Sebagai generasi Z (gen Z), saya tahu beberapa teman sudah menyerah dengan cita-cita bahwa mereka akan hidup dengan tenang dan damai pada usia tua. Sebagian mulai menyadari bahwa slow living mustahil, kemudian mencoba berdamai dengan soft living.
Meski sebelumnya, artikel Mojok pernah menuliskan mengenai cita-cita gen Z yang ingin slow living seperti kebanyakan orang. Dalam artikel yang sama bisa ditemui realitas bahwa generasi ini masih harus bekerja keras, bahkan side hustle.
Kalau sudah begitu, mimpi indah di usia tua tanpa beban hidup hanya menjadi angan-angan.
“Mungkin [slow living] lebih ke hidup, tapi nggak ngejar apa-apa,” kata Jatayu, dikutip Rabu (22/4/2026).
“Sekarang kita nggak slow living karena banyak yang dikejar,” tambah dia.
Gen Z hidup dengan sejuta mimpi untuk dikejar
Seperti yang dikatakan Jatayu, gen Z nyatanya memiliki banyak keinginan untuk diwujudkan. Tentu, hidup tenang menjadi salah satu di antaranya.
Berdasarkan hasil riset yang dirilis pada 2022, gen Z menempatkan menabung untuk masa depan sebagai prioritas kedua. Namun bersama daftar prioritas ini, ada banyak prioritas lain yang mengikutinya. Artinya, gen Z memiliki banyak mimpi untuk dikejar, serta dipenuhi sebelum dapat mewujudkan gaya hidup slow living.

Survei menunjukkan bahwa penempatan orang tua sebagai prioritas utama gen Z dipengaruhi oleh riset yang dilakukan dalam rentang waktu berdekatan dengan pandemi Covid-19. Sementara itu, prioritas masa depan mulai terlihat pada peringkat kedua dan seterusnya.
Dari 11 prioritas hidup tersebut, hanya 4 di antaranya yang mencerminkan bahwa gen Z akan memperlambat langkah mereka dalam menjalani hidup, seperti halnya melalui keinginan fleksibel bekerja, menikah dan berkeluarga, travelling, serta menjadi lebih religius. Bahkan, keinginan memiliki anak berada pada prioritas terakhir.
Soft living menjadi bentuk menyerah paling dapat diterima gen Z untuk tenang
Karena banyaknya keinginan untuk diwujudkan, ketenangan menjadi nomor sekian. Inilah yang kemudian mendorong perubahan rencana, setidaknya untuk gen Z, agar bisa soft living.
Soft living adalah gaya hidup yang memprioritaskan kenyamanan, ketenangan, dan kesejahteraan diri tanpa harus mengejar sukses yang besar atau menjadi ambisius dalam mencapai segalanya.
Gaya hidup ini bisa dimulai melalui langkah kecil, secara perlahan. Alon alon, tapi pasti, begitu mengutip kata salah seorang dosen yang saya hormati. Maka, bagi saya, soft living menunjukkan kesadaran bahwa hidup tidak harus selalu berjuang keras untuk dapat dikatakan berhasil atau cukup.
Bisa jadi, cukup adalah cukup.
Dengan mengetahui kata cukup atau melambat pada waktu tertentu, ini dapat mengurangi rasa cemas akan ketinggalan dan hal-hal lainnya. Data menunjukkan, gen Z menjadi generasi dengan kecemasan paling tinggi.
Pekerja asal Jakarta, Lala (24), mengatakan bahwa soft living telah menjadi salah satu caranya untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih nyaman. Ia bilang, di antaranya diterapkan melalui membuat batasan energi, menikmati waktu sendiri dan hal-hal kecil, tidak merasa bersalah saat beristirahat, dan menerima bahwa tidak semua hal dapat dikontrol.
“Overall kurasa, aku menerapkan soft living,” kata dia, Rabu (22/4/2026).
Dalam hal pertemanan, misal, Lala mengaku tidak merasa overthinking atau mengikuti setiap kesempatan bersama teman-temannya. Ia tidak lagi merasa cemas akan ketinggalan atau ditinggalkan.
“Aku yakin aja temanku nggak akan jadiin aku outsider for being jarang nongkrong,” kata dia.
Hidup tidak muluk-muluk dengan soft living
Cerita lain datang dari Cornelia yang juga memutuskan untuk melangkah perlahan demi ketenangan. Melansir dari Business Insider, perempuan ini sempat tinggal bersama orang tuanya saat menunggu perpanjangan visa.
Awalnya, ia pikir hanya akan tinggal selama satu bulan, tetapi malah bertahan lebih lama.
Cornelia bercerita, lima bulan tersebut menjadi salah satu pengalaman terbaik untuknya.
“Masa tinggal selama lima bulan kerasa kayak ada di penginapan serba lengkap,” kata dia.
Hal itu bisa didapatkannya hanya dengan tinggal bersama orang tua. Ia tidak perlu membayar sewa atau makanan karena ada ibu yang akan selalu memasak untuknya. Ia juga menjadi lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.
Cornelia menyadari bahwa dirinya tidak harus selalu mengerahkan seluruhnya untuk dapat merasakan hal yang baik. Bahkan, tinggal bersama orang tua tidak menandakan dirinya mengalami kemunduran atau sejenisnya, melainkan mengambil jeda yang juga memberikan ketenangan untuknya.
Sebab, soft living adalah tentang menikmati hidup dengan cara yang tidak muluk-muluk.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Gen Z Jadi Kambing Hitam Generasi Senior, Dicap Lembek dan Tak Bisa Kerja padahal Perusahaan yang “Red Flag” dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan