Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Versus

Seperti Golkar dan Partai Berkarya, Mentega dan Margarin Sama-Sama Kuning, tapi Beda!

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
27 Mei 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Salah kaprah di level dapur yang paling mainstream: nyama-nyamain mentega dan margarin, padahal jelas-jelas berbeda. Duh, situ ngerti nggak, sih?

Setiap tahun menjelang Lebaran, ibu saya bakal duduk manis di meja makan setiap selesai sahur, di hadapan adonan kue kering dan cetakan-cetakannya. Iya, beliau tentu saja bermaksud mempersiapkan bertoples-toples kue untuk ditaruh di ruang tamu, dalam rangka menyambut hari raya kelak.

Kadang-kadang, saya ingin membantu, tapi ujung-ujungnya ibu saya cuma nyuruh saya cuci baskom dan loyang. Bukan apa-apa—soalnya saya pasti selalu ngerusakin cetakan kue. Ajaib memang.

Lantaran “kesialan” tadi, saya mencoba untuk membantu di tahap yang lain: membeli bahan-bahan kue. Biasanya, Ibu akan menyuruh saya mencatat bahan yang perlu dibeli, dan—hampir setiap tahun—kami bertanya-tanya pada suatu hal: apakah mentega dan margarin adalah sama.

“Jangan lupa beli margarin.”

“Mentega apa margarin?”

“Sama aja, itulah maksudnya.”

“Bu, mentega sama margarin itu beda! Tapi, yaaa, aku juga nggak tahu bedanya apa, sih. Hehe.”

Sebelum momen itu terulang kembali tahun ini, saya rasa menjadi penting bagi kita semua untuk mencari tahu apa bedanya mentega dan margarin sesungguhnya. Atau, yang lebih mendasar: apakah mentega dan margarin memang berbeda? Atau jangan-jangan, ini cuma masalah penggunaan bahasa saja? Hmm?

Dikutip dari Kompas.com, hal ini ternyata diaminkan oleh President of Indonesia Pastery Alliance, Rahmat Kusnaedi. Menurutnya, seharusnya pertanyaan kita adalah “apa bedanya margarin dan butter?” bukannya “apa bedanya margarin dan mentega?”. Pasalnya, Rahmat meyakini bahwa margarin dan mentega adalah hal yang sama, hanya terpisah oleh terjemahan.

“Margarin itu bahasa Inggris, mentega bahasa Indonesia.”

Meski demikian, banyak sumber menyatakan bahwa mentega dan margarin memang merujuk pada dua produk berbeda. Istilah butter dalam bahasa Inggris sekalipun juga banyak diasosiasikan dengan istilah mentega dalam bahasa Indonesia. Artinya, patutlah kita menilai mentega dan margarin merupakan dua hal yang tak sama, meski sama-sama berwarna kuning.

Yah, nggak semua yang warnanya kuning itu sama, kan? Kalau sama, ngapain juga Mbak Titiek Soeharto pindah dari Golkar ke Partai Berkarya? Hehe.

Lagi pula, kayaknya nggak lucu kalau kita menutup artikel ini dengan kalimat “Ternyata mereka sama saja, mylov! Masalah selesai!”, ya, kan? Jadi, lebih baik kita jabarkan aja sekalian alasan-alasan kenapa mentega dan margarin itu berbeda, persis kayak kepribadianmu dan dirinya yang berkebalikan dan nggak compatible~

Iklan

Pertama, margarin berasal dari lemak nabati, sedangkan mentega terbuat dari lemak hewani.

Lemak nabati margarin yang dimaksud umumnya berupa minyak kelapa yang dikenai proses hidrogenasi, yaitu perubahan bentuk cair menjadi padat dengan bantuan gas hidrogen. Margarin yang berbahan nabati ini memiliki kadar lemak dan kolesterol lebih rendah.

Sementara itu, mentega bukanlah pilihan yang bagus-bagus amat buat kamu yang memutuskan jadi vegetarian. Ia berasal dari lemak hewani, berupa lemak susu dengan lemak jenuh cukup tunggu. Mula-mula, susu—sebagai bahan dasarnya—akan dibiarkan beberapa hari dalam suhu dingin, tepat seperti kamu kalau lagi dikasih silent treatment dari pacar yang lagi ngambek. Lama kelamaan, krim susu bakal terbentuk, setelah terpisah dari bagian yang cair.

Kedua, karena bahan dasarnya berbeda, tentu tekstur dan penggunaannya berbeda pula.

Dengan kandungan air mencapai 20% (lebih banyak daripada margarin yang hanya 16%), mentega tidak memiliki tekstur yang lebih kaku dibandingkan dengan margarin. Dengan demikian. daya emulsi mentega juga kalah kuat dan stabil. Apa dampaknya dalam pembuatan adonan kue?

Tentu saja, kuenya jadi lebih lembek, Maemunah. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan kenapa mentega banyak digunakan pada kue-kue serupa black forest, sementara margarin dibutuhkan dalam proses pembuatan kue-kue kering. Pasalnya, kue hasil adonan yang menggunakan margarin memang lebih ciamik: lebih lembut dan tidak mudah hancur.

Ah, coba kalau margarin bisa diolesin ke hati yang patah berkeping-keping gara-gara putus cinta, ya?

Ketiga, meski sama-sama berwarna kuning—seperti yang tadi sempat disinggung—kadar kekuningan mereka pun ternyata berbeda. Sebelum lanjut ke paragraf berikutnya, coba tebak, siapa yang lebih kuning: mentega atau margarin?

Ternyata, lemak nabati yang lebih berminyak membawa keuntungan bagi margarin: warna kuningnya lebih cemerlang dibandingkan dengan warna mentega yang berasal dari lemak hewani. Pengetahuan ini, saya rasa, bermanfaat juga untuk kita terapkan pada jokes kotor yang bertahun-tahun nggak ada perkembangannya, seperti: “Kuning-kuning, kayak tokai yang ngambang di kali!”

Nah, mulai hari ini, ubahlah jokes yang melecehkan warna kuning tadi dengan: “Kuning-kuning, kayak lemak nabati yang mengalami proses hidrogenasi!”

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: butterGolkarkue lebaranmentega dan margarinpartai berkaryaperbedaan
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Sekar Krisnauli Tandjung politisi muda golkar solo
Video

Sekar Krisnauli Tandjung: Memilih Karier Politik Setelah Mendalami Jurnalistik

8 November 2023
penurunan suara partai golkar mojok.co
Podium

Melihat 5 Babak Penurunan Suara Golkar dalam Pemilu, 2024 Bakal Anjlok Lagi?

4 Agustus 2023
kudeta golkar mojok.co
Kotak Suara

Golkar Sering Banget ‘Kudeta’ Ketum, Kira-kira Apa ya Penyebabnya?

3 Agustus 2023
partai golkar bikin poros baru mojok.co
Kotak Suara

Pakar Politik UGM: Golkar Lebih Baik Ganti Airlangga ketimbang Bikin Poros Koalisi Baru

14 Juli 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
Pakai hp android Samsung S26 terintimidasi user iPhone. Tapi tak berpaling karena Samsung lebih berguna dari iPhone yang hanya memperdaya pengguna MOJOK.CO

Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya

26 Februari 2026
Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Meme yang Viral Itu Mojok.co

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Banyak Meme yang Viral Itu

23 Februari 2026
User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026
merantau di Jogja.MOJOK.CO

Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa

25 Februari 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.