Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Aliansi Santri Jalanan Gelar Aksi Dukungan, Mengapa Masih Ada Pihak yang Menormalisasi Sikap Arogan Miftah Maulana?

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
9 Desember 2024
A A
Aliansi Santri Jalanan Gelar Aksi Dukungan, Mengapa Masih Ada Pihak yang Menormalisasi Sikap Arogan Miftah Maulana?.MOJOK.CO

Ilustrasi - Aliansi Santri Jalanan Gelar Aksi Dukungan, Mengapa Masih Ada Pihak yang Menormalisasi Sikap Arogan Miftah Maulana? (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ratusan demonstran menggelar aksi penolakan mundurnya Miftah Maulana dari Utusan Khusus Presiden. Mereka memberi dukungan sepenuhnya kepada Miftah untuk tetap duduk sebagai tangan kanan pemerintah. Di tengah gelombang kecaman kepada pendakwah tersebut, mengapa masih ada pihak, terutama santri, yang masih mau memberi dukungan?

***

Berdasarkan pantauan Mojok, massa aksi yang mengatasnamakan Aliansi Santri Jalanan sudah mulai memadati Titik Nol Kilometer Jogja sejak pukul 10.00 WIB. Mereka datang dengan mengenakan pakaian serba hitam.

Para demonstran juga banyak yang membawa poster bertuliskan narasi dukungan kepada Miftah. Seperti “Gus Miftah Ksatria Sesungguhnya”, “Kami di Belakang Gus Miftah”, dan lain sebagainya.

Sejak pukul 10.30 WIB, satu per satu perwakilan demonstran juga mulai naik ke atas mimbar untuk menyampaikan orasinya.

“Kami sepenuhnya berada di belakang abah [Miftah Maulana] untuk berada di kursi pemerintahan. Takbir! Allahuakbar, Allahuakbar,” seru salah satu orator yang mengaku perwakilan santri salah satu pesantren, Senin (9/12/2024).

Anggap Miftah adalah “jembatan” santri duduk di pemerintahan

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Miftah Maulana mengumumkan mundur dari jabatannya sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan pada Jumat (6/12/2024) lalu. Publik menilai, pengunduran diri ini imbas dari video viral “menggoblok-goblokkan pedagang es teh” yang menuai banyak kecaman.

Pengasuh Ponpes Ora Aji, Sleman, ini mengaku telah mempertimbangkan keputusannya secara mendalam. Namun, Dia memastikan bahwa keputusan ini bukan karena tekanan atau permintaan pihak tertentu.

“Setelah berdoa, bermuhasabah, dan istikharah, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari tugas saya sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan,” ujarnya kala itu.

Sementara itu, Koordinator Aksi Aliansi Santri Jalanan, Indra Ika Putra, mengaku bakal melakukan berbagai upaya agar Miftah Maulana tidak mundur dari jabatannya. Termasuk jika harus menyurati Presiden RI Prabowo Subianto.

“Kami Insya Allah akan memberi surat tembusan kepada Bapak Presiden, Bapak Prabowo Subianto, agar menolak penurunan Gus Miftah dari jabatannya,” ujar Indra kepada Mojok di sela-sela aksi.

Demo Miftah Maulana.MOJOK.CO
Mulut Miftah Maulana dianggap jahat. Sikapnya juga arogan. Ini alasan mengapa masih banyak santri mendukungnya di tengah kontrovesi tersebut. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

“Kami menyuarakan agar abah kami, guru kami, pembina kami, ksatria kami, agar tidak turun dari jabatan khusus utusan presiden, agar kami binaannya ada jembatan untuk ke pemerintahan,” bebernya.

Bahkan, Indra menegaskan kalau kontroversi Miftah dengan penjual es teh di Magelang, Sunhaji, sudah selesai. Pun, guyonan yang dianggap kontroversi itu bagi dia dan banyak santri asuhnya sebagai hal yang lumrah.

“Kalau boleh jujur, setiap hari saya diolok-olok. Tapi saya nggak pernah sakit hati karena itu memang watak beliau. Malah saya ini diumrahkan,” tegasnya.

Iklan

Mengapa sikap Miftah Maulana masih didukung?

Lebih lanjut, Indra menyebut bahwa Aliansi Santri Jalanan berasal dari berbagai kelompok yang merupakan binaan dari Miftah Maulana. Berdasarkan hitungan Mojok, ada lebih dari 300 orang yang ikut aksi siang tadi.

Indra juga menegaskan pihaknya bakal menggelar aksi lanjutan sampai pengunduran diri Miftah Maulana sebagai Utusan Khusus Presiden ditolak.

Demo Miftah Maulana.MOJOK.CO
Spanduk dukungan untuk Miftah Maulan (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Dihubungi Mojok, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Asep Suryana memahami mengapa masih ada pihak tertentu, khususnya dari kelompok santri masih memberi dukungan kepada Miftah Maulana. Padahal, sikapnya baru-baru ini dianggap sangat tidak mengejawantahkan sikap sebagai seorang pendakwah.

Menurut Asep, kata-kata kasar dan kontroversial Miftah tak mereka permasalahkan karena memang dianggap wajar bagi segmen peserta pengajiannya.

“Dalam tradisi kiai, ada dua kecenderungan: kiai-kiai yang agak agak sufi, soleh, jaga etika, jaga bahasa; tapi ada juga kiai yang cenderung agak preman-preman,” jelas Asep.

Dia menambahkan, Miftah berada pada tipe yang kedua, yakni pendakwah yang cenderung “agak preman-preman”. Bahasa yang dipakai dalam berdakwah pun cenderung kasar. Namun, ini menjadi maklum mengingat audiensnya yang memang kelompok abangan, mantan preman, sampai masyarakat subkultur nonsantri.

Punya kemampuan mengorganisir akar rumput

Asep juga tak kaget mengapa Miftah Maulana punya banyak loyalis. Sebab, dengan gaya bahasa yang “ugal-ugalan” tapi menyesuaikan audiens, ia jadi lebih mudah diterima.

Poin plusnya, cara itu jadi mudah untuk mengorganisir akar rumput. Apalagi kalau sasarannya memang kelompok masyarakat marginal dalam konteks Islam. Namun, bahasa yang keras ini memang tak bisa “masuk” ke semua kalangan.

“Apalagi kalau di kalangan NU kan kebanyakan audiensnya adalah wong cilik, mereka yang marjinal secara ekonomi. Nah, melihat label Gus-Gus itu, mereka akan mudah percaya [apa yang dikatakan],” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Alasan Ceramah Miftah Maulana Lucu Bagi Orang yang Duduk di Belakangnya, tapi Pahit Bagi Seluruh Warga Dunia

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 9 Desember 2024 oleh

Tags: demo santrigus miftahJogjaMiftah Maulanasantrisantri jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Bukan Cuma Gaji Kecil, Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja Juga Mesti Siap dengan Budaya Pekewuh yang Memperlambat Kerjaan Mojok.co
Pojokan

Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan

22 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO
Urban

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO
Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. MOJOK.CO

Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia

21 Maret 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
Memelihara kucing.MOJOK.CO

Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya

20 Maret 2026
Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026
Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.