Kata orang-orang, iPhone lebih bergengsi daripada Android, seperti merek Samsung dan Infinix. Namun, bagi seseorang yang sudah hampir 8 tahun menggunakan iPhone dan baru menyentuh Android lagi, saya merasa kata-kata ini sudah tidak terlalu valid.
iPhone, ponsel yang “mengunci” penggunanya untuk setia
Kira-kira, pada tahun 2017, saya beralih menggunakan iPhone dari yang sebelumnya adalah user Android.
Saya tidak terlalu ingat merek Android yang saya pakai sebelumnya, sepertinya beberapa merek pernah saya coba termasuk Samsung—yang dari pandangan awam adalah merek android paling laris.
Namun yang pasti, setelah mulai menggunakan iPhone, saya tidak terpikir untuk beralih. Setiap memutuskan untuk mengganti ponsel, pastilah seri-seri iPhone yang menarik perhatian.
Setiap mama atau ayah bertanya, “Mau ganti hp apa?”
Jawaban saya tidak lain dan tidak bukan adalah, “iPhone.”
Saking bosannya, orang tua beberapa kali menawarkan berbagai jenis Android yang menurut mereka lebih baik. Namun percuma, saya masih menjadi “loyalis” iPhone sampai saat itu.
Padahal, kalau dilihat sekilas, atau bahkan menyeluruh, tidak banyak yang berbeda dari setiap seri iPhone. Yang paling kentara hanyalah peletakkan kameranya yang berganti-ganti seiring meluncurkan seri paling baru.
Tapi bisa jadi, inilah strateginya. SQ Magazine mencatat Apple dapat mempertahankan loyalitas pelanggannya di atas 90 persen selama beberapa tahun. Secara spesifik, loyalitas pengguna iPhone bahkan sering dilapor mencapai 92 persen.
Survei yang sama menunjukkan 74,6 persen pengguna tetap menggunakan produk Apple. Hampir 48 di antaranya, sebagai pengguna iPhone, mengatakan kecil kemungkinan mereka akan beralih merek.

Padahal, iPhone banyak masalah dan fitur yang dipakai itu-itu saja
Namun dengan kesetiaan yang cenderung “buta” ini, mata saya masih cukup terbuka untuk menyadari bahwa menggunakan iPhone sama dengan bersedia untuk melakukan servis perangkat cukup sering.
Bahkan, saya pernah secara rutin mengganti kabel charger.
“Ma, beli charger lagi,” seperti sudah menjadi kebiasaan saat itu.
Begitu juga dengan keluhan, “Kamera hpnya shaking.”
“Battery health-nya udah rendah. Perlu ganti kayaknya.”
Bagi orang tua saya yang mendengar itu, mereka seperti sudah tidak terlalu bereaksi terhadap keluhan itu. Sebab, bukan satu dua kali mereka mencoba menawarkan merek lain dengan spesifikasi lebih canggih.
Lebih dari satu dua kali juga orang tua saya menjadi korban yang harus membiayai perawatan ponsel ini. Hitung-hitungannya, mereka perlu mengeluarkan lebih dari Rp500 ribu per tiga bulan karena masalah iPhone yang ada-ada saja, seperti mengganti baterai, membenarkan kamera, atau sekadar ganti charger.
Belum lagi, saya menyadari bahwa hanya beberapa fitur yang saya gunakan secara maksimal di iPhone. Kesadaran ini muncul berkat teman kantor yang bertanya fitur yang paling sering digunakan. Kemudian, dia mempertanyakan penggunaan shortcut yang hanya saya manfaatkan untuk water eject—semacam merilis air kalau-kalau kehujanan.
Baca halaman selanjutnya…
Ternyata, Android lebih unggul, iPhone minggir dulu














