Hasil ngopi pagi tadi adalah sebuah inspirasi. Temanku Takim mengisahkan sepenggal perjalanan hidupnya di bawah naungan trembesi ditemani bercangkir-cangkir kopi. Dan seperti kopi kothok tanpa gula itulah kisah hidupnya akhir-akhir ini.

Semua bermula dari krisis Yunani. Perusahaan tempat Takim bekerja berada di ujung tanduk akibat krisis tak berkesudahan di negeri para dewa itu. Ekspor ke Yunani macet, dan keadaan diperparah dengan ikut macetnya pembayaran dari perusahaan rekanan yang bercokol di sana. Hasil produksi yang tak terjual dan kekosongan kas perusahaan adalah padanan yang serasi untuk menuju kebangkrutan.

“Setiap hari bosku mengomel, yang kemudian kulampiaskan kepada bawahanku,” tutur Takim. “Ia masih mengomeliku selama berbulan-bulan, sedangkan aku tak lagi bisa melampiaskan apa pun ke bawahanku. Mereka sudah dipecat.”

Berhubung tak ada manusia waras yang senang diomeli setiap hari, Takim memutuskan untuk mengundurkan diri. Itulah hari pertama ia melihat bosnya tersenyum setelah berbulan-bulan, yang sayangnya menjadi senyuman terakhir yang ia dapat. Pengunduran dirinya adalah berkah bagi perusahaan, sebab hanya karyawan yang diberhentikanlah yang berhak mendapat kompensasi.

Berstatus pengangguran dan hanya memiliki sedikit simpanan, keadaan Takim menukik ke titik terburuk. Istrinya, yang baru dinikahinya selama tiga bulan, menuntut cerai. Lamaran kerja yang ia sebar tak kunjung berbalas. Teman-temannya mulai menjauh. Dan orang tuanya, yang kecewa dengan peruntungan karier dan asmara anaknya itu, mendiamkannya.

“Seperti kata pepatah, sudah jatuh tertimpa naga,” ujarnya sambil terkekeh. “Tertimpa tangga masih mending.”

Namun, Takim selalu optimis kalau jalan keluar sudah dekat. Ia tahu bahwa hal pertama yang harus ia selamatkan bukanlah kondisi keuangan atau percintaannya, melainkan kewarasannya. Tanpa pikiran yang waras, keruwetan hidupnya malah bakal semakin kusut.

Kini Takim telah bekerja kembali sebagai juru tulis kelurahan. Sebelum berangkat bekerja itulah ia mengajakku ngopi dan membagikan tips mempertahankan kewarasan ala dirinya, yang kini kuteruskan kepadamu. Jangan anggap remeh, di tengah situasi jagad nyata dan maya yang semakin menggila seperti sekarang, amat penting bagimu untuk tetap waras.

Kiat pertama: sering-seringlah bersepeda.

Ketika mendengar kabar mengenai Takim yang melego murah Ninja-nya, aku menduga bahwa itu disebabkan oleh gabungan antara depresi dan kepepet. Namun, saat kulihat sepeda barunya yang mutakhir, yang garpu depannya bersistem pegas dan operan giginya dikontrol oleh perangkat elektrik, tahulah aku bahwa dugaanku keliru.

Baca juga:  Menghitung Kekayaan Kim Jong Un, Presiden Termuda yang Doyan Foya-foya

Bersepeda memang kegiatan yang menyehatkan. Menggowes selama setengah jam per hari dapat memperbaiki kebugaran tubuh, dan bila dilakukan secara rutin bisa menurunkan potensi terjangkiti penyakit tulang. Begitulah sabda para ahli kesehatan.

Asyiknya lagi, bersepeda bisa dilakukan di segala cuaca. Orang-orang tak akan menganggapmu sinting bila nekat bersepeda saat hujan atau tengah malam. Jogging juga bisa dilakukan saat hujan, sih, tetapi orang-orang bakal mengira kamu maling bila nekat melakukannya malam-malam.

Destinasi yang biasa dipilih oleh Takim untuk bersepeda adalah pedesaan. Itu merupakan destinasi yang bagus dan bisa kamu tiru. Pedesaan menawarkan situasi sepi yang mungkin kamu butuhkan untuk relaksasi. Udara pedesaan juga relatif bersih, yang teramat berguna untuk kesehatan organ pernapasanmu.

Hanya saja, jangan bersepeda terlalu jauh. Meskipun di peta jaraknya hanya tiga senti dari daerah tempatmu bermukim, bersepeda ke pedesaan di Korea Utara jelas keputusan yang buruk. Kemungkinan untukmu tiba di sana teramat kecil, dan kemungkinan untukmu pergi dari sana lebih kecil lagi. Di sana, sepeda hanya boleh dimiliki oleh segelintir orang, dan nekat memilikinya, bahkan menaikinya di jalanan, adalah tindakan yang bisa diasosiasikan dengan bunuh diri.

Kiat kedua: bercocok tanam.

Takim memiliki sepetak lahan terbengkalai di halaman belakang rumahnya. Selama masa gentingnya itu ia sering berlama-lama di sana untuk mengakrabkan diri dengan pacul dan tanaman dan segala macam pupuk. Lahan itu kini menjadi kebun sayur dan buah yang menjanjikan.

Bercocok tanam kerap dipilih oleh orang-orang untuk menenangkan diri. Tubuh yang terus bergerak, interaksi dengan tanaman, hingga ketelatenan dalam merawatnya merupakan kegiatan penghilang stres yang mujarab.

Bercocok tanam juga bisa menambah penghasilan. Sayuran organik dihargai mahal di pasaran, begitu pula dengan buah-buahan. Bila kamu memiliki lahan nganggur di rumah lalu kamu tanami cabe organik, besar kemungkinan kamu akan menjadi jutawan. Melihat kelakuan tengkulak cabe yang senang melambungkan harga sesuka hati, sungguh pantas kalau kamu mempersiapkan diri mulai dari sekarang. Cabe biasa saja sudah mahal, apalagi cabe organik.

Baca juga:  Drama Korea dan Uji Coba Nuklir Korea Utara

Tapi, ingatlah bahwa bercocok tanam juga harus mempertimbangkan tempat. Kamu yang tinggal di apartemen janganlah memaksakan diri; bagaimanapun, memaculi area publik di dekat gerbang lalu menanaminya dengan petai cina atau mangga gadung merupakan tindakan yang sungguh berisiko.

Ingat-ingat pula bahwa ada banyak daerah di Indonesia yang tak aman dipakai untuk kegiatan ini. Majalengka, misalnya. Di daerah ini, kamu mesti berhadapan dengan aparat untuk bercocok tanam bahkan di lahan milikmu sendiri. Berhadapan dengan aparat adalah sebentuk kerunyaman; mereka lebih suka memukul dan menembak sebelum menghardikmu, bukan sebaliknya.

Kiat ketiga: menikah.

Saran Takim yang ini layak diragukan. Alasannya, pernikahannya sendiri berantakan di usia mula—bagaimana bisa orang-orang percaya pada omongannya bila ia sendiri gagal melakukannya?

Tetapi, kalau mau ditelaah secara mendalam dan dari cara pandang yang teramat longgar, memiliki pasangan hidup adalah opsi yang cukup masuk akal. Di depan pasangan hidupmu, kamu menampilkan dirimu secara jujur, tanpa pretensi apa pun sebagaimana yang biasa kamu lakukan ketika berhadapan dengan orang lain.

Pasangan hidup juga merupakan tempat berbagi yang sempurna. Meskipun kepedihan tak bisa dipindahkan, perasaanmu akan menjadi lebih tenang saat membagi cerita dengannya. Bahkan andai pasanganmu hanya duduk diam mendengarkan sekalipun. Kamu tak perlu takut ceritamu dibocorkannya ke pihak luar, dan kamu tak perlu cemas harga dirimu jatuh akibat membuka belang.

Namun, itu semua hanya berlaku bila kamu mendapat pasangan hidup yang tepat. Bilamana pasangan hidupmu malah membuat hidup makin pelik untuk dijalani?

“Kalau kau mendapat pasangan yang baik, kau akan menjadi orang baik. Tapi, kalau kau mendapat pasangan yang buruk, kau akan menjadi filsuf,” ujar Takim memungkasi obrolan kami. “Menjadi baik atau bijak sama-sama menguntungkan. Lihatlah aku; tidakkah kau mendapati sorot Aristoteles di mataku?”

Komentar
Kirim Artikel
No more articles