Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Angkringan Penuh Cerita di Parangtritis Jogja: Tertipu, Kemalingan Gorengan, hingga Menolong LC Kelaparan dan Kucing-kucing Liar

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
26 Januari 2025
A A
Cerita dari angkringan di Parangtritis Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi - Cerita dari angkringan di Parangtritis Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setelah bolak-balik di kawasan Parangtritis, Jogja, Minggu (29/12/2024), saya memutuskan mampir di sebuah angkringan di tepi jalan. Pukul 18.30 WIB, perut saya sudah keroncongan. Sementara sosok yang saya cari sejak sore belum juga ketemu.

Atas rekomendasi warga lokal di Parangtritis, Jogja, saya mencatat nama seorang “legenda” di sana: seorang perempuan paling berpengaruh dalam dunia per-LC-an di Parangtritis. Sialnya, si pemberi rekomendasi tidak memberikan alamat persis si perempuan legendaris.

“Nanti kalau keluar pantai, tanya saja sama orang sekitar,” begitu pesan si pemberi rekomendasi.

Baik. Itu pun yang akhirnya saya lakukan. Sejak keluar dari kawasan pantai, hampir setiap rumah dan toko saya hampiri untuk bertanya alamat si perempuan legendaris di Parangtritis, Jogja, tersebut.

Raut wajah mereka memberi respons yang sama: kaget. Sebagian langsung menjawab, “Tidak tahu, tanya yang lain saja.”

Sementara yang lain mempertanyakan, ada urusan apa saya mau bertemu dengan perempuan legendaris itu? Saya jawab dalam dua versi. Versi jujur (ada keperluan liputan) dan versi pura-pura (pura-pura ada urusan bisnis). Namun, dua jawaban saya tersebut tak membuat orang-orang yang saya temui mau buka mulut perihal alamat si perempuan yang saya cari.

Ketika mampir di angkringan di kawasan Parangtritis, Jogja, itu, ada setidaknya dua laki-laki dewasa yang nongkrong dan ngobrol ngalor-ngidul. Sambil menyantap gorengan, saya tanyakan hal yang sama dengan mereka.

Mereka semua tahu nama yang saya sebut. Tapi mereka malah menyarankan agar saya mengurungkan niat saya untuk bertemu dengan si perempuan. Ah, ya sudah, saya santai dulu saja di angkringan.

Kopi-kopi yang Dika jual MOJOK.CO
Kopi-kopi yang Dika jual. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Mengejar maling untuk dikasih makan

Para laki-laki itu lantas pergi. Tinggal saya dan pembeli baru: dua ibu-ibu. Kedua ibu-ibu itu tampak akrab sekali dengan si penjual angkringan, yang kemudian saya tahu bernama Dika (28).

“Tadi pagi jadinya gimana?” tanya salah satu dari dua ibu-ibu tersebut.

“Wah sudah nggak kekejar e, Mbak, malingnya,” jawab Dika.

“Kemalingan apa, Mas?” tanya saya ikut nimbrung obrolan mereka.

Mendengar pertanyaan saya, dua ibu-ibu dan si penjual angkringan di Parangtritis, Jogja, tersebut malah tertawa.

Dika bercerita, selepas Subuh, sebagaimana biasa, dia sudah menggoreng gorengan untuk dia jual di angkringan. Angkringannya memang buka sejak jam enam pagi. Lalu tutup semaunya sendiri: kadang malah tidak tutup sama sekali (24 jam).

Iklan

Setelah gorengannya matang, Dika menatanya dan meninggalkannya sejenak. Belum satu menit Dika beranjak, Dika memergoki seorang pria tua sedang menyolong gorengannya: memauskkan banyak gorengan yang masih panas itu ke dalam plastik hitam.

“Terus lima Indomie juga digondol. Ya saya kejar lah,” ungkap Dika.

Terjadi lah aksi kejar-kejaran di pagi buta tersebut. Sayangnya, “si maling” gorengan lebih cepat. Setelah meliuk-liuk di antara gang-gang perkampungan Parangtritis, Jogja, Dika kehilangan jejak.

“Saya nggak mungkin ngantemi, Mas. Cuma saya ini kasihan. Bapak-bapak itu saya kejar sebenarnya biar saya kasih makan sekalian. Nasi juga baru matang. Kan cocok buat sarapan berdua,” ujar Dika. Saya tertawa terbahak mendengarnya. Ekspresinya saat bercerita, lucu sekali.

“Loh, serius, Mas, saya nggak bohong ini. Saya nggak tega, bukan pengin menghajar,” ucap Dika meyakinkan saya kalau apa yang dia katakan bukanlah satire.

Hidup dalam perantauan sejak lulus SD

Pantas saja sejak kali pertema mendengar Dika bicara, saya tidak asing dengan logatnya. Logat rumpun plat K. Dika ternyata asli Purwodadi, Jawa Tengah. Tetangga dengan Rembang, tempat asal saya.

“Wah, bolo kita, Mas,” ujar Dika saat tahu saya dari Rembang.

Dika (28), perantau asal Purwodadi yang buka angkringan di Parangtritis Jogja MOJOK.CO
Dika (28), perantau asal Purwodadi yang buka angkringan di Parangtritis Jogja. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Dua ibu-ibu sebelumnya sudah pergi. Kini tinggal Dika dan saya. Saya menyantap sate-satean sembari menyesap rokok demi rokok kretek yang saya bawa. Sementara Dika asyik bercerita sambil menggoreng bakwan dan mendoan.

Kepada saya, Dika mengaku sudah jarang pulang ke Purwodadi. Hidupnya sudah habis di perantauan sejak dia lulus SD. Dia berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain, dari Pulau Jawa hingga Kalimantan. Kerja apa saja dia lakoni.

“Saya pernah di Kalimantan satu tahun. Tapi karena nggak betah, saya sempat pulang,” ungkap penjual angkringan di Parangtritis, Jogja, itu.

Dika lantas sempat merantau berpindah-pindah lagi. Kota terakhirnya adalah Surabaya. Setelah itu, usai lebaran 2024, dia memutuskan merantau ke Jogja.

Tertipu hingga tertolong pemilik angkringan di Parangtritis Jogja

Jogja menyambut Dika dengan kesialan. Dua kali dia tertipu proyek. Setelah kerja mati-matian, eh mandornya kabur. Dia tidak mendapat uang serupiah pun.

Alhasil, Dika sempat mencari uang dengan cara menjadi tukang parkir di Pantai Parangkusumo.

“Cuma nggak lama. Habis itu saya ikut orang jualan lotek. Juga masih di Parangkusumo,” terangnya.

Dika (28), perantau asal Purwodadi yang buka angkringan di Parangtritis Jogja MOJOK.CO
Dika (28), perantau asal Purwodadi yang buka angkringan di Parangtritis Jogja. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Baru juga ikut jualan, tak lama kemudian warung lotek tersebut tutup. Hash, sial terus. Begitu gerutu Dika.

Namun, Dika ini tipikal orang yang let it flow sekali. Dia tentu kerap menggerutui nasib silanya. Hanya saja, itu tak akan lama. Setelahnya, dia langsung prengas-prenges lagi.

“Lah wong setelah itu saya akhirnya ketemu bapak yang punya angkringan di Parangtritis ini kok. Saya disuruh jagain,” ungkap Dika.

Si bapak pemilik angkringan di Parangtritis, Jogja, itu seperti tidak butuh uang. Dan terkesan menganggap Dika sebagai keponakan sendiri. Angkringannya benar-benar dia serahkan penuh kepada Dika.

Penjual angkringan yang bisa dimintai bantuan apa saja

Dika menekankan, dia beruntung diberkahi kelebihan gampang akrab dengan orang. Itu membuatnya bisa diterima saat merantau di mana saja. Termasuk di Parangtritis, Jogja.

“Semua orang sekitar sini kenal nama saya. Tapi saya nggak kenal orang itu.”

Baru saja mengucapkan itu, seorang perempuan paruh baya yang rumahnya tidak jauh dari angkringan meneriaki Dika, “Dik, tolong pasangke gas.”

“Oh nggih, siap, Mbok…,” sahut Dika. Dika mengecilkan kompor, lalu bergegas ke rumah si perempuan paruh baya tersebut.

Sekembalinya, Dika bercerita, panggilan-panggilan semacam itu memang sering Dika dapatkan. Kok cuma masang regulator gas, mengecat rumah, memperbaiki genteng bocor, ngecor, dan lain-lain, semua bisa Dika lakukan jika warga sekitar sudah meminta bantuan. Itu membuatnya cukup disukai di kawasan Parangtritis.

“Saya selama di sini kan nggak ngekos. Bapak pemilik angkringan ngasih ya semacam gotakan buat saya naruh barang-barang. Kalau tidur saya seenaknya saja, Mas. Kadang ya tidur sini,” ucap Dika sambil menunjukkan tikar angkringan.

Angkringan di Parangtritis Jogja: teman para LC yang kelaparan

Uniknya, Dika kerap membuka angkringannya 24 jam. Bukan karena didorong oleh perhitungan untung-untungan. Tapi lebih karena menjawab kebutuhan warga sekitar Parangtritis, Jogja.

Pagi hari, biasanya ada saja orang yang mencari gorengan. Larinya ya ke angkringan yang Dika jaga. Sisanya adalah orang-orang yang datang dan pergi untuk makan atau ngopi.

“Kalau dini hari sampai subuh, ya buat mbak-mbak LC sini, Mas. Kalau pulang mereka pasti mampir. Lapar kan,” jelas Dika.

Alhasil, pola tidur Dika pun terbilang kacau. Ia sering tidur dua hari sekali. Pola tidur yang sebenarnya ingin dia perbaiki.

“Oh ya, daripada sampean ke Mbok **** (perempuan legendaris di dunia per-LC-an Parangtritis yang saya cari), mending langsung ngobrol saja sama LC-nya. Gampang, kenalan saya banyak yang LC. Saya panggilkan dua orang, po?,” tawar Dika. Saya menggeleng.

Kucing pembawa rezeki

Di tengah obrolan kami, seekor kucing liar mengeong dan gelibat-gelibet di kaki Dika. Pemuda berkulit cokelat sawo itu lalu mengambil sundukan usus. Lalu dilemparkan ke si kucing.

“Saya sering, Mas, kasih makan kucing liar. Ya kepala ayam, sundukan, bahkan susu. Padahal saya sendiri seumur-umur nggak pernah minum susu,” ucapnya dengan tawa berderai.

“Ini kepercayaan mbah-mbah saya dulu di Purwodadi ya, Mas, kucing itu pembawa rezeki,” sambungnya.

Dika (28), perantau asal Purwodadi yang buka angkringan di Parangtritis Jogja MOJOK.CO
Dika (28), perantau asal Purwodadi yang buka angkringan di Parangtritis Jogja. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Dan Dika mengaku merasakannya sendiri. Kebiasaannya memberi makan kucing liar itu membuat hidupnya selalu diberkahi rezeki.

Tidak hanya dalam konteks semakin banyaknya pelanggan angkringan, tapi juga rezeki-rezeki dalam bentuk lain. Sesederhana dia kini jadi orang yang disukai oleh orang-orang di sekitar Parangtritis, bagi Dika adalah rezeki.

Sebab, dari situ, dia yang merantau sendiri dari Purwodadi, akhirnya merasa memiliki keluarga baru. Apalagi Dika ringan tangan dalam membantu sesama. Alhasil, ketika dia sedang dalam kesulitan, orang-orang di sana pun tak segan pula membantunya.

enulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kebaikan Warga Lokal di Pantai Parangkusumo Jogja, Berjaga saat Wisatawan Bersenang-senang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 26 Januari 2025 oleh

Tags: angkringanJogjaparangtritis jogjapilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026
7 buah legendaris dalam game Blox Fruits yang jadi incaran MOJOK.CO

7  Koleksi Buah Legendaris di Game Blox Fruits yang Jadi Incaran: Tak Cuma Memperkuat, Tapi Juga Jadi Aset Berharga

24 Februari 2026
kelemahan honda beat, jupiter z.mojok.co

Menyesal Ganti Jupiter Z ke Honda BeAT: Menang “Rupa” tapi Payah, Malah Tak Bisa Dipakai Ngebut dan Terasa Boros

27 Februari 2026
Bukber, ASN, kantor.MOJOK.CO

Ikut Bukber Kantor di Acara ASN Itu Bikin Muak: Isinya Orang Cringe dan Seksis yang Bikin Risih, tapi “Haram” Buat Ditolak

22 Februari 2026
Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026
Upaya 1 tahun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kerja untuk warga, apa hasilnya? MOJOK.CO

Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

23 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.