Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Versus

Romantisisasi Bentuk Serapan “Romantisasi” yang Salah

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
15 Juli 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dikit-dikit romantisasi, dikit-dikit ngomentarin romantisasi. Tapi memangnya kamu tahu kalau istilah yang benar itu “romantisisasi”, bukan “romantisasi”?

Zaman sekarang, pekerjaan yang rasa-rasanya paling mungkin dilakukan semua orang adalah menjadi pujangga. Oh, atau penyair. Atau selebtwit. Atau, sederhananya, penutur kisah-kisah yang menyentuh hati.

Ih, apa sih maksudnya?

Belakangan, saya menemukan istilah “romantisasi” yang merajalela di lini masa media sosial. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan keindahan akan sesuatu, mengisahkan hal-hal yang menyentuh hati, dan menunjukkan kesan yang mendalam.

Tapi, sesungguhnya, apakah “romantisasi” adalah kata yang benar? Kenapa belum ada di KBBI?

Nyatanya, kata “romantisasi” selama ini adalah bentuk yang kurang tepat. Sebenarnya, bentuk yang paling diterima alias bentuk serapan yang sesungguhnya adalah…

…”romantisisasi”!!!!!!!1!!!1!!!

Iya, iya, Saudara-saudara, bentuk yang benar adalah “romantisisasi”, bukan “romantisasi”. Mamam noh~

Akhiran “-isasi” ini konon bermula dari akhiran “-tie” dalam bahasa Belanda (misal: “spesialisasi” dan “specialisatie”). Dari segi lafal dan pengucapan, bahasa Indonesia memang memiliki kedekatan lebih kepada bahasa Belanda daripada bahasa Inggris.

Namun, meski merupakan bentuk serapan yang salah, kata “romantisasi” sepertinya masih lebih populer dibandingkan “romantisisasi” belakangan ini. Padahal, kalau dipikir-pikir, pedoman penambahan “-isasi” dalam bahasa Indonesia, kan, sudah lama dibentuk—ha wong mengikuti pedoman dari bahasa Belanda, je. Masa iya sekarang jadi harus ternoda hanya karena apa yang populer dan apa yang tidak populer?

“Romantisisasi” lahir dari kata “romantis” yang dibubuhi akhiran “-isasi”. Terlepas dari bahasan soal bentuk penyerapannya yang salah sebagai “romantisasi”, sudahkah kamu benar-benar tahu apa fungsi istilah “romantisisasi” ini?

Dalam KBBI, “romantis” berarti “bersifat seperti dalam cerita roman (percintaan); bersifat mesra; mengasyikkan”. Sementara itu, dalam Cambridge Dictionary, ia bermakna relating to love or a close loving relationship dan exciting and mysterious and having a strong effect on your emotions. Nah, makna “exciting and having a strong effect on emotions” inilah yang kemudian mendasari gerakan-gerakan romantisisasi hampir di segala hal, mulai dari Jogja, kesedihan, sampai TNI/Polri.

Romantisisasi, dalam bahasa Inggris, adalah romanticization atau romanticize.  Menurut Cambridge Dictionary, romanticize adalah to talk about something in a way that makes it sound better than it really is, or to believe that something is better than it really is.

Apa? Contoh spesifik romantisisasi? Ya coba aja kamu duduk dan pikir baik-baik betapa kamu selalu memuja gebetanmu, menghujani dirimu sendiri dengan ingatan manis soal dirinya dan caranya tersenyum padamu, padahal mungkin kamu juga sebenarnya ingat betapa dia menyakitimu dalam-dalam—tapi ya nggak apa-apa, yang penting romantisisasi. Gitu, kan?

Iklan

Pada dasarnya, romantisisasi lahir dari keputusan kita untuk “buta” akan nilai-nilai kesedihan, kegagalan, atau apa pun yang menyakiti hati, dan lebih memilih untuk menonjolkan nilai kebaikan atau nilai apa pun yang lebih baik untuk dikenang. Sekilas, romantisisasi terdengar seperti apresiasi, tapi ini jelas hal yang berbeda, mylov.

Masih menurut Cambridge Dictionary, appreciation berarti the act of recognizing or understanding that something is valuable and important. Dari pengertian ini, setidaknya kita bisa menyimpulkan sesuatu, yaitu romantisasi lahir dari asumsi yang menyenangkan, sedangkan apresiasi muncul dari pemahaman menyeluruh atas suatu kebaikan.

Yaaah, sebagai contoh, apresiasi adalah keadaan di mana gebetanmu akhirnya menyadari bahwa kamu ternyata cukup baik dan layak diperjuangkan balik. Eaaa~

Terakhir diperbarui pada 15 Juli 2019 oleh

Tags: bahasa Belandabhasa IndonesiaIstilahKBBIromantisromantisasiromantisisasi
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)
Pojokan

Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

5 Januari 2026
Istilah Investasi Saham mojok.co
Ekonomi

7 Istilah Investasi Saham yang Penting Kamu Pahami

22 Oktober 2022
tulisan ki hadjar dewantara tentang bahasa belanda
Arsip

Alasan Nggak Ada Pelajaran Bahasa Belanda di Indonesia

5 April 2022
ilustrasi 5 Cara Mencegah Pertengkaran yang Terjadi Akibat Salah Baca Google Maps mojok.co
Pojokan

5 Cara Mencegah Pertengkaran yang Terjadi Akibat Salah Baca Google Maps

28 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
meminjam uang, lebaran.MOJOK.CO

Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit

21 Maret 2026
Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.