Kos-kosan di Jogja ada berbagai variasi. Bukan hanya murah dan eksklusif, bujet yang berada di antaranya juga masih masuk. Sayangnya, kos “medioker” di Jogja yang ini sering serbananggung dalam segalanya.
***
Sudah empat kali saya pindah-pindah kos selama di Jogja. Selama itu juga, rasanya harus ada kelas menengah dalam kasta kos-kosan di Jogja, sebut saja sebagai kos “medioker”. Sebab, harganya lebih mahal dari Rp600 ribu, tetapi lebih murah dari Rp1 juta.
Masalahnya, kalau untuk kos-kosan dengan biaya sewa Rp1 juta ke atas, fasilitas pasti diusahakan lengkap. Namun, untuk biaya di bawahnya, fasilitas serupa belum tentu ada—bahkan, nggak jarang dianggap nggak perlu ada.
Kos “medioker” di Jogja yang serbananggung
Dalam memahaminya, kos medioker itu bukan kos murah. Namun, juga bukan kos eksklusif. Mojok pernah menelusuri kos eksklusif di Jogja yang rentang biaya sewanya mematok Rp1-3 juta.
Sementara itu, biaya sewa yang berada di bawahnya, tetapi juga tidak bisa disebut murah, adalah yang dikatakan sebagai kos medioker. Ia tidak bisa dikatakan murah, tetapi juga tidak mahal. Itulah kos ketiga saya sebelum berpindah setelah 6 bulan tinggal di sana.
Saat itu, sekitar tahun 2023, saya dikabari ada kamar kosong di sebuah kos di wilayah Deresan, Sleman, Jogja. Kos ini mempunyai kamar mandi dalam dan ditanggung listriknya. Tersedia kasur dan lemari kecil. Harganya Rp900 ribu per bulan.
Awalnya, saya pikir ini adalah tawaran yang menarik. Terlebih, kos saya yang berlokasi di Pogung sebelumnya mematok biaya sewa Rp1,3 juta—tentu dengan fasilitas berbeda, tetapi saya kira tidak akan jauh beda.
Namun tidak lama setelah itu, saya dibuktikan salah. Harga kos-kosan ini ternyata menandai kondisi serbasalahnya sebagai kos menengah. Fasilitasnya tidak benar-benar dipenuhi: kamar mandi terlalu kecil, kasur hanya busa yang bisa mendelep di satu sisi, dan sirkulasi udara tidak benar-benar diperhatikan.
Masalah bersama kos “medioker” yang tidak kebagian sinar matahari
Permasalahan serupa dialami Rosa (23) yang harus membayarkan biaya sewa sebesar Rp850 ribu per bulan untuk satu kamar kos di Jalan Kaliurang km 5. Dengan biaya ini, Rosa bahkan tidak dipenuhi kebutuhan dasarnya, yaitu sirkulasi udara yang lancar.
Ibarat kata, ada jendela di kos nanggung itu berkah. Nggak ada, ya sudah.
Tapi masalahnya, tanpa matahari atau udara yang cuma bisa masuk lewat celah, kamar kos akan menjadi lembab. Kondisi ini memungkinkan kos menjadi sarang berbagai bakteri, kuman, dan virus penyakit berbahaya, yang bisa berujung pada infeksi paru.
“Kondisi ruangan yang lembab dan tidak memiliki ventilasi bisa memicu terjadinya infeksi paru, karena kuman dan jamur sangat suka tinggal di tempat yang lembab. Kalau sirkulasi udaranya tidak bagus, berarti kuman akan berada di situ-situ saja dan siap menjangkiti para penghuninya,” kata dr. Atika, seperti dikutip dari KlikDokter.
Bayang-bayang kamar lembab ini menghantui Rosa selama masa awal kosnya. Persoalannya, kondisi ini disadari sebagai masalah yang sudah tahu akan ada, tetapi diabaikan sedari kos masih dibangun.
Kosnya terletak di antara rumah-rumah yang saling menempel satu sama lain sehingga menutupi cahaya matahari. Baginya, kondisi ini memblokir akses matahari dan membuat udara di sekitar terasa lebih pengap.
“Kosnya lembab karena kosku letaknya di pemukiman padat penduduk,” kata Rosa, Kamis (19/2/2026).
“Jadi, kayak kurang sinar matahari ini awal-awalnya bikin aku stres juga,” bebernya.
Baca halaman selanjutnya…
Kos harga hampir elite, fasilitas sulit














