Harga hampir elite, fasilitas cenderung sulit
Bukan hanya itu, fasilitas dari kos ini juga tidak sepenuhnya memadai. Memang, ada kamar mandi dalam yang sepertinya menjadi syarat utama dari kos di Jogja dengan harga di atas Rp600 ribu.
Namun, sebagai kos yang harganya lebih dekat dengan kos “mahal” alih-alih murah, fasilitas yang diberikan justru condong pada kos-kosan murah di Jogja.
Bayangkan saja, kos Rosa tidak dilengkapi ruang tamu, dapur, maupun ruang cuci. Biaya sewanya disetorkan penuh seakan-akan hanya untuk yang tersedia di dalam kamar, yang juga tidak begitu menakjubkan.
Di kamar berukuran 3×4-nya, Rosa hanya bisa tidur di atas kasur tanpa dipan. Baju-bajunya pun hanya ditampung dalam lemari kecil yang sering kepenuhan.
“Dari fasilitas sih, ini lebih deket ke kos murah. Karena kalau bayanganku, kos eksklusif biasanya akan ada ranjangnya, sementara kasurku napak lantai,” katanya.
Pengalaman yang sama juga dirasakan Ifroh (23). Ia harus membayarkan biaya yang terbilang lebih mahal, yaitu Rp1 juta, tetapi tidak juga merasakan yang namanya fasilitas dapur seutuhnya di sebuah kos.
“Kosku Rp1 jua, tapi dapurnya nggak ada kompor dan peralatan dapur. Kita perlu bawa masing-masing,” katanya.
Menurut Ifroh, hal ini tidak sepadan dengan biayanya. Ia telah menggelontorkan uang agar menjadi lebih mudah, atau ibaratnya “tinggal bawa badan”. Namun nyatanya, ia harus membeli alat masak sendiri jika ingin berhemat dengan memasak atau sekaligus saja membeli makanan di luar.
“Cuman dikasih fasilitas tempatnya doang jadi agak repot kalau nggak punya wajan atau kompor atau lain-lain. Harus beli dan nggak semuanya mau, itulah aku yang nggak mau karena ngerasa nanggung kan jarang masak, sesekali juga mending beli,” bebernya.
Sudah bayar lebih mahal dari kos murah di Jogja, tapi bahaya masih menanti
Rosa merasa tidak terlalu bermasalah dengan fasilitas nanggung kos nanggung ini. Ia bilang, sudah bisa berdamai karena sudah menjadi penghuni tetap selama lebih dari 4 tahun.
Namun yang masih mengganjal sampai hari ini, selain kenyamanan, adalah keamanan yang juga rawan.
Kosnya terletak di dalam gang sempit yang hanya cukup dilalui oleh satu motor. Ketika dicoba dengan manusia pun, akan sulit bagi dua orang berjalan bersama sekaligus. Ini menjadi masalah karena akses jalan yang hanya bergantung pada satu jalur.
Menurutnya, hal ini berisiko apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Khususnya, di Jogja yang rawan bencana. Juga, riskan atas kejadian yang membahayakan.
“Amit-amit ada kebakaran atau sesuatu, aku cuma punya satu akses dan keluar lewat gang kecil itu,” kata Rosa.
“Tapi, depan kos bahkan bisa banjir. Lho, saluran airnya nggak ada,” protesnya lagi.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA Bebas dan Nyaman, Kos Eksklusif Menjamur di Jogja, Kaum Mendang-mending Minggir Dulu dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














