Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
30 April 2026
A A
Kenaikan harga plastik bikin UMKM menjerit. MOJOK.CO

ilustrasi - pelaku UMKM menjerit atas kenaikan harga plastik akibat konflik di Timur Tengah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kenaikan harga plastik yang melonjak tajam mencekik para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), akibat konflik geopolitik global yang kian memanas di Timur Tengah. Menghadapi krisis tersebut, pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan saran khususnya untuk pelaku UMKM agar bisa bertahan.

Dampak perang mulai dirasakan wong cilik

Anna, pelaku usaha laundry mengungkap harga plastik akhir-akhir ini melonjak tajam. Dari yang tadinya Rp30 ribu naik menjadi Rp54 ribu setelah Lebaran 2026 kemarin. Kenaikan sebesar Rp24 ribu itu bikin ia megap-megap, mengingat ia baru saja menjalankan bisnisnya. 

“Sebagai pemilik laundry pemula, kenaikan harga ini lumayan bikin pusing apalagi plastik termasuk bahan baku wajib buat kemasan baju pelanggan,” kata Anna dihubungi Mojok, Kamis (30/4/2026). 

Alhasil, Anna harus mengubah plastik yang tadinya berfungsi untuk packing menjadi plastik jinjing seharga Rp45 ribu di toko setrika uap. Kantong kresek pun ia tiadakan, sehingga ia kerap mengimbau pelanggannya untuk membawa kantong sendiri baik kresek maupun tas kain. 

“Aku memang belum ada niat menaikkan harga laundry, karena riskan banget. Kalau gegabah malah akunya yang susah jadi aku akalin dulu saja selagi bahan baku lainnya aman kayaknya masih bisa,” ujar Anna.

Pelaku UMKM menjerit harga plastik naik

Kenaikan harga tak hanya terjadi pada plastik laundry, tapi juga kemasan makanan. Orang tua Sabrina Oktavia misalnya yang berjualan bubur ayam. Sabrina berujar, styrofoam yang biasanya dipatok harga Rp25 ribu sekarang jadi Rp35 ribu. Belum lagi plastik kresek yang tadinya Rp9 ribu naik menjadi Rp16 ribu.

“Sebagai pedagang bubur ayam, kami juga harus beli plastik alas, plastik kuah, plastik sate, sampai sendok plastik. Dan semuanya ikut naik. Sementara harga bubur kami masih Rp12 ribu per porsi. Gimana pelaku UMKM nggak menjerit?” keluh Sabrina. 

Kekesalan atas naiknya harga plastik juga dirasakan Lex Simanjuntak. Penjual roti asal Bekasi ini berujar harga plastik kini benar-benar tidak masuk akal. Kantong kresek kecil yang tadinya seharga Rp12 ribu sekarang melonjak jadi Rp21 ribu.

“Bahkan aku yang biasa beli bubble wrap 1 gulung Rp110 ribu sekarang naik jadi Rp190 ribu,” ujar Lex.

Meski begitu, Lex berusaha untuk tetap bersyukur. Walaupun harga bahan baku dan plastik naik, kata dia, tapi ia yakin ada satu hal yang tidak berubah di situasi sulit seperti sekarang.

“Yaitu rasa terima kasihku buat pelanggan yang tetap mau jajan dan dukung usaha kecilku tanpa banyak nawar dan protes,” kata Lex.

Alasan UMKM terkena imbas konflik global

Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sri Wahyudi Suliswanto menjelaskan lonjakan harga plastik tak terlepas dari imbas konflik geopolitik global yang kian memanas di Timur Tengah.

Kenaikan harga plastik ini juga bersamaan dengan harga minyak mentah dunia. Wajar jika pelaku UMKM kini merasa tercekik. Menurut pengamatannya, tren kenaikan harga plastik yang cukup ekstrem telah bertransformasi menjadi “biaya siluman” yang perlahan menggerus margin keuntungan para pedagang kecil.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM tersebut juga menyoroti posisi UMKM kuliner sebagai sektor yang paling rentan akibat ketergantungan absolut mereka pada wadah makanan, gelas minuman, dan tas kresek.

Iklan

Biaya produksi yang membengkak tajam memaksa pelaku usaha masuk ke jurang dilema. Jika mereka nekat menaikkan harga jual produk harian, risikonya para pembeli setia akan berlari mencari alternatif lain, mengingat kemampuan daya beli masyarakat saat ini tergolong masih lesu. 

Namun, jika mereka menahan harga demi mempertahankan pelanggan, keberlangsungan usaha justru terancam gulung tikar. Wahyudi memaparkan, akar dari krisis ini memperlihatkan dengan jelas rapuhnya kemandirian industri dalam negeri. 

“Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik,” tegas Wahyudi dilansir dari laman resmi UMM, Kamis (30/4/2026).

Ubah musibah harga naik jadi kesadaran kolektif

Menghadapi kebuntuan ini, Wahyudi melihat peluang mengubah musibah menjadi berkah melalui perubahan perilaku konsumsi di tengah masyarakat. Salah satunya dengan membuat pelaku UMKM sadar bahwa mereka sedang menghadapi situasi darurat, tapi ini juga bisa menjadi kesempatan mereka untuk ikut mengurangi dampak lingkungan dengan menyetop plastik sekali pakai. 

“Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik,” ujarnya memberikan solusi atas kenaikan harga plastik.

Pelaku UMKM juga bisa menerapkan strategi diferensiasi harga. Khusus pelanggan, Wahyudi menyarankan agar pelaku UMKM bisa memberikan diskon khusus bagi mereka yang membawa wadah sendiri. 

“Konsumen yang sadar membawa wadah sendiri berhak mendapat harga lebih murah,” tegasnya. 

Pemerintah tak boleh tutup mata atas penderitaan UMKM

Wahyudi meyakini langkah taktis di atas tidak hanya menyelamatkan fondasi finansial UMKM, tetapi juga ampuh membangun budaya pro-lingkungan jangka panjang. Namun, Wahyudi mengingatkan beban kenaikan harga ini tidak bisa dipikul sendirian.

Mengingat komponen plastik digunakan secara masif di berbagai sektor industri di Indonesia, mulai dari kuliner rumahan, manufaktur skala besar, hingga otomotif. Oleh karena itu, pemerintah harus mencari pemasok alternatif dari negara non-konflik secara paralel. 

“Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran karena daya rusaknya sangat luas,” tegas Wahyudi.

Terakhir, Ia menyarankan langkah paling konkret saat ini adalah pemerintah aktif memfasilitasi pencarian pemasok bahan baku dari negara yang aman dari konflik. Kolaborasi komprehensif antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen diharapkan tak sekadar menyelamatkan bisnis UMKM hari ini, tetapi sukses menjadi titik balik masyarakat menuju pola konsumsi cerdas yang sepenuhnya bebas dari jerat ketergantungan limbah plastik

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

Sumber: Laman resmi UMM

BACA JUGA: Arti Sukses di Mata Pak Karjin, Petani Cabai Rawit dengan Lahan 1 Hektare: Cuan Puluhan Juta, Modalnya Bikin Jantung Copot dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan 

Terakhir diperbarui pada 30 April 2026 oleh

Tags: harga plastikin this economykenaikan hargakondisi ekonomikonflik timur tengahpelaku umkmUMKM
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Mie ayam bintang di Jakarta. MOJOK.CO
Kuliner

Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta

29 April 2026
Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO
Cuan

Semakin Berat Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo: Sudah Margin Keuntungan Sangat Tipis Sekarang Terancam Makin Merana karena Kenaikan Harga

9 April 2026
Sarjana Jurusan Agribisnis jualan keripik buah. MOJOK.CO
Sekolahan

Sibuk Jualan Sambil Kuliah daripada Jadi Mahasiswa “Kura-kura”, Lulusan Agribisnis Ini Sukses Dagang Keripik sampai Luar Negeri

11 Maret 2026
Gen Z mending beli bunga daripada rumah untuk self reward. MOJOK.CO
Sehari-hari

Gen Z Lebih Suka Beli Bunga untuk Self Reward daripada Stres Nggak Mampu Beli Rumah untuk Masa Depan

16 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya Mojok.co

Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya

24 April 2026
Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos MOJOK.CO

Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos

24 April 2026
Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma MOJOK.CO

Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma

28 April 2026
Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 undang pecinta sepeda dari seluruh negeri hingga internasional MOJOK.CO

Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara

28 April 2026
Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat MOJOK.CO

Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat

27 April 2026
Semifinal Kompetisi Basket Campus League musim perdana Regional Surabaya hujan skor. Universitas Surabaya (Ubaya) jadi raja Jawa Timur MOJOK.CO

Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”

29 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.