Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Alasan Gen Z Nggak Mau Punya Rumah: Milih Ngekos karena Nggak Perlu Merawat

Viola Nada Hafilda oleh Viola Nada Hafilda
23 September 2023
A A
Alasan Gen Z Nggak Mau Punya Rumah MOJOK.CO

Ilustrasi Alasan Gen Z Nggak Mau Punya Rumah. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bukan hanya karena harga rumah tak masuk akal, ada alasan lain mengapa Generasi Z (Gen Z) cenderung tidak mau memiliki rumah pribadi. Bisa saja, orang-orang yang ingin punya rumah pribadi itu kena penyakit kultural.

***

Berkat tragedi jebolnya atap kamar mandi rumah, saya menjadi merenungi banyak hal. Sebab saat mencari tahu perkiraan biaya renovasi kamar mandi, jantung saya langsung mencelos. Pasalnya, membedah dan membangun ulang kamar mandi saja membutuhkan biaya sampai dua digit. Bak tsunami fakta, renovasi kamar mandi saja bikin megap-megap, apalagi membangun rumah?

Di sisi lain, Mojok menemukan ternyata banyak dari Gen Z yang tidak tertarik memiliki rumah tetap. Keduanya adalah Endah (22) dan Dhias (24). Sebagai Gen Z, mereka memiliki pandangan yang cukup berbeda mengenai rumah.

Tidak butuh rumah yang penting ada hunian

Sebagai mahasiswa yang baru saja lulus, Endah merasa tidak terlalu membutuhkan rumah. Apabila masyarakat melekatkan rumah dengan tempat tinggal seumur hidup, maka tidak dengan Endah. 

Baginya, rumah tidak melulu soal tempat tinggal permanen dan diisi oleh beberapa anggota keluarga. Endah memandang bahwa rumah adalah tempat di mana ia dapat mengakses segala kebutuhan dan mudah mengakses ruang publik.

“Kos-kosanku saat ini bisa dikatakan sebagai rumah karena memenuhi unsur-unsur tersebut. Aku bisa melakukan banyak hal dengan efektif,” terangnya. Pertimbangan utama Endah adalah terkait kemudahan ia menjangkau tempat kerjanya. Selain itu, tempat yang ia tinggali harus berada di area urban atau perkotaan yang dekat dengan fasilitas publik.

Senada dengan Endah, Dhias berpikir hal yang sama. Baginya, yang paling penting adalah hunian, entah itu sewa atau bangunan tetap. Kemudian menurut Dhias, rumah bukan hanya persoalan tempat atau bangunan, melainkan di tempat tersebut ia bersama siapa. “Aku pulang ke kontrakan ada kawan-kawanku,” imbuhnya.

Sebagai alumni Jurusan Arkeologi, Dhias melihat bahwa ketertarikan orang-orang Indonesia terhadap rumah tapak bisa jadi disebabkan fenomena historis. Sebab saat masa penjajahan, bangsa kolonial memiliki rumah tapak yang asri, halamannya luas, dan ada kebun. 

“Ada penyakit kultural juga. Kalau rumah tapak biasanya banyak seremoni-seremoni informal dan acara-acara kekeluargaan,” kata Dhias.

Gen Z pilih sewa dan investasi daripada punya rumah

Meski Endah merasa mantap dengan pilihan hunian sewa, tapi tidak dengan orang tuanya. Untuk menyikapinya, ia berniat menjelaskan dengan perlahan dan menunjukkan secara rasional soal apa saja benefit dari pilihan tersebut. “Ada kompensasi yang aku berikan kepada keluarga, terutama soal investasi,” jelas Endah.

Endah sangat sadar betapa tingginya harga tanah dan rumah dewasa ini. Mau sehebat apapun ia bekerja, Endah tetap merasa sulit untuk membeli rumah di tengah kota yang mudah mengakses apapun. Oleh karenanya, ia tak merasa keberatan untuk membayar uang sewa setiap bulannya. “Aku bisa melakukan investasi di bidang lain,” pungkasnya.

“Menurutku sebagai orang yang pilih sewa, rumah tidak sepenting itu,” tegas Endah. Selama ia masih bisa bekerja dan beraktivitas dengan normal, rasanya sudah cukup. 

Cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) jumlahnya sangat besar dan membuat kita sulit untuk menabung dan investasi. Itulah mengapa Endah merasa lebih menguntungkan investsi daripada ia harus mencicil rumah lewat KPR.

Iklan

Punya rumah, biaya perawatan besar

Banyak orang lupa bahwa bukan hanya membangun rumah saja yang membutuhkan biaya, tetapi juga merawatnya. Endah sempat tinggal sebentar di Jepang, ia melihat bahwa orang Jepang sangat memerhatikan biaya perawatan rumah.

Daripada memiliki rumah pribadi, gen z memilih untuk sewa atau kos.
Daripada memiliki rumah pribadi, gen z memilih untuk sewa atau kos. (Ilustrasi Mojok.co)

Mereka menggelontorkan biaya besar untuk mitigasi bencana. “Setelah mengetahui risikonya, aku memilih untuk tidak dulu (untuk memiliki rumah),” tegas Endah.

Dikutip dari Rumah123, Kaukabus Syarqiah selaku Certified Financial Planner menekankan bahwa pemilik rumah harus menyiapkan dana renovasi sebesar 10 persen dari harga rumah. Kita perlu mempertimbangkan biaya perawatan rumah sebagaimana dikutip dari Lifepal. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan antara lain renovasi setiap 10—20 tahun, persiapan mitigasi bencana, mengecek kondisi atap, listrik, pajak, air, dan lain sebagainya.

Dhias mengamini hal tersebut. Sebagai Gen Z, ia mengungkapkan bahwa biaya membayar kos tiap bulan tak beda jauh dengan cicilan KPR.

“Bikin rumah juga kan ngeluarin uang tiap bulan mulai dari pemeliharaan sampai renovasi,” ujarnya. Itu jugalah yang membuat Dhias mengandalkan hunian sewa entah itu kos, kontrakan, atau barangkali apartemen.

Bergeser dari Dhias, Endah sendiri sudah mantap untuk menyewa apartemen. Sebab apartemen menawarkan sistem asuransi. Ketika ada bencana alam, terdapat jaminan dan kompensasi dari pemilik. Dengan menyewa, Endah merasa mampu memperkecil risiko-risiko tersebut karena ada induk semang yang akan bertanggung jawab. “Aku ada partner dalam mengatasi ketidakpastian yang ada dan itu membuatku merasa aman,” ungkapnya.

Reporter Mojok menanyakan kepada Endah, bukankah dengan hidup nomaden maka rasanya seperti hidup dalam ketidakpastian papan? Jawaban Endah, semua keputusan yang kita ambil pasti ada ketidakpastian dan risiko, termasuk punya rumah maupun tidak. Sama dengan Dhias, ia dengan lantang menjawab, “Kepastian hanya milik Allah.”

Mendorong kepastian hunian sewa untuk Gen Z

Sudah nyata dan jelas bahwa harga rumah saat ini terasa tak realistis bagi kaum mendang-mending. Menanggapi hal tersebut, Dhias menunjuk pengembang perumahan yang memiliki banyak andil. Mereka memainkan harga tanah dan dengan mudah mengambil alih fungsi lahan pertanian. “Para pengembang yang memiliki akses terhadap politik, mereka yang memenangkan pertarungan atas tanah,” tegas Dhias. 

Hunian sewa akhirnya menjadi andalan bagi kaum mendang-mending, salah satunya Dhias. Namun sayangnya, biaya hunian sewa pun juga bikin mikir dua kali. Melansir detik.com, rata-rata harga sewa kos yang strategis sekitar 600 ribu sampai di atas satu juta.

“Aku masih percaya dalam tahun-tahun ke depan kita bisa mendorong hunian sewa yang bukan hanya terjangkau, tetapi juga memiliki kepastian hukum,” ungkap Dhias. Sejauh yang ia tahu, belum ada kepastian hukum mengenai tenant housing atau penyewa hunian. Kendati pemangku kepentingsan tak bisa memastikan kepemilikan rumah pribadi bagi masyarakat, maka memberi kepastian hukum bagi para penyewa adalah selemah-lemah iman.

Reporter: Viola Nada Hafida
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Siasat Pekerja Punya Rumah Lewat KPR, Gaji UMR Jogja Bisa Punya Hunian?

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2026 oleh

Tags: Gen Zgenerasi zrumahrumah pribadirumah tapak
Viola Nada Hafilda

Viola Nada Hafilda

Magang Mojok

Artikel Terkait

Gen Z dapat THR saat Lebaran
Urban

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO
Esai

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
Anak pulang ke rumah dari perantauan ditunggu, tapi justru sakiti dan beri duka karena sepelekan masakan ibu MOJOK.CO
Sehari-hari

Anak Pulang Justru Lukai Hati Ibu: Pilih Makan di Luar dan Sepelekan Masakan Ibu karena Lidah Sok Kota-Banyak Gaya

11 Maret 2026
Hijau miskin, warna yang tidak disukai gen Z
Sehari-hari

Warna “Hijau Miskin” Dianggap Norak, Tidak Disukai Gen Z padahal Dipakai Banyak Orang dan Harganya Murah

2 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Kapok Mudik dengan Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

15 Maret 2026
Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. MOJOK.CO

Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia

21 Maret 2026
meminjam uang, lebaran.MOJOK.CO

Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit

21 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.