Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Memelihara Kucing Membuat Saya Menjadi Manusia: Tak Saling Bicara, tapi Lebih Memahami ketimbang Sesama Manusia

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
26 Maret 2026
A A
Kucing, hewan peliharaan

Ilustrasi - Kucing, hewan peliharaan (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sedari umur lima tahun, atau lebih awal dari ingatan saya itu, saya sudah lebih akrab dengan hewan ketimbang manusia. Khususnya, kucing.

Circa 2007, di sebuah perumahan guru yang ditempati ibu dari ayah, anak-anak kucing (kitten) berkeliaran sampai sepuluh ekor—hasil dari hanya satu kucing domestik yang diadopsi di hunian yang terbuat dari kayu ulin itu. Mereka menjadi bagian dari rumah, juga penghuni yang sebelumnya sudah berjumlah delapan orang.

Kala itu, setiap kali menyambangi kediaman mereka, saya dan saudara akan berlomba-lomba menggendong kitten sebanyak yang kami bisa.

“Aku dua.”

“Aku empat!”

Bisa jadi, begitu percakapan anak umur lima tahun yang saling pamer bisa mengangkat banyak bayi berbulu sekaligus dibanding yang lainnya.

Sungguh, kekanakan. Namun, dari sinilah kiranya kecintaan terhadap hewan ini bermula.

Dari sekian hewan piaraan yang pernah singgah: ikan, keong, burung merpati, kura-kura, kelinci, hanya kucing yang masih bertahan menghuni rumah saya.

Untuk alasan personal, mereka menetap lebih lama karena mereka telah berubah dari sekadar hewan menjadi alasan saya mampu hidup sebagai manusia.

Kedekatan emosional dan irasional terhadap kucing

Saban hari, begitu membuka mata, saya tidak akan membuka ponsel atau berbicara kepada siapapun. Aktivitas apa pun ditunda sampai saya menemukan kucing di rumah dalam kondisi sehat dan menunggu diberi makan.

Kalau sudah begitu, kebutuhan mereka adalah prioritas.

Mau satu dunia menunggu, bisa saya katakan kalau kucing saya juga melakukan hal yang sama, maka mereka akan lebih dulu mendapatkannya.

Begitu juga saat berada jauh dari rumah. Hanya karena tidak berada di tempat yang sama, bukan berarti mereka akan lepas dari pantauan.

Memanfaatkan kecanggihan teknologi, saya bisa melihat mereka yang melengos karena sebenarnya tidak terlalu acuh terhadap saya, melalui panggilan video.

Iklan

“Bisa-bisanya, orang kok video call sama kucing,” begitu kata salah seorang teman yang keheranan melihat saya menghubungi kucing, bukan hanya satu dua kali.

Bahkan, isi panggilan bersama keluarga kira-kira akan seperti ini:

“Kucing mana?”

“Dudung (nama kucing) sudah pulang? Sudah pada makan?”

“Mereka makan apa hari ini?”

“Mau lihat Kecil (kucing saya yang lain) dong.”

Namun, kedekatan saya dan kucing yang jumlahnya kian bertambah itu terlampau emosional—hampir irasional, sebab saya merasa lebih nyaman menghabiskan waktu bersama kucing ketimbang manusia.

Sebuah penelitian menemukan, keterikatan emosional yang kuat pada hewan peliharaan dikaitkan dengan kenyamanan yang lebih rendah kepada orang lain, menandakan ketakutan besar seseorang untuk ditolak dan tidak dicintai. Ini mengarah pada beban kesehatan mental yang lebih tinggi.

Kalau diterjemahkan dalam bahasa yang lebih sederhana, ikatan emosional pemilik dan kucing disebabkan cinta yang terasa setara dan berbalas, meski dalam bahasa yang tidak sama. Lain hal dengan manusia, kecemasan akan proporsi yang berbeda seakan-akan selalu ada.

Merasa diterima oleh kucing

Penulis John Amodeo mengatakan, kucing bisa membuat kita merasa diterima. 

Kucing menunjukkan rasa senang terhadap kehadiran fisik manusia di sekitarnya, melalui dengkuran atau mereka yang berguling—menunjukkan bagian sensitifnya. Bagi John, seolah-olah hewan berkaki empat ini memercayai manusia dengan mudah dan sepenuh hati.

“Seolah mengatakan, ‘Aku percaya padamu. Beri aku sedikit cinta dan merasa nyaman’,” katanya, seperti dilansir dari Psychology Today, Kamis (26/3/2026).

Ia bilang, apabila manusia memberikan perlakuan itu, mereka akan membalasnya dengan berperilaku menerima tanpa mengharap imbalan.

Lupa memberi makan sekalipun, kata John, mereka tidak akan protes dan tetap bersama pemiliknya sampai akhir.

“Mereka membiarkan masalah begitu. Mereka hanya ada di sini bersama kita sekarang,” kata dia.

Sebagai pemilik kucing juga, saya bisa mengonfirmasi hal ini. Ada kalanya waktu makan akan mengalami kemunduran karena urusan lain yang memakan waktu lebih lama, tapi mereka hanya akan melayangkan protes kelaparan. Lalu, sudah.

Begitu juga, semisal ekornya tidak sengaja terinjak, paling-paling berteriak. Kemudian, selesai.

Dibandingkan dengan manusia yang bisa jadi mengungkit-ungkit kesalahan kecil, padahal belum tentu menerima seutuhnya sejak awal, kucing terdengar lebih baik.

Lebih baik sebagai manusia

Namun kemudian, kehadiran kucing yang selalu membuat hari-hari saya terasa lebih baik membuat saya menjadi lebih baik kepada manusia. Setidaknya, saya dapat menahan rasa kesal terhadap sesama, lalu meluapkannya dengan berkeluh-kesah kepada kucing yang akan diam sebagai yang terkena imbasnya, harus mendengarkan.

Ini juga alasan penelitian menunjukkan bahwa kucing dapat menyembuhkan manusia, tidak hanya mental, tetapi juga fisik. Sebuah penelitian selama 10 tahun menunjukkan pemilik kucing lebih kecil kemungkinannya untuk meninggal karena serangan jantung daripada orang-orang yang belum pernah memilikinya. 

Kelompok terakhir 40 persen lebih mungkin meninggal karena serangan jantung dan 30 persen lebih mungkin meninggal karena penyakit kardiovaskular. 

Penelitian lain juga mengonfirmasi bahwa hewan peliharaan ini dapat menurunkan tekanan darah kita dan melepaskan dopamin dan serotonin, yang mengurangi stres dan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh.

Selain itu, perasaan lebih mampu menjadi manusia dalam kehidupan sehari-hari berkat kucing juga bukan tanpa alasan. Mereka membantu melepas oksitosin, yang berhubungan dengan perasaan jatuh cinta.

Sebagaimana cinta menyembuhkan, perasaan memiliki dan mengetahui bahwa diterima oleh kucing menimbulkan ketenangan tersendiri dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 26 Maret 2026 oleh

Tags: biaya pelihara kucingbudak kucingcara memelihara kucinghewan peliharaankomunitas pecinta kucingkucingmemelihara kucingMerawat Kucing
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Cat therapy di Jalan Tunjungan Surabaya yang merawat 12 kucing. MOJOK.CO
Sosok

Kisah Pemilik “Cat Therapy” di Jalan Tunjungan, Rela Tinggalkan Rumah agar Bisa Merawat 12 Kucing dan Bikin Keluarga Kecil yang Bahagia

26 Maret 2026
Trauma memelihara kucing sampai meninggal. MOJOK.CO
Sehari-hari

Trauma Pelihara Kucing: Penuhi Ego di Masa Kecil, Saat Dewasa Malah Merasa Bersalah usai Anabul Kesayangan Mati

26 Maret 2026
Memelihara kucing.MOJOK.CO
Catatan

Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya

20 Maret 2026
Kucing peliharaan anak kos Jogja
Catatan

Anak Kos Jogja Pilih Hidup Miskin demi Hidupi Kucing, Lebih dari Setengah Gaji Habis untuk Piaraan

11 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

21 Maret 2026
Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja lebih buruk dari Stasiun Lempuyangan. MOJOK.CO

Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

25 Maret 2026
Kerja di Jakarta gaji 5 juta sebenarnya cukup saja bagi perantau. Tapi yang dirampas dari mereka jauh lebih banyak MOJOK.CO

Kerja Gaji 5 Juta di Jakarta Sebenarnya Cukup-cukup Saja. Tapi yang Direnggut dari Kita Lebih Besar, Hidup Jadi Tak Normal

24 Maret 2026
Bukan Cuma Gaji Kecil, Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja Juga Mesti Siap dengan Budaya Pekewuh yang Memperlambat Kerjaan Mojok.co

Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan

22 Maret 2026
Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang MOJOK.CO

Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

20 Maret 2026

Video Terbaru

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

23 Maret 2026
Tiyo Ardianto BEM UGM: Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

Tiyo Ardianto: BEM UGM dan Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

23 Maret 2026
Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.