Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Film “Sore: Istri dari Masa Depan” Memberi Penyesalan, Harapan Semu, dan Dendam pada Kehidupan Rumah Tangga di Masa Lalu

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
18 Juli 2025
A A
Film Sore bukan sekadar romantis dan menggemaskan, tapi harapan semu kala berumah tangga MOJOK.CO

Ilustrasi - Film Sore bukan sekadar romantis dan menggemaskan, tapi harapan semu kala berumah tangga. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sore (dalam series diperankan Tika Bravani, dalam film diperankan Sheila Dara) harus repot-repot datang dari masa depan untuk menemui suaminya di masa kini, Jonathan (Dion Wiyoko).

Sore tidak mau kehilangan Jo—panggilan akrab Jonathan—untuk kedua kalinya, yang meninggal karena kompilasi penyakit yang diderita akibat gaya hidup berantakan. Oleh karena itu, di masa kini, Sore berusaha mengajak Jo untuk memperbaiki hidupnya. Agar kebersamaan mereka menjadi lebih lama.

Kira-kira begitulah premis series dan film Sore: Istri dari Masa Depan. 2017 silam, series yang digarap Yandy Laurens ini menuai respons sangat positif. Begitu juga filmnya yang belum lama ini rilis: sampai jadi trending topic di X berhari-hari. Banyak penonton seriesnya yang juga sudah lama menanti diangkatnya series ini ke layar lebar.

Ketika orang-orang menikmati film Sore sebagai film romantis penuh haru dan menggemaskan, lain cerita dengan Diana (34), perempuan asal Bandung, Jawa Barat. Film Sore, baginya, menjadi pengingat masa-masa ketika dia harus ambruk dan nyaris mati rasa di masa membangun rumah tangga.

Menemukan orang untuk ke masa depan

Diana menikah dengan suaminya pada usia 29 tahun setelah menjalin hubungan sejak sama-sama mahasiswa.

Diana jatuh hati betul dengan pacarnya tersebut. Sebab, sang pacar adalah tipikal pekerja keras. Selain itu, sang pacar adalah sosok yang memberi ruang bebas bagi Diana untuk mengeksplorasi banyak hal.

“Jadi kalau menikah sama dia, membayangkan hari-hari menuju masa depan rasanya nggak bakal berat. Pasti seru karena dia orangnya support apapun yang kukerjakan,” kata Diana berbagi cerita melalui direct massage X, Jumat (18/7/2025) pagi WIB.

Lulus kuliah di usia 26 tahun, keduanya tidak langsung menikah. Tapi mengejar karier masing-masing. Keduanya sama-sama menjadi pekerja kantoran di Bandung, meski di kantor yang berbeda. Di umur 29 tahun, mereka akhirnya menikah.

Tak seperti di film Sore, tak kuasa “lindungi” suami

Diana menyebut, mendiang suaminya merupakan perokok berat. Tak hanya itu, jika sedang ada lemburan, sang suami bisa bergadang bahkan lupa makan.

“Suami juga nggak begitu suka olahraga. Habis salat Subuh tidur lagi sebentar, lalu bangun buat berangkat kerja. Di hari Minggu atau hari libur, kalau sedang nggak ada agenda keluar, dia juga bisa tidur seharian untuk menebus capek,” kata Diana.

Diana sebenarnya merasa “kurang nyaman” ketika melihat sang suami bisa menghabiskan berbatang-batang rokok dalam sehari. Karena sejauh yang Diana tahu dari banyak pemberitaan, rokok bisa mempercepat kematian. Lebih-lebih suaminya tidak mengimbanginya dengan olahraga, makan, dan tidur yang teratur.

Saking seringnya telat—bahkan lupa makan—sang suami memang sudah harus berjibaku dengan maag sejak kuliah. Kalau kambuh, biasanya sang suami tampak sangat tersiksa.

“Aku sudah negur halus, kalau bisa rokoknya dikurangi. Menjajal olahraga, dan tertib kalau soal tidur dan makan. Tapi ya gitu, kalau habis ditegur memang rokoknya kurang. Terus jadi tertib. Tapi beberapa hari kemudian balik lagi,” ujar Diana.

Iklan

Bahkan, ada momen ketika sang suami membalik teguran Diana. Bagi sang suami, rokok adalah media pengusir stres. Jika dilarang merokok, sang suami bisa-bisa stres urusan pekerjaan. Begitu juga kalau diingatkan tidur, pasti akan dijawab kalau sudah jadi kebiasaan tidur larut malam, susah kalau mau tidur di pukul 21.00 WIB.

Soal makan pun demikian. Tiap kali Diana mengeluh karena sang suami telat makan dan maagnya kambuh, pasti dijawab: emang sebelumnya nggak kerasa laper, jadi nggak makan.

Kehilangan teman ke masa depan

Menginjak usia pernikahan yang kedua (umur 30 tahun), mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Saat itu Diana memutuskan keluar dari pekerjaannya untuk fokus mengurus anak.

Itu lantas menjadi alasan bagi sang suami untuk bekerja lebih keras. Hanya saja tak turut menjadi alasan bagi sang suami untuk memperhatikan kesehatan: Rokok masih sangat banter, olahraga (lari pagi) hanya sesekali, dan telat makan pun seperti sudah jadi kebiasaan.

Singkat cerita, pada umur 32 tahun, sang suami meninggal dunia karena gangguan di jantung dan paru-parunya. Dunia Diana terasa berhenti. Hari-hari berlalu begitu kosong. Seperti mati rasa.

“Rasanya kayak nggak tahu lagi mau ngapain. Nggak ada yang menemani di masa depan,” tutur Diana.

Satu-satunya yang membuatnya bertahan adalah dia punya seorang anak laki-laki yang harus dia bersamai masa tumbuhnya. Diana lantas memutuskan kembali bekerja, selain untuk terus menyambung hidup juga untuk tetap waras dari situasi buruk tersebut.

Film Sore jadi penyesalan, harapan semu, dan balas dendam

Diana bukan penonton series Sore: Istri dari Masa Depan. Dia baru tahu kalau film Sore ada versi seriesnya ya baru-baru ini.

Awalnya, di lingkaran teman-teman perempuannya, obrolan tentang film Sore berlangsung sangat antusias. Tak sabar untuk menonton film tersebut. Namun, mereka tidak merekomendasikannya untuk Diana.

“Katanya, nanti malah jadi trigger buruk buat aku,” ungkap Diana.

Saat membaca sinopsisnya di internet, Diana malah tertarik untuk menonton. Selama menonton, di sela tawa gemas, air mata tak henti-henti melelehi wajahnya. Dadanya pun terasa begitu sesak.

“Habis nonton aku berandai-andai, kalau aku bisa jadi seperti Sore, datang ke masa lalu, aku pasti akan tegas betul ke suami buat hidup sehat. Karena gara-gara dia nggak hidup sehat, terus meninggal lebih dulu, hidupku jadi berat. Tersiksa oleh perasaan kangen,” kata Diana.

“Anak juga kehilangan sosok ayah,” sambungnya.

Namun, penyesalan tinggal penyesalan. Andaian itu hanyalah harapan semu yang nyaris mustahil terjadi di kehidupan di luar film. Kini yang tersisa adalah balas dendam.

“Dendamnya lebih ke, aku harus jaga gaya hidupku. Karena aku masih harus menemani anak. Nanti pun saat anak mulai tumbuh, dia juga akan kupaksa hidup sehat,” tutur Diana.

“Jangan sampai dia meniru bapaknya. Karena kehilangan orang tersayang itu sama seperti kehilangan separuh jiwa sendiri. Yang tersisa kemudian cuma hari-hari kosong,” pungkasnya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Film dan Series Indonesia Isinya Selalu Adegan Panas nan Erotis, Tapi Itu Bukan Berarti Mesum atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 18 Juli 2025 oleh

Tags: dion wiyokofilm sorepilihan redaksireview film soresheila darasinopsis film soresore
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

blok m jakarta selatan.mojok.co
Urban

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026
Derita punya pasangan hidup sandwich generation apalagi bonus mertua toxic MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

5 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO
Catatan

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026
bencana.MOJOK.CO
Jagat

Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana

4 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tinggal di perumahan lebih bisa slow living dan frugal living ketimbang di desa MOJOK.CO

Salah Kaprah Soal Tinggal di Perumahan, Padahal Lebih Slow Living-Frugal Living Tanpa Dibebani Tetangga ketimbang di Desa

30 Januari 2026
Derita punya pasangan hidup sandwich generation apalagi bonus mertua toxic MOJOK.CO

Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

5 Februari 2026
Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen yang Nggak Perlu Ngomongin Toleransi MOJOK.CO

Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen Kok Nggak Ngomongin Toleransi

2 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

5 Penginapan di Lasem: Dari Megahnya Bangunan Tionghoa hingga Sunyinya Pengunjung

3 Februari 2026
Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis MOJOK.CO

Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis

31 Januari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

Sebagai “Alumnus” KA Airlangga, Naik KA Taksaka Ibarat “Pengkhianatan Kelas” yang Sesekali Wajib Dicoba Untuk Kesehatan Mental dan Tulang Punggung 

30 Januari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.