Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Konter

Kelihatan Sepele dan Menggemaskan, tapi Ternyata Roblox Menyimpan Risiko yang Sangat Berbahaya

Anggi Thoat Ariyanto oleh Anggi Thoat Ariyanto
7 Agustus 2025
A A
Roblox Menggemaskan, tapi Menyimpan Risiko yang Berbahaya MOJOK.CO

Ilustrasi Roblox Menggemaskan, tapi Menyimpan Risiko yang Berbahaya. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bagi sebagian orang, Roblox itu lucu, menggemaskan. Namun, di balik kelucuan itu, ada bahaya yang mengancam masa depan anak-anak.

Bukan rahasia lagi bahwa bermain game online terlalu sering bisa berdampak negatif bagi penggunanya, terutama anak-anak. Dan salah satu platform game yang saat ini sedang populer di kalangan anak-anak hingga remaja adalah Roblox.

Platform ini dikenal luas karena menghadirkan berbagai macam permainan yang interaktif dan imersif. Salah satu contohnya adalah Brookhaven, game yang menawarkan dunia terbuka tempat pemain bisa memilih peran (seperti polisi, dokter, siswa, dan sebagainya). 

Roblox mampu menarik pengguna dari segala usia. Usia pengguna game ini terbagi menjadi dua, yaitu di bawah 13 tahun dengan 32,5 juta pemain dan 52,1 juta di atas 13 tahun. Ini menunjukkan jangkauan demografisnya yang luas.

Lahir dari kreasi David Baszucki dan Erik Cassel

Daya tarik Roblox terletak pada kemampuannya untuk memberikan kebebasan bagi pengguna. Misalnya, membuat game sendiri serta memainkan game buatan pengguna lain. Dalam satu platform, anak-anak bisa bermain sekaligus belajar membuat game. Sekilas, ini tampak sebagai ruang bermain digital yang aman dan edukatif.

Roblox lahir dari visi David Baszucki dan Erik Cassel sejak 2004. Game ini awalnya bernama DynaBlocks sebelum resmi rilis pada 2006 dengan nama baru: gabungan dari “robot” dan “blocks”. 

Sebagai platform game komunitas, Roblox terus berkembang. Ia hadir di iOS (2011), Xbox One (2015), meledak saat pandemi 2020, dan mencetak sejarah lewat IPO di NASDAQ pada 2021. Terbaru, pada 2024, Roblox meluncurkan sistem monetisasi baru yang memberi pengembang lebih banyak peluang meraih pendapatan.

Namun, di balik keseruan dan kesuksesan itu, ada risiko tersembunyi yang sering tidak disadari oleh para orang tua. Platform yang terbuka dan sangat luas ini tidak hanya menjadi tempat anak-anak bermain, tetapi juga bisa menjadi celah bagi berbagai konten yang belum tentu sesuai usia.

Pelarangan anak-anak bermain Roblox

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti melarang anak-anak bermain game Roblox. Alasannya, Pak Abdul menganggap game ini mengandung unsur kekerasan dan konten negatif yang tidak sesuai untuk usia dini.

Pak Abdul juga menekankan, alasan utama pelarangan itu adalah karena Roblox memuat unsur kekerasan yang dapat berdampak buruk pada psikologis dan perilaku anak. Menurutnya, anak-anak belum mampu membedakan antara dunia nyata dan dunia virtual, sehingga mereka cenderung meniru apa yang dilihat dalam game.

Konten dewasa di dunia anak-anak

Banyak orang tua mengira Roblox hanyalah permainan biasa untuk senang-senang. Padahal, karena sifatnya yang terbuka dan bisa diakses oleh siapa saja, Roblox juga diisi oleh pengguna dengan usia yang jauh lebih tua. 

Parahnya lagi, tidak ada batasan tegas dalam proses pengembangan konten game di platform ini. Siapa saja bisa menjadi developer dan membuat game dengan tema apa pun. 

Akibatnya, banyak konten yang beredar di Roblox mengandung unsur tidak pantas untuk anak-anak. Misalnya seperti karakter berpakaian tidak senonoh, tema kekerasan, hingga konten yang mengandung unsur SARA dan SARU.

Risiko lainnya adalah meningkatnya kecenderungan anak-anak untuk meniru adegan kekerasan yang mereka lihat dalam permainan. Mereka belum bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya fiksi dalam game. 

Iklan

Sudah begitu lagi, frekuensi bermain yang terlalu tinggi bisa berdampak pada perkembangan sosial dan emosional mereka. Banyak anak menjadi kecanduan, menarik diri dari interaksi sosial, serta mengalami penurunan kemampuan komunikasi dan empati terhadap lingkungan sekitar.

Dunia Roblox tak selucu Avatar-nya

Dampak finansial juga menjadi masalah tersendiri. Roblox menggunakan mata uang virtual bernama “Robux”. Pengguna bisa mendapatkan mata uang ini dengan membelinya menggunakan uang sungguhan. 

Tidak sedikit anak yang akhirnya merengek, bahkan memaksa orang tuanya untuk membelikan Robux. Mereka ingin membeli item virtual seperti pakaian karakter (skin), senjata, dan berbagai aksesori lainnya. Tanpa kontrol yang jelas, pengeluaran bisa membengkak hanya demi hal-hal yang bersifat digital semata.

Kecanduan bermain Roblox, jika tidak ditangani dengan bijak, bisa menjadi ancaman serius bagi masa tumbuh kembang anak. Orang tua sering terjebak dalam dilema.

Misalnya, mereka memberikan ponsel atau perangkat digital kepada anak dengan harapan bisa menghibur atau membantu belajar. Namun, kemudian mereka lengah dalam mengawasi penggunaannya. Wajar saja jika pada akhirnya muncul kemarahan atau penyesalan saat anak menjadi kecanduan dan sulit dikendalikan.

Dalam situasi seperti ini, “kontrol dan pendampingan dari orang tua menjadi prioritas utama”. Jangan terlalu percaya bahwa semua game yang populer itu aman. 

Ingat, developer game tidak selalu peduli siapa yang memainkan game mereka, berapa usia pemainnya, atau dampak psikologisnya. Yang terpenting bagi mereka adalah menghasilkan uang. 

Mereka bisa diibaratkan seperti penjual permen di depan sekolah. Orang-orang ini tahu bahwa permen itu bisa merusak gigi anak-anak, tetapi tetap dijual karena laku keras. Soal dampaknya? Itu dianggap bukan urusan mereka.

Penulis: Anggi Thoat Ariyanto

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Orang-Orang yang “Mati” Karena Kecanduan Game dan catatan menarik lainnya di rubrik KONTER.

Terakhir diperbarui pada 6 Agustus 2025 oleh

Tags: Abdul Mu’ti robloxbahaya Robloxcara download RobloxMendikdasmen robloxRobloxRoblox dilarang
Anggi Thoat Ariyanto

Anggi Thoat Ariyanto

Seorang pemuda asal Jambi yang menempuh perjalanan akademisnya di Universitas Amikom Yogyakarta. Menetap di Jogja memberinya perspektif baru dalam melihat perpaduan antara budaya lokal dan perkembangan teknologi digital. Memiliki ketertarikan besar pada dunia game yang dinikmati sebagai sarana mengasah pola pikir di waktu luang.

Artikel Terkait

No Content Available
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kecanduan gadget pada anak. MOJOK.CO

Petaka yang Terjadi Saat Orang Tua Sibuk Mengejar Dunia dan Anak yang Terlalu Sering Menggunakan Gawai hingga Candu

7 Januari 2026
Lima Kali Alesha Operasi Mata dan Sebuah Doa yang Tak Lagi Sama MOJOK.CO

Lima Kali Alesha Operasi Mata dan Sebuah Doa yang Tak Lagi Sama

5 Januari 2026
foto orang meninggal di media sosial nggak sopan kurang ajar. mojok.co

Meninggal di Desa Itu Sebenarnya Mahal, Menjadi Murah karena Guyub Warganya

5 Januari 2026
14 juta pekerja terima gaji di bawah UMP/UMK, sebagian besar dari kalangan lulusan perguruan tinggi (sarjana) MOJOK.CO

Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja

9 Januari 2026
Resign kerja di Jakarta pilih di Bali. MOJOK.CO

Baru Satu Tahun Kerja di BUMN, Pilih Resign karena Nggak Kuat “Ugal-ugalan” di Jakarta sampai Temukan Peluang Karier Lebih Baik di Bali

6 Januari 2026
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

7 Januari 2026

Video Terbaru

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.