Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Apa itu Populisme yang Disebut-sebut Menjadi Ancaman Demokrasi?

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
25 Februari 2023
A A
populisme trump

Ilustrasi ikon populisme, Donald Trump. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Populisme menjadi salah satu istilah yang kerap kita dengar menjelang Pemilu 2019 silam. Populisme ini meskipun sekilas terkesan baik, dalam praktiknya belakangan sering dianggap teman baik politik identitas. Jadi, apa sebenarnya populisme itu?

Sejak terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS pada 2017 lalu, diskursus mengenai populisme menjadi sering dibahas. Trump, yang dianggap sebagai figur rasis, antimuslim, dan xenofobik, justru dipilih untuk memimpin negeri yang jadi “kiblat” demokrasi modern itu.

Alhasil, banyak pakar pun khawatir bahwa gelombang populisme mulai menjangkiti negara-negara Barat. Khusunya di Amerika Serikat dan Eropa.

Apa yang dikhawatirkan para pakar pun memang benar-benar kejadian. Selepas dipilihnya Trump, negara-negara Barat lain menyusul dengan memilih pemimpin-pemimpin populis. Sebut saja Boris Johnson di Inggris, Victor Orban di Hungaria, Jair Bolsonaro di Brazil, hingga di Asia, India memilih pemimpin ultranasionalis Hindu Narendra Modi.

Pemimpin-pemimpin tersebut, pada dasarnya punya banyak kesamaan yang mencirikan karakteristik populisme: cenderung rasis, antipluralitas, xenofobik, dan punya pandangan nasionalisme fanatik alias fasis.

Populisme dan kecenderungannya

Mendefinisikan populisme harus hati-hati dan teliti, karena jika keliru bakal bikin rancu. Secara terminologi, populisme sendiri merujuk pada “paham yang mengakui dan menjunjung tinggi hak, kearifan, dan keutamaan rakyat kecil”.

Dengan demikian, secara terminologi ia terlihat positif, mengingat populisme menjadi paham yang bertujuan menyejahterakan masyarakat, utamanya rakyat kecil. Namun, dalam ilmu politik, populisme agaknya dilihat sebagai ancaman karena ia bisa menimbulkan perpecahan, polarisasi, dan mengikis nilai-nilai demokrasi.

Pakar politik Belanda Cas Mudde, misalnya, menyebut bahwa populisme punya tendensi memecah belah. Dalam bukunya, Populism: A Very Short Introduction (2017), ia menyebut bahwa populisme punya kecenderungan membagi masyarakat ke dalam dua kelompok: pure people (“kelompok kita” alias “rakyat) dan corrupt elite (penguasa).

Masalahnya, dalam politik modern, pembagian ini amat rancu dan didefinisikan secara sembrono sesuai kemauan tokoh populis. Pun, rakyat juga mendefinisikan para populis biasanya hanya merujuk pada kelompok tertentu saja, seperti berdasarkan agama, etnis, atau ras tertentu.

Pemimpin populis, biasanya punya komitmen secara moral untuk jadi wakil “rakyat yang ia wakili”—pure people yang tadi. Ini bahaya, karena dengan mudahnya, ia bisa mengubah sistem pemerintahan menjadi otoriter dengan mengecualikan orang-orang yang tidak dianggap menjadi bagian dari “rakyat” tersebut.

Ini seperti disampaikan Benjamin Moffit dalam bukunya The Global Rise of Populism (2016), yang menyebut pemimpin populis biasanya memang berperilaku buruk. “Perilaku buruk” di sini, lebih ke sifat-sifat yang antipluralitas, seperti rasis, xenofobik, hingga anti-imigran, karena melihat perbedaan adalah ancaman.

Ini pernah kejadian di era fasisme Partai Nazi Jerman, di mana Adolf Hitler mendefinisikan “rakyat” sebagai ras Arya, yang berarti luar itu “bukan rakyat”. Imbasnya, orang-orang yang tidak dianggap sebagai rakyat harus disingkirkan.

Sementara hari ini, banyak pakar menyebut Donald Trump adalah tokoh populis terbesar abad ke-21. Ini terlihat dari perilaku-perlikaunya, misalnya, di masa kepemimpinannya selalu mengklaim bahwa pendapat yang berseberangan dengannya adalah “musuh besar”.

Bahkan, berita-berita yang berisi kritik ia klaim sebagai fake news. Kebijakan-kebijakannya pun cenderung diskriminatif, seperti anti-imigran, anti terhadap warga kulit berwarna, dan antimuslim.

Iklan

Populisme bukanlah ideologi

Namun, yang harus dipahami, meskipun terdapat kata “isme”, populisme bukanlah ideologi. Ilmuwan politik Belgia Chantal Mouffe dalam bukunya Populisme Kiri (2018), menyebutkan bahwa populisme bukanlah ideologi dan tidak bisa diatribusikan pada program-program tertentu. Bahkan, ia tidak bisa dibilang rezim. Pendeknya, populisme adalah “corak politik”.

“Populisme adalah cara berpolitik yang bisa mewujud pada pelbagai bentuk ideologi (baik kiri maupun kanan), tergantung pada waktu dan tempatnya,” jelasnya, menegaskan bahwa populisme tak selalu dari ekstrim kanan, tapi juga bisa dari spektrum kiri.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Amanatia Junda

BACA JUGA Ironi Populisme, Demokrasi, dan Gerakan Relawan yang Menghambat Kaum Muda Melek Politik

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2023 oleh

Tags: ancaman demokrasiPemilu 2019Pemilu 2024politik identitaspopulismetrump
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, KKN Undip.MOJOK.CO
Kampus

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

14 Juli 2024
Komeng: Olok-Olok Rakyat Biasa untuk Menertawakan Politik MOJOK.CO
Esai

Komeng Adalah Bentuk Olok-Olok Paling Menohok yang Mewakili Lapisan Masyarakat Biasa untuk Menertawakan Politik

19 Februari 2024
bayi prabowo gibran di sumatera selatan.MOJOK.CO
Ragam

Kisah Bidan yang Membantu Persalinan Bayi Bernama Prabowo Gibran di Sumatera Selatan

16 Februari 2024
Menyaksikan Coblosan di Wotawati, Kampung Warisan Majapahit yang Mataharinya Tenggelam Pukul 15.00 MOJOK.CO
Aktual

Menyaksikan Coblosan di Wotawati, Kampung Warisan Majapahit yang Mataharinya Tenggelam Pukul Tiga Sore

14 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026
Mahasiswa KKN di desa

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026
Lulusan farmasi PTS Jogja foto keluarga

Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

7 April 2026
Vera Nur Fadiya, kuliah di jurusan sepi peminat (Matematika) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, jadi jalan wakili mimpi orang tua MOJOK.CO

Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah

11 April 2026
Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO

Semakin Berat Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo: Sudah Margin Keuntungan Sangat Tipis Sekarang Terancam Makin Merana karena Kenaikan Harga

9 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.