Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Katanya Bagian Terberat bagi Bapak Baru saat Hadapi New Born adalah Jam Tidur Tak Teratur. Ternyata Sepele, Yang Berat Itu Rasa Tak Tega

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
18 Desember 2025
A A
Bagian terberat orang tua baru saat hadapi anak pertama (new born) bukan bergadang, tapi perasaan tak tega MOJOK.CO

Ilustrasi - Bagian terberat orang tua baru saat hadapi anak pertama (new born) bukan bergadang, tapi perasaan tak tega. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hari-hari menjelang kelahiran anak pertama, beberapa teman—yang sudah lebih dulu menjadi bapak—mewanti-wanti saya: Bagian paling berat dalam menghadapi new born di satu bulan pertama adalah persoalan jam tidur yang sangat tidak teratur.

Tulisan ini ditulis pada hari ke-15 kelahiran anak pertama saya. Apa yang diwanti-wanti beberapa teman memang benar: Jam tidur saya dan istri amat tidak teratur. Tapi ternyata itu bukan bagian paling berat yang harus dilalui dalam menghadapi new born.

Saya memang baru menjadi bapak. Sementara banyak orang di luar sana sudah jauh lebih senior dari saya dalam menjalani peran baru ini. Sehingga, tulisan ini mungkin terdengar agak norak.

Tapi saya hanya ingin sekadar berbagi cerita, ada hal-hal lain yang ternyata jauh lebih berat ketimbang persoalan bergadang di bulan pertama saat kelahiran anak pertama. Yakni persoalan ketidaktegaan.

Tetes demi tetes ASI untuk anak pertama

Jauh sebelum proses melahirkan, saya dan istri sebenarnya sudah memahami bahwa di tiga hari pertama pasca kelahiran anak pertama, ASI masih akan sulit keluar. Dan selama itu pula bayi masih punya cadangan energi dan nutrisi.

Harusnya saya bisa bersabar menunggu tiga hari berlalu. Sebagaimana juga dikatakan oleh perawat di rumah sakit tempat anak pertama kami lahir.

Kenyataannya, baru di hari kedua, saya sudah tak tahan. Air mata saya selalu tumpah tiap melihat betapa susah payahnya istri saya mencoba mengeluarkan ASI untuk bayi kami.

Tiap dua jam sekali—sebagaimana dianjurkan—ia harus menekan-nekan payudaranya, berharap ada ASI yang mengucur deras untuk diteguk bayi new born kami. Namun, yang keluar hanya setetes kecil.

Persoalannya, ada kendala di bagian puting sang ibu yang membuat anak pertama kami tidak bisa langsung menyedot ASI dari sumbernya. Pakai alat bantu pun masih tak bisa. Alhasil, istri saya harus menyendok tetes demi tetes kecil ASI yang keluar, lalu disuapkan ke bayi kami yang tak henti-henti menangis.

Rasanya berat sekali menyaksikan istri susah payah mengeluarkan ASI, sementara si bayi terus-menerus menangis karena tak bisa meneguknya dengan leluasa. Hanya mencecap setetes-setetes saja.

Di hari ketiga, situasinya masih sama. Saya hampir memutuskan untuk membeli susu formula saja. Saya sudah tak tahan melihat istri saya kepayahan.

Namun, istri saya justru berbisik, “Ingat cerita Ibu Hajar dan Nabi Ismail?” Saya tercenung agak lama. Ingatan pada kisah kenabian itu membuat saya sedikit tak panik, tapi tetap tak tega melihat istri dan anak pertama kami.

Tidak tega melihat peran rangkap istri, bikin merasa bersalah

Sepulang dari rumah sakit, ternyata tidak ada yang berat dari bergadang dan tidur tak teratur. Saya terbiasa jarang tidur kalau sudah larut dalam pekerjaan. Sementara istri saya juga terbiasa menyedikitkan jam tidurnya untuk “aktivitas vertikal”.

Di sisi ini, sebagai bapak baru, sungguh tidak seberat yang diwanti-wantikan oleh beberapa teman. Siaga 24 jam mendampingi istri tiap si bayi new born kami terbangun-bangun di tengah malam rasanya biasa saja.

Iklan

Adapun yang membebani batin saya adalah justru ketidaktegaan melihat istri merangkap banyak peran sekaligus: Sebagai suami sekaligus ibu baru, dan lain-lain di rumah tangga.

Saya berkali-kali bilang, saya bisa urus diri saya sendiri. Sesimpel urusan mencuci pakaian misalnya. Biar lah kamu (istri saya) fokus mengurus anak pertama kami. Urusan pakaian biar saya yang bereskan.

Namun, ia memang bebal dalam soal “bakti”. Ia selalu bisa diam-diam mengerjakan banyak pekerjaan rumah. Lalu kembali mengurus bayi kami. Sementara ia masih harus beradaptasi dengan banyak hal sebagai ibu baru. Belum lagi menahan nyeri pada jahitan bekas operasi di perut.

Di titik itu juga saya terpukul oleh rasa bersalah: Barangkali saya masih belum bisa memberinya kehidupan yang mewah dan rasa bersalah-rasa bersalah lain sebagai seorang suami. Termasuk rasa bersalah karena kerap membiarkannya sendirian, kala saya larut dalam pekerjaan.

Tak tega meninggalkan istri dan anak pertama

Pekerjaan sebagai reporter membuat saya kerap harus meninggalkan istri sendirian di rumah. Begitu pula saat ia hamil, malah amat sering saya bertugas ke luar kota. Saat itu rasanya biasa saja. Memang begini lah konsekuensinya.

Namun, rasanya berbeda ketika manusia mungil itu lahir. Sekadar menatap wajahnya yang lugu saat tertidur, atau mata beningnya yang mengerjap-erjap saat terbangun, hati saya mendadak pilu.

Ah, rasanya berat sekali kalau mau pergi-pergi. Sementara jatah cuti kerja saya untuk menemaninya 24 jam saban hari sudah hampir habis.

Saya sangat tidak tersiksa kalau bocah mungil itu memaksa saya bergadang saban malam hingga Subuh. Sungguh itu sepele belaka. Tapi saya tak membayangkan, betapa tersiksa saya nanti oleh perasaan kangen tiap kali meninggalkannya bekerja. Lebih-lebih jika ke luar kota berhari-hari.

Seiring itu juga muncul perasaan tak tega pergi-pergi bertugas meninggalkan istri. Padahal sebelum-sebelumnya sudah amat biasa.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Rahasia Nenek Lebih Sayang Cucu ketimbang ke Anak Sendiri: Menebus Lubang Masa Lalu meski Lewat Uang Saku Rp10 Ribu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 18 Desember 2025 oleh

Tags: anak pertamabayimelahirkannew born
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Perayaan Mati Rasa. MOJOK.CO
Catatan

Memahami Beban Anak Sulung yang Penuh Luka dan Sembuh berkat Kejujuran

17 Februari 2025
Keluhan Terpendam dari Anak Pertama untuk Ibu yang Tak Pernah Mengajaknya Ngobrol MOJOK.CO
Kilas

Keluhan Terpendam dari Anak Pertama untuk Ibu yang Tak Pernah Mengajaknya Ngobrol

14 Desember 2023
perempuan anak pertama mojok.co
Uneg-uneg

Uneg-uneg dari Perempuan Anak Pertama

13 November 2022
stunting mojok.co
Kesehatan

Angka Stunting di DIY Masih 17,3 Persen, BKKBN Minta 1.000 Bidan Intervensi

12 September 2022
Muat Lebih Banyak
Tinggalkan Komentar

Terpopuler Sepekan

Tinggal di kos murah Taman Siswa (Tamsis) Jogja: Malam-malam ada suara ceplak-ceplok, saling pukul di kamar, hingga terusir gara-gara sengketa warisan MOJOK.CO

Sewa Kos Rp350 Ribu Berdinding Triplek di Tamsis Kota Jogja, Bonus Suara “Ceplak-ceplok” Tengah Malam hingga Terusir Gara-gara Sengketa Warisan

6 Januari 2026
Resign kerja di Jakarta pilih di Bali. MOJOK.CO

Baru Satu Tahun Kerja di BUMN, Pilih Resign karena Nggak Kuat “Ugal-ugalan” di Jakarta sampai Temukan Peluang Karier Lebih Baik di Bali

6 Januari 2026
Gema bahagia di Film "Tinggal Meninggal".MOJOK.CO

Film “Tinggal Meninggal” Bukan Fiksi Biasa, tapi Realitas Sosial Orang Dewasa yang Caper agar Diakui di Lingkaran Pertemanan

3 Januari 2026
Kota Semarang coba tak sekadar melawan air untuk atasi banjir MOJOK.CO

Kota Semarang Coba Tak Sekadar Melawan Air untuk Atasi Banjir, Tapi Pakai Cara Fisika dan Wanti-wanti Kelalaian Sosial

5 Januari 2026
Plat Nomor B Bikin Dosa (Lagi) di Jogja, Bikin Malu Saja (Unsplash)

Arogansi Plat Nomor B Terjadi Lagi di Jogja, Kali Ini Nekat Membuka Separator yang Sudah Ditutup Polisi karena Malas kena Macet

3 Januari 2026
Budaya “Jatah Ciu” kepada Pemuda Desa Dianggap Manifestasi Srawung, tapi Tak Cocok Untuk Semua Orang MOJOK.CO

Budaya “Jatah Ciu” kepada Pemuda Desa Dianggap Manifestasi Srawung, tapi Tak Cocok Untuk Semua Orang

6 Januari 2026

Video Terbaru

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
5 Video Mojok Terpopuler 2025: Manuskrip Jawa hingga yang Membuat Tawa  MOJOK.CO

5 Video Mojok Terpopuler 2025: Manuskrip Jawa hingga yang Membuat Tawa 

1 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.