Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Tugu Ngejaman Malioboro, Jam Kota Berusia 107 Tahun yang Kisahnya Terabaikan

Kenia Intan oleh Kenia Intan
20 September 2023
A A
Tugu Ngejaman di Jalan Malioboro MOJOK.CO

Tugu Ngejaman di Jalan Malioboro (wikipedia)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tugu Ngejaman merupakan salah satu peninggalan Belanda yang sudah berusia ratusan tahun. Ngejaman menjadi awal perkenalan warga dengan konsep waktu menggunakan angka.

Kalian yang kerap melintasi Jalan Malioboro pasti tidak asing dengan Tugu Ngejaman. Tugu berbentuk jam itu terletak di depan GPIB Marga Mulya. Apabila lewat Jalan Malioboro dari arah utara, kalian akan melihat tugu di sisi kanan jalan. Tepat di tikungan menuju Jalan Marga Mulya.

Iklan

Siapa pun yang kerap menelusuri kawasan Malioboro, mustahil untuk tidak menyadari keberadaan tugu ini. Letaknya yang strategis ditambah ukurannya yang besar, membuat keberadaannya cukup mencolok. Tugu Ngejaman terdiri dari dua bagian, alas dan jam. Tinggi alas sekitar 1,5 meter. Alas yang dicat putih itu tersebut menopang jam berdiameter 45 cm.

Keberadaan Tugu Ngejaman memang mencolok, sayangnya tidak banyak yang tahu kisah di baliknya. Padahal jam ikonik itu sudah berdiri di sana sejak 107 tahun silam. Pada 1916 pemerintah kolonial Belanda membangun tugu yang diberi nama Stadsklok yang berarti Jam Kota. Namun, warga sekitar lebih mengenalnya dengan nama Ngejaman. Tugu berdiri di pusat pemerintahaan kolonial Belanda pada saat itu yang kini menjadi kawasan Malioboro.

Tugu Ngejaman, perkenalan warga dengan konsep waktu modern

Keberadaan Tugu Ngejaman menjadi peringatan 100 tahun kembalinya pemerintahan kolonial Belanda ke Jawa. Sebagai pengingat, kekuasaan Belanda di Jawa pernah tergeser oleh Inggris. Tepatnya, Inggris menguasai Jawa di awal abad 19 atau pada 1811 hingga 1816.

Di zaman itu, tidak banyak orang memiliki arloji atau penanda waktu lain. Arloji adalah barang mewah yang hanya dimiliki oleh orang-orang berstatus sosial tinggi. Itu mengapa kehadiran Jam Kota sangat membantu sebagai penunjuk waktu. Sebelum menggunakan listrik seperti sekarang ini, Jam Kota menggunakan sistem pegas agar bisa berfungsi. Oleh karena itu, secara bergantian warga sekitar memutar Jam Kota agar terus berfungsi.

Melansir jurnal berjudul “Tugu Ngejaman: Penanda Kuasa dan Pengingat Waktu di Yogyakarta“, kehadiran Jam Kota mempengaruhi aktivitas dagang para pedagang di Pasar Beringharjo dan warga sekitar. Sedikit gambaran, Tugu Ngejaman tidak hanya dekat dengan GPIB Marga Mulya, tapi juga dekat Pasar Beringharjo dan Benteng Vredeburgh. Pengaruh itu muncul karena masyarakat mulai mengenal konsep waktu secara rigid.

Sebelumnya masyarakat Jawa memang sudah mengenal konsep waktu. Hanya saja konsep itu sebatas subuh, esuk, awan, ngasar, sore, petang, magrib dan wengi. Bagi yang beragama Islam, konsep waktu dikenal melalui waktu salat. Namun secara umum, masyarakat pada waktu itu belum mengenal konsep waktu dalam bentuk angka-angka seperti yang ada pada Jam Kota.

Oleh karena itu, kehadiran Tugu Ngejaman sedikit demi sedikit mempengaruhi aktivitas warga sekitar. Keberadaan Tugu Ngejaman menjadi salah satu pintu perkenalan warga dengan konsep waktu yang lebih modern.

Penulis: Kenia Intan
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Tugu Pensil Kulon Progo dan Kisah Panjang Pemberantasan Buta Huruf di Baliknya
Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 21 September 2023 oleh

Tags: Jam KotamalioboroTugu Ngejaman
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO
Pojokan

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Lewat Setu Sinau, Jalan Malioboro Kota Yogyakarta tidak hanya jadi tempat wisata. Tapi juga ruang edukasi untuk belajar budaya Jawa, termasuk aksara Jawa MOJOK.CO
Kilas

“Setu Sinau” bikin Jalan Malioboro Tak Hanya Jadi Tempat Wisata, Tapi Juga Ruang Edukasi Aksara Jawa

29 Maret 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO
Kilas

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Malioboro, Jogja, aksi demo.MOJOK.CO
Sosial

Pemkot Jogja Luncurkan Program ‘Setu Sinau’ di Malioboro, Wisatawan Kini Bisa Belajar Budaya Sambil Jalan-Jalan

12 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri? MOJOK.CO

Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri?

29 Juni 2026
MLSC, Yogyakarta.MOJOK.CO

Redemsi Yogyakarta All Stars, Menolak Pulang Lebih Awal

26 Juni 2026
Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional, MLSC.mojok.co

Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional

30 Juni 2026
Mila lulusan Fapet UGM. MOJOK.CO

Dobrak Keraguan Perempuan Tak Pantas Jadi Peternak, Alumnus Fapet UGM Ini Berhasil Raih Rp700 Juta di Tuban

29 Juni 2026
Piala Dunia, Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib.MOJOK.CO

Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib Pildun

25 Juni 2026
Transisi salon dari sistem pencatatan buku kucel ke aplikasi praktis MOJOK.CO

Generasi Baru Aplikasi Salon: Penunjang Salon UMKM dengan Harga Masuk Akal, Sistem Mudah, dan Berkesan bagi Pelanggan

30 Juni 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.