Sebagai orang dari rumpun plat K (Rembang), selama ini saya sangat kenyang dengan beragam stereotip miring: pengendara paling ngawur di jalan raya. Namun, di Jombang, Jawa Timur, saya mendapati bahwa ternyata pengendara motor yang tidak kalah ngawur, yakni pengendara motor plat S.
***
Beberapa kali pulang ke Jombang, Jawa Timur, saya pikir saya akan mendapati jalanan yang tidak sebrutal di kampung saya, Rembang. Kalau berkendara di jalanan Rembang dan sekitarnya (Pantura), memang perlu sabar dan waswas betul dengan cara berkendara pengendara motor plat K.
Namun, setelah saya rasa-rasakan, ternyata kondisinya tidak jauh berbeda. Beberapa kali saya motoran menikmati Jombang Selatan yang hijau, saya berkali-kali menghadapi oknum pengendara motor plat S yang amat grasak-grusuk. Yang paling baru, saya bahkan nyaris diajak gelut oleh seorang pengendara motor itu.
Rusuh dengan pengendara motor plat S di jalan
Saya sedang mencari takjil di jalanan Jombang selatan pada suatu sore di hari-hari menjelang lebaran.
Jalanan Jombang selatan tengah padat sore itu. Apalagi jam menunjukkan pukul 17.21. Setelah berburu takjil, banyak orang tentu ingin buru-buru pulang. Karena sudah amat tergiur membasuh tenggorokan kering dengan es blewah dan mengisi perut dengan takjil hasil buruan.
Namun, jalanan sore itu teramat padat. Karena selain kerumunan manusia yang sedang berburu takjil di pasar sore, juga bersamaan dengan para pengendara yang tengah dalam perjalanan mudik.
Ditambah lagi dengan lampu merah dengan durasi tidak seimbang (merah lebih lama, tapi hijau lebih singkat), membuat laju kendaraan semakin terhambat.
Di momen itu, persis ketika motor saya berhenti di baris depan lampu merah, seorang pengendara motor plat S di belakang saya berkali-kali membunyikan klakson sembari berteriak nggatheli, “Isok cepet ora?! (Bisa cepat, nggak?!).”
Saya lalu membuka jalan, membiarkan si pengendara itu lewat. Tapi saya balas orang itu dengan teriakan, “Lampu merah Cak! Nek gupuh budalo wingi! Lampu merah, Cak! Kalau buru-buru berangkat kemarin!).”
Setelah melewati lampu merah. Orang itu berhenti. Berniat menghampiri saya. Saya memelototinya balik. “Ngerti merah nggak?”. Tapi keributan sore itu tidak terjadi karena orang itu keburu melanjutkan jalan usai disoraki pengendara-pengendara lain yang masih taat rambu lalu lintas.
Pengendara motor plat S tidak sabaran, nyeberang jalan suka-suka
Dua orang pengendara plat S Jombang lain yang saya tanya ternyata mengamini keresahan saya: bahwa memang ada oknum pengendara motor plat S yang tidak sabaran. Grasak-grusuk di jalan. Tidak kalah ngawur lah dari plat K.
Di antara yang mereka resahkan dari ketidaksabaran pengendara motor plat S adalah: suka tiba-tiba motong jalan.
Contoh kasusnya begini: plat S adalah salah satu nomor kendaraan yang banyak melintas di jalan raya Jombang-Surabaya. Model rute tersebut adalah jalan dua arah dengan pembatas jalan di tengah dan masing-masing arah beruas lebar (enak buat kebut-kebutan).
Nah, tidak sepanjang jalan ada pembatasnya di tengah. Ada pula bagian yang “lhos” tanpa pembatas: digunakan untuk putar balik atau nyeberang ke sisi jalan lain.
Di sinilah letak masalahnya. Kerap kali, ada pengendara motor plat S yang kalau nyeberang jalan cenderung tidak hati-hati. Tapi asal serobot. Alhasil, membuat pengendara dari arah lain yang memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi harus berkali-kali memencet klakson sekaligus ngerem mendadak karena takut terjadi tabrakan. Dan situasi tersebut ternyata menjadi pemandangan normal.
Tidak hanya itu, ada juga oknum yang asal-asalan kalau keluar gang. Di rute Jombang ada banyak gang/gapura kampung yang langsung terhubung ke jalan raya.
Nah, sering kali ada pengendara motor plat S yang kalau keluar gang tidak lihat kanan-kiri dulu dan berhenti terlebih dulu sebelum masuk jalan raya. Yang ada: keluar gang langsung masuk jalan raya, membuat pengendara kaget karena tidak menduga.
Itu kalau jarak antara pengendara di belakang dengan pengendara motor yang keluar dadakan di gang depan terlalu dekat, bisa jadi tubrukan.
Serobat-serobot tidak tahu fungsi klakson
Ketidaksabaran oknum pengendara motor plat S juga tergambar dari betapa grasak-grusuknya mereka saat melaju di jalan raya. Hobinya serobat-serobot. Seolah menjadi orang paling buru-buru di dunia.
Contoh dari dua orang yang saya tanya tadi: misalnya ingin menyalip, ada saja pengendara motor plat S yang “malas” memberi tanda lain kalau ia hendak menyalip.
Masalahnya, ternyata sama saja dengan pengendara motor plat K, ada pengendara motor plat S—terutama di jalanan Jombang—yang hobi nyalip dari kiri.
Pokoknya tiba-tiba nyerobot dari sisi kiri. Membuat pengendara yang disalip kaget dan gedandapan. Karena kalau saja pengendara yang disalip itu jalan ke kiri sedikit saja persis ketika pengendara di belakang menyalip dari kiri, maka tabrakan tidak akan terhindarkan.
Saya sendiri beberapa kali mengalaminya. Kalau disalip mak bedunduk seperti itu, saya langsung merinding. Kalau saja saya tidak punya kebiasaan ngecek spion kalau mau pindah-pindah jalur, bisa-bisa saya oleng diseruduk.
Tak paham sein dan tanda orang mau nyeberang, tak suka ngalah
Kecenderungan grasak-grusuk, buru-buru, dan serobat-serobot itu dilengkapi dengan cara berkendara yang seolah tidak paham lampu sein dan tanda orang mau nyeberang.
Ini saya alami sendiri. Beberapa kali, padahal sudah menyalakan lampu sein tanda akan ke seberang sejak beberapa meter (tidak dadakan), ada saja yang tetap nyerobot dengan kecepatan tinggi. Membahayakan sekali. Maka beberapa kali saya mencoba menepi dulu saja, menunggu jalan sepi, lalu baru menyeberang.
Tapi persoalannya tidak berhenti di situ. Sebab, setelah menepi dulu, untuk nyeberang jalan justru akan semakin sulit. Karena pengendara-pengendara motor plat S di jalanan Jombang ini—karena kecenderungan buru-buru dan tidak sabarannya—seperti tidak paham tanda orang mau nyeberang.
Jadi, alih-alih memberi kesempatan orang nyeberang, banyak dari mereka yang justru tetap melaju kencang-kencang. Maka, saya kerap nekat langsung memotong jalan sembari memberi tanda. Namun, itu artinya saya harus siap menerima berondongan klakson. Hash. Plat K memang ngawur, tapi ini sih tidak kalah ngawur.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Pengendara Plat K Tak Paham Fungsi Zebra Cross-Spion, Cuma Jadi Pajangan dan Abaikan Keselamatan Orang saat Bawa Kendaraan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













