidaknya dalam norma yang terlanjur berlaku). Misalnya meminta si bocah menyebut “Asu!” atau “Jancok!” dengan suara keras dan penuh penekanan.

“Aja lah, Mas, aja diwarahi sing ora-ora (Jangan lah, Mas, jangan diajari yang nggak-nggak),” pinta si ibu ke kondektur dengan suara memelas, tapi dengan wajah yang tetap menyiratkan senyum.

Iklan

Si ibu barangkali tidak sampai hati membiarkan anaknya belajar kata-kata yang tak pantas terucap dari bocah seusianya. Tapi si ibu juga tak punya kuasa untuk marah pada si kondektur. Sebab, karena kebaikan si kondektur lah si ibu dan anaknya itu bisa menyambung hidup dengan mengamen di bus Jaya Utama tersebut.

Asyik berdendang meski nyawa terancam

Nyaris tidak ada pilihan bus yang benar-benar aman di pantura rute Surabaya-Semarang. Bus Jaya Utama yang saya tumpangi sore itu, Sabtu (12/7/2025) melaju secara menggila.

Tak terhitung berapa kali bus nyaris serempetan dengan truk-truk tronton karena menyalip dari sisi kiri. Berkali-kali pula bibir depan bus berjarak hanya sejengkal dengan bokong truk.

Menabrak orang atau pengendara motor? Oh teramat nyaris dan tak terhitung. Bus pun membuat penumpang terguncang-guncang ke kanan-kiri. Benar-benar senam jantung.

Para penumpang tentu tak kuasa menegur si sopir. Sebab, menegur sekalimat saja, buntutnya bisa direspons dengan dampratan. Pilihan para penumpang hanyalah diam anteng, memejamkan mata, ngedumel lirih, atau menyebut Istigfar tanpa henti.

Di tengah-tengah suasana seperti itu, dalam perjalanan di jalanan rusak Batangan, seorang perempuan tampak asyik berkaraoke. Perempuan itu juga berumur menjelang 40-an tahun. Tapi mengamen sendiri, tidak membawa anak.

Dia naik bus Jaya Utama dengan membopong sound system berukuran agak besar. Di dalam bus, dia mengamen dengan cara berkaraoke. Tidak hanya berusaha memberi suara bagus, dia juga berusaha betul membuat suasana bus menjadi asyik dengan goyangan dan gerak tubuh.

Dia seperti tidak peduli—mungkin juga saking terbiasanya—dengan cara si sopir membawa bus yang bisa mengancam nyawa penumpang. Tak sekalipun senyum lepas dari wajahnya. Dia juga tak menampakkan rasa terancam. Dia hanya fokus berdendang dan bergoyang sememikat mungkin. Agar para penumpang terkesan, lalu memberinya recehan.

Seberkas cahaya terang…

Setiap memasuki kota baru, selalu ada pengamen masuk. Usai melewati Kudus-Pati-Batangan dengan pengamen ibu-ibu, sepasang suami istri umur 40-an-50-an tahun masuk ketika bus Jaya Utama Surabaya-Semarang memasuki Rembang.

Si suami bertugas menggenjreng gitar bututnya. Sementara si istri fokus bernyanyi.

Mereka membawakan setidaknya tiga lagu Nike Ardilla. Saya hanya tahu judul lagu pembuka mereka: “Seberkas Sinar”.

Keduanya berlari dengan nada sama melengkingnya. Saling mengimbangi satu sama lain. Membuat suasana bus terasa seperti di tahun 80-an. Apalagi bus kemudian berjalan melambat. Duet pengamen itu membuat hati terasa “maknyes”.

Memasuki Rembang, bagi saya pribadi, memang seperti ada seberkas cahaya terang—sebagaimana penggalan lirik “Seberkas Sinar”. Karena artinya saya sudah tiba di kampung halaman, pulang ke pangkuan ibu yang tidak pernah satu detikpun berhenti saya rindukan tiap saya di perantauan.

Arti yang lain, saya akan lekas turun dari kegilaan bus Jaya Utama Surabaya-Semarang itu. Dan syukurnya saya masih diberi keselamatan. Berkali-kali diberi kesempatan hidup yang lebih panjang oleh Tuhan.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Naik Bus Ladju Ekonomi Surabaya-Jember: Takjub sama Jenis Penumpangnya, Bikin Waswas karena Banyak Hal Tak Terduga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 16 Juli 2025 oleh

Tags: bus jaya utamabus surabaya semarangJaya UtamaSemarangSurabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)
Pojokan

Lulusan S2 Jogja Ogah Menerima Tawaran Jadi Dosen, Mending Ngajar Anak SD di Surabaya: Gambaran Busuk Dunia Pendidikan Indonesia

12 Januari 2026
outfit orang Surabaya Utara lebih sederhana ketimbang Surabaya Barat. MOJOK.CO
Ragam

Kaos Oblong, Sarung, dan Motor PCX adalah Simbol Kesederhanaan Sejati Warga Surabaya Utara

8 Januari 2026
Kisah Bu Ngatimah, pekerja serabutan yang iuran BPJS Ketenagakerjaan miliknya ditanggung ASN Kota Semarang MOJOK.CO
Kilas

Kisah Bu Ngatimah: Pekerja Serabutan di Semarang dapat Fasilitas BPJS Ketenagakerjaan, Iurannya Ditanggung ASN

7 Januari 2026
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO
Ragam

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

7 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ketulusan Guru BK di SMP Pelosok Ponorogo MOJOK.CO

Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks

8 Januari 2026
Saya Sadar Betapa “Mengerikannya” Judi Bola Tarkam Setelah Mengobrol dengan Bandar Lokal.MOJOK.CO

Saya Sadar Betapa “Mengerikannya” Judi Bola Tarkam Setelah Mengobrol dengan Bandar Lokal

7 Januari 2026
MY Lawson, aplikasi membership yang beri ragam keuntungan ke pengguna MOJOK.CO

Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan

10 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)

Lulusan S2 Jogja Ogah Menerima Tawaran Jadi Dosen, Mending Ngajar Anak SD di Surabaya: Gambaran Busuk Dunia Pendidikan Indonesia

12 Januari 2026
literasi rendah di Papua dan upaya mahasiswa BINUS. MOJOK.CO

Tantangan Mahasiswa BINUS bikin Cerita Bergambar Soal Kehidupan Sehari-hari Anak Papua dan Guru Relawan

8 Januari 2026
19 Tahun Gempa Jogja dan Teror di Bangsal Rumah Sakit MOJOK.CO

19 Tahun Setelah Gempa Besar Mengguncang, Ingatan akan Teror di Sebuah Rumah Sakit Besar di Jogja Datang Kembali

8 Januari 2026

Video Terbaru

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.