Ibu adalah sosok paling luar biasa. Meski kadang-kadang, sebagai anak perempuan, saya memilih untuk tidak akur dengannya. Selalu ada saat yang berlawanan, yaitu ketika hati paling dalam saya mengatakan bahwa sebaiknya tidak melakukan itu. Khususnya, ketika ibu mengatakan dirinya tidak keberatan dengan biaya mudik anaknya demi berkumpul lengkap bersama keluarga saat Lebaran.
Uang untuk mudik, bukan masalah bagi ibu
Tiga malam yang lalu, Senin, (2/3/2026), saya menghubungi ibu seperti biasanya. Ibu selalu membuat saya setidaknya meneleponnya satu kali dalam sehari, konon ia merasa harus memastikan anaknya baik-baik saja dengan mata kepalanya sendiri, meski hanya melalui layar ponsel.
“Ma, Lebaran bisa pulang,” kata saya memberi tahu.
“Alhamdulillah,” awalnya hanya itu balasannya.
Sampai di situ, saya tidak merasakan apa pun. Akan tetapi, tuturannya berlanjut sampai setidaknya dua tiga kalimat yang diutarakannya membuat saya terenyuh.
“Namanya orang tua, pasti senang anaknya bisa pulang.”
“Senang lah bisa kumpul keluarganya lengkap.”
“Jadi nanti, sahur, buka puasa, ada anak juga di rumah.”
Pesan itu pun mengingatkan saya pada percakapan kami dua bulan lalu. Saat saya masih di rumah alias belum kembali ke Jogja. Saya bertanya ke ibu sebagai pertimbangan, “nanti, Lebaran pulang juga nggak?”
Saya harus berpikir keras untuk mudik, karena Lebaran hanya berlangsung singkat. Kemungkinan hanya satu minggu, sementara saya lebih suka berdiam di rumah. Masa iya, mengeluarkan uang untuk membeli tiket pesawat mahal-mahal hanya untuk itu?
Rupanya, jawaban ibu dari dua bulan yang lalu dan tiga hari yang lalu masihlah sama. Tidak berubah dan lebih mengutamakan kepulangan anaknya, dibandingkan saya sendiri yang risau soal biaya. Bagaimana tidak, biaya tiket pesawat dari Jogja ke Kalimantan untuk mudik sudah menghabiskan total Rp3 juta. Tapi, ibu justru menyuruh saya pulang.
“Pulang lah, kalau bisa,” ujarnya.
Mudik artinya menambah momen kebersamaan
Debbie (31), seorang ibu rumah tangga, juga menceritakan hal yang sama kepada saya. Membayangkan anaknya akan tumbuh dewasa dan pergi berkuliah di suatu tempat yang jauh dari rumah pada suatu hari nanti. Katanya, sebagai seorang ibu, uang untuk mudik tidak akan pernah menjadi masalah. Yang terpenting adalah momen kebersamaannya.
“Kalau orang tua itu lebih berat ke momennya,” katanya, Selasa (3/3/2026).
“Kalau udah ngomong momen, udah nggak mikir apa pun, termasuk uang. Uang bisa dicari, momen nggak bisa dicari apa diulang,” tambah Debbie.
Sebagai anak, ini membuat saya bertanya-tanya. Bukankah Lebaran adalah momen berulang?
Tanpa saya sadar, momen itu sebetulnya adalah privilege bagi saya yang belum mempunyai tanggungan secara penuh. Terlebih, mudik adalah privilege waktu bagi sebagian banyak orang yang sudah kehilangan orang terkasih.
Pada akhirnya saya sadar, bagi ibu, berkumpul bersama anak adalah momen berharga. Membayangkan anak kecilnya tumbuh dewasa di perantauan barangkali terasa sulit baginya. Sebab sedewasa apa pun usia kita, kita hanyalah anak kecil di matanya. Ia pasti merasa haru, sekaligus asing dalam satu waktu.
Saya pikir, bisa jadi, mereka punya pertanyaan, “Kapan anaknya menjadi sebesar ini?”
Karena itulah, penting untuk tetap terhubung dalam segala waktu. Juga, untuk tetap memanfaatkan kesempatan berkumpul keluarga dalam satu momen Lebaran, meskipun hanya sebentar dan harus membayar berkali-kali lipat dengan materiil.
Tanggung jawab orang tua kepada anak saat Lebaran
Sebagai ibu yang memiliki anak, Debbie sendiri harus bisa menghadirkan suasana “rumah” di mana pun mereka berada.
“Jujur, sebagai ibu, pasti ingin dia tetap pulang atau mudik saat Lebaran. Rasanya nggak tega aja kalau dia sendirian di tanah rantau,” katanya.
Namun, Debbie mencoba realistis. Alih-alih memaksa sang anak mudik, ia tentu melihat kondisi sang anak. Pertama, bisa atau tidak dia mudik. Kedua, ingin atau tidak dia mudik.
Guna menciptakan suasana rumah yang pas pada anak, Debbie berusaha “hadir” di momen Lebaran. Misal, mengirimkan kue atau aktivitas lain yang biasanya mereka lakukan saat di rumah. Tujuannya sederhana, agar peluk hangat keluarga dari rumah juga sampai ke tempat anaknya berada.
“Kalau ternyata nggak memungkinkan dia mudik dan kami juga nggak bisa nyamperin karena kondisi ekonomi lagi nggak ideal, ya aku akan wujudkan suasana Lebaran ke dia,” ucap Debbie.
Namun bagaimanapun, Debbie tetap memprioritaskan kepulangan anaknya, berapapun biaya yang harus dibayarkan. Mengembalikan uang bukan lagi kendala baginya, sebab ia sadar momen kebersamaan lebih penting dari sekadar materiil.
“Tapi selama aku dan suami mampu, dan anaknya mau pulang, aku pasti biayain. Atau kami yang datang,” katanya.
Lebih dari itu, ini bukan hanya perkara mudik saat Lebaran. Menurutnya, anak akan selalu menjadi tanggung jawab orang tua sampai pada waktu tertentu. Oleh karena itu, selama anaknya masih menjadi tanggung jawabnya, memastikan anak tidak merasakan “sendirian” di hari kumpul keluarga juga menjadi tanggungannya.
“Karena selama dia masih tanggung jawab orang tua, apalagi anak perempuan, aku merasa kami memang harus siap secara finansial. Kuncinya ya itu, aku dan suami harus disiplin saving dari sekarang,” jelasnya.
“Intinya bukan soal tiketnya, tapi soal memastikan dia nggak pernah merasa sendirian,” pungkas Debbie.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Aisyah Amira Wakang
BACA JUGA: Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














