Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Versus

Mana yang Benar: Basa Jawa atau Boso Jowo?

Bonari Nabonenar oleh Bonari Nabonenar
29 Juni 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sudah tepatkah cara kita menuliskan kata-kata dalam bahasa Jawa ragam tulisan? Mana yang paling benar: basa Jawa atau boso Jowo?

Sudah sekian tulisan dalam bahasa Jawa dengan huruf Latin ditayangkan oleh Mojok dan kita dapat melihat ketidakajegannya dalam penggunaan ejaan. Padahal, sebaiknya kita tertib dalam penggunaan huruf-huruf berikut: a – o, u – o, t – th,dan d – dh. Jika tidak, ketidakajegan itu akan membuat bahasa Jawa ragam tulis dengan huruf Latin makin sulit dipahami oleh orang Jawa sendiri. Lebih dari itu, penulisan kata-kata tertentu dengan huruf yang salah akan mengundang masalah. Bersabarlah, nanti akan saya tunjukkan contohnya.

Jika kita  mau sedikit berusaha, penulisan bahasa Jawa dengan huruf Latin ini sudah dibuat buku pedomannya. Sebagian di antaranya dibagikan secara gratis kepada para peserta Kongres Bahasa Jawa VI di Yogyakarta (2016). Rujukan lain untuk kepentingan ini adalah ejaan bahasa Jawa dalam huruf Latin yang digunakan oleh majalah Djaka Lodang (Yogyakarta) Jaya Baya, Panjebar Semangat (Surabaya), rubrik Jagad Jawa (Solo Pos), Mekar Sari (Kedaulatan Rakyat), dan Sang Pamomong (Suara Merdeka). Jika kesulitan mendapatkan versi cetaknya, sebagian besar di antaranya sudah dapat diakses dalam versi daring.

Saya kira—dan  seharusnya memang demikian—Mojok ingin menampilkan bahasa Jawa yang lebih kekinian, segar, renyah, gaul, dan tidak seperti yang digunakan oleh media-media (cetak) yang saya sebut sambil menyarankannya untuk dijadikan rujukan itu. Jadi, contohlah saja aturan penulisan ejaannya, bukan diksi dan gayanya.

Bahasa Jawa memiliki susunan abjadnya sendiri yang disebut carakan, yang jika disalin ke dalam huruf Latin menjadi: ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga. Jadi, dalam bahasa Jawa dikenal huruf dha (dh), selain da (d). Kata wedi (takut) berbeda dengan wedhi (pasir), Landep (nama wuku: Sinta, Landep, Wukir, Kranthil, Tolu, Gumbgreg,… dst.) berbeda dengan landhep (tajam), duduk=nglajo (orangnya disebut pelaju atau komuter) berbeda dengan dhudhuk (gali, ndhudhuk=menggali).

Dalam bahasa Indonesia sepertinya tidak dikenal aksara d. Itulah sebabnya, karena sudah kadung keranjingan spelling bahasa Indonesia, dalam lomba baca cerpen atau puisi Jawa, biasanya banyak peserta kesulitan melisankan huruf d. Alhasil, kata wedi (takut) dibaca sebagai wedhi (pasir). Demikian pula halnya dengan bunyi aksara th yang sepertinya tidak dikenal pula dalam bahasa Indonesia.

Sementara itu, sebaliknya, bahasa Bali justru tidak mengenal bunyi/aksara t, sehingga kalau suatu saat Anda menjaga toko lalu datang orang Bali dan bertanya, ”Ada obat bathuk?” yakinlah bahwa yang dimaksudkan adalah ”obat batuk”, bukan obat dahi.

Dalam bahasa Jawa, dikenal bunyi dan aksara ta (t) seperti pada kata: tutuk (mulut), watuk (batuk), mantuk (mulih), dan dikenal pula bunyi/aksara tha (th), seperti pada kata: thuthuk (pukul; nuthuk=memukul, dithuthuk=dipukul), bathuk (dahi), dan manthuk (mengangguk). Ingat, tutuk (mulut) berbeda dengan thuthuk (pukul), sedangkan mantuk (pulang) berbeda dengan manthuk (mengangguk).

Yang tak kalah gawatnya adalah urusan a dengan o, serta u dengan o. Ingat, aksara atau huruf dasar carakan adalah: ha, na, ca, ra, ka, dan seterusnya. Hal ini berlaku dengan catatan bahwa aksara a dibunyikan/diucapkan seperti bunyi huruf o pada kata ‘’tokoh”, bukannya ditulis demikian sehingga menjadi: ho, no, co, ro, ko, dan seterusnya. Aksara ha baru menjadi ho setelah diberi tanda (disandhangi) taling-tarung, menjadi hi setelah di-wulu, menjadi hu setelah di-suku, dan seterusnya. Berikut ini adalah contoh pemakaian huruf o yang salah:

  1. sopo seharusnya sapa (siapa)
  2. piro seharusnya pira (berapa)
  3. monggo seharusnya mangga (mari/silakan)
  4. opo seharusnya apa (apa)
  5. tonggo seharusnya tangga (tetangga)
  6. turonggo seharusnya turangga (jaran)
  7. manungso seharusnya manungsa (manusia)
  8. boso Jowo seharusnya basa Jawa (bahasa Jawa)

Di sinilah letak gawatnya jika kita ngawur menggunakan aksara a dan o:

  1. sata (tembakau) – soto (soto)
  2. teka (datang) – teko (ceret)
  3. lara (sakit) – loro (dua)
  4. cara (cara/metode) – coro (kecoak)
  5. pala (buah) – polo (otak)
  6. mala (penyakit) – molo (rangka bubungan)
  7. mrana (ke sana) – mrono (ke situ)

Ada yang memakai penambahan e/ne atau ipun/nipun sebagai pedoman untuk membedakan mana yang seharusnya dituliskan dengan a dan mana yang seharusnya menggunakan o. Huruf a pada kata cara (cara/metode) dibaca dengan bunyi a seperti o pada kata tokoh. Namun, ketika ditambahkan –ne, ia menjadi carane. Bunyi huruf a pada kata carane harus dibaca seperti huruf a pada kata saya, luka, siapa, dll.

Akan ada masalah ketika kita bertemu dengan orang Surabaya dan sekitarnya. Dalam lisan basa Jawa subdialek Surabaya, kata carane tetap diucapkan sebagai corone atau coroe (dengan bunyi o seperti yang ada pada kata pokok atau tokoh). Tetapi, itu hanyalah urusan dialek/subdialek. Ingat, yang sedang kita bicarakan adalah ragam bahasa Jawa yang mengatasi semua dialek/subdialek yang ada.

Kita juga akan cukup gampang mendapatkan contoh penulisan kata weroh, butoh, wanoh, manok, pulot, sikot, dll. Padahal, ketika mengutarakannya dalam bentuk lisan, mereka akan mengucapkan huruf o pada kata-kata tersebut dengan bunyi seperti huruf u pada kata batuk.

Tetapi, sekali lagi, kita sedang berbicara mengenai ragam basa Jawa yang mengatasi semua dialek yang ada. Jika masih dibutuhkan semacam patokan untuk dipedomani, penambahan huruf e pun bisa dilakukan, misalnya pada kata-kata: sikut, pulut, rambut, patut, dan lain-lain, menjadi sikute, pulute, rambute, patute. Huruf u di situ akan diucapkan sebagai u biasa (seperti yang ada pada kata ibu). Artinya, kata sikut tidak boleh dituliskan sebagai sikot, pulut bukan pulot, dan seterusnya.

Iklan

Puncak kegawatan akan terjadi manakala orang menuliskan kata ngentot. Padahal, yang dimaksudkan adalah ngentut. Lebih gawat lagi jika orang mulai menuliskan kata kontol, padahal yang dimaksudkan adalah kuntul. Memang, baik kontol maupun kuntul adalah sejenis burung, tetapi, kan, beda spesies!

Terakhir diperbarui pada 29 Juni 2018 oleh

Tags: artikel bahasa jawaaturan bahasa jawabasa Jawaboso jowodialek
Bonari Nabonenar

Bonari Nabonenar

Artikel Terkait

kaum ngapak di kemang jakarta selatan.MOJOK.CO
Ragam

Orang Ngapak Melawan Rasisnya Warga Jakarta: ‘Bukan Dielek Ndeso, Aneh, Keras, Apalagi Bahasa Alien’

17 Januari 2025
Basa Jawa Pujakesuma Kuwi Aneh, ning Luwih Aneh Wong Jawa ing Jakarta MOJOK.CO
Rerasan

Basa Jawa Pujakesuma Kuwi Aneh, ning Luwih Aneh Wong Jawa ing Jakarta

10 Oktober 2020
Aja Mbok Kira Dadi Anake Wong Tani kuwi Sengsara
Rerasan

Aja Mbok Kira Dadi Anake Wong Tani kuwi Sengsara

4 Juli 2020
Rerasan

Dadi Guru Basa Jawa Iku Ora Gampang, Nganti Ora Ana Sing Buka Kursusan

1 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pilih side hustle daripada pekerjaan kantoran

Pilih Tinggalkan Kerja Kantoran ke “Side Hustle” demi Merawat Anak, Kini Kantongi Rp425 Juta per Bulan dan Lebih Dekat dengan Keluarga

31 Maret 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
Salah paham pada kuliner sate karena terlalu miskin. Baru benar-benar bisa menikmatinya setelah dewasa untuk self reward MOJOK.CO

Salah Paham ke Sate: Kaget dan Telat Sadar kalau 1 Porsi Bisa buat Diri Sendiri, Jadi Self Reward Tebus Masa Kecil Miskin

31 Maret 2026
Ambisi beli mobil sebelum usia 30. Setelah terbeli Suzuki Ertiga tetap tidak bisa senangkan orang tua dan jadi pembelian sia-sia MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia

3 April 2026
Work from home (WFH) untuk ASN tidak peka kondisi pekerja informal MOJOK.CO

WFH 1 Hari ASN Perlu Lebih Peka terhadap Kondisi Pekerja Informal

30 Maret 2026
Diledek ibu karena merantau dari Jakarta ke Jogja. MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pulang ke Jakarta setelah Sekian Lama, malah Diledek Ibu Saat Kumpul Keluarga karena Tak Bisa Sukses seperti Saudara Lainnya

29 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.