Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Sejarah Kelam Sri Sultan HB III dan IV Bakal Dipamerkan

Yvesta Ayu oleh Yvesta Ayu
18 Oktober 2022
A A
sejarah sri sultan hb III dan sri sultan hb IV mojok.co

Ilustrasi Keraton Yogyakarta. (Ega Fanshuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Yogyakarta menjadi daerah istimewa yang lekat dengan sosok Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) I hingga Sri Sultan HB X sebagai rajanya. Namun berbeda dari Sri Sultan HB lainnya, nama Sri Sultan HB III dan Sri Sultan HB IV tak banyak dikenal publik.

Pemerintahan Sri Sultan HB III dan Sri Sultan HB IV hanya berlangsung selama sepuluh tahun. Sri Sultan HB III dua tahun saja bertahta, sedangkan Sri Sultan HB IV hanya memimpin Keraton Yogyakarta dalam waktu delapan tahun.

Tak banyak dokumentasi sejarah kedua raja tersebut yang tersimpan di Keraton Yogyakarta. Apalagi Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Thomas Stamford Bingley Raffles banyak membawa dokumen ke Belanda.

Dokumen-dokumen yang menjadi rampasan perang tersebut dibawa Raffles pasca-tanah Jawa kembali dijajah Belanda pada 1814. Sebelumnya, tentara Inggris sempat menguasai tanah Jawa pada 1811.

Sejarah kelam tersebut yang akhirnya coba dinarasikan Keraton Yogyakarta melalui “Pameran Sumakala, Dasawarsa Temaram Yogyakarta” di Pagelaran Keraton Yogyakarta mulai 28 Oktober 2022 mendatang hingga akhir Januari 2023. Pameran ini merekonstruksi dokumen-dokumen sejarah masa pemerintahan kedua raja Keraton Yogyakarta tersebut.

“Keraton mengalami kesulitan mendapatkan dokumentasi sejarah. Sebab masa sepuluh tahun kepemimpinan keduanya merupakan saat-saat yang temaram,” papar Penghageng KHP Nitya Budaya, Keraton Yogyakarta, GKR Bendara di Yogyakarta, Senin (17/10/2022).

Menurut puteri bungsu Sri Sultan HB X tersebut, berbagai desakan politik dari Pemerintahan Inggris terhadap Sri Sultan III saat Jawa dikuasai Inggris berdampak pada ketidakstabilan perekonomian. Sebab seluruh biaya
perang yang ditimbulkan dari gempuran Inggris ke Yogyakarta harus ditanggung oleh keraton.

Kondisi carut marut tersebut harus disaksikan oleh GRM Ibnu Djarot, putra mahkota yang masih sangat belia. Ibnu Djarot pun harus menyaksikan ayahandanya Sri Sultan HB III meninggal saat baru dua tahun bertahta.

Akhirya putra mahkota yang masih berusia 10 tahun tersebut harus menggantikan kedudukan Sultan dengan gelar Sri Sultan HB IV.

“Karenanya momentum temaran itu coba keraton rekonstruksi ulang. Meskipun sultan ketiga dan sultan keempat mengalami kondisi yang sulit, tetapi berbagai prestasi dalam pemerintahan maupun pembangunan kebudayaan di keraton turut disumbangkan,” jelasnya.

Melalui pameran tersebut, warisan manuskrip, surat menyurat serta lukisan Raden Saleh pada masa kepemimpinan dua sultan coba ditampilkan. Selain itu tari Bedhaya Durmakina, Babad Ngayogyakarta, maupun kereta-kereta kebesaran dari masing-masing Sultan pun ikut ditampilkan.

Namun diakui Bendara, pameran kali ini menjadi tantangan tersendiri bagi keraton dan tim pameran. Sebab pasca-peristiwa Geger Sepehi pada 1812, keraton yang megah harus porak-poranda. Benda budaya, kekayaan material, hingga pusaka yang dimiliki keraton dijarah habis-habisan oleh Prajurit Sepoy di bawah komando Inggris. Sumber-sumber mengenai pemerintahan keraton pada awal abad ke-19 juga tidak banyak ditemukan.

“Di sinilah keraton mencoba membaca ulang sejarah semasa 1812-1822 dan mewujudkannya dalam bentuk visual. Kerja kreatif ini dipilih menjadi media untuk menyelami pemerintahan sultan ketiga dan sultan keempat lebih mendalam,” tandasnya.

Sementara Kurator Keraton Yogyakarta, Fajar Wijanarko mengungkapkan banyak kesulitan yang harus dihadapi kurator dalam “menjahit” sejarah masa pemerintahan Sri Sultan HB III dan IV. Bahkan berbagai upaya mereka lakukan dengan menghubungi Pemerintah Inggris maupun Belanda untuk mendapatkan data dan dokumentasi sejarah masa peralihan Sri Sultan HB II hingga Sri Sultan HB V.

Iklan

“Termasuk merekonstruksi busana-busana yang dikenakan para raja dan permaisuri pada masa pemerintahan kedua,” ungkapnya.

Fajar menambahkan, rekonstruksi tersebut tidak mudah dilakukan karena minimnya masa kepemimpinan keduanya. Melalui kerja konfirmasi dengan Pemerintahan Inggris dan Belanda, akhirnya Keraton Yogyakarta bisa melakukan rekonstruksi busana-busana para raja dan ratu pada waktu itu. Riset reprografi juga bisa dilakukan untuk mendapatkan dokumentasi berharga tersebut.

“Hasil rekonstruksi dan reprografi tersebut yang nantinya akan kami pamerkan selain koleksi lainnya meski tidak banyak,” imbuhnya.

Reporter: Yvesta Ayu
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Ketemu Teman Kuliah, Jokowi: Bukan untuk Mengenang Masa Lalu

Terakhir diperbarui pada 18 Oktober 2022 oleh

Tags: keraton Yogyakartasri sultan hb IIIsri sultan hb IVsultanYogyakarta
Yvesta Ayu

Yvesta Ayu

Jurnalis lepas, tinggal di Jogja.

Artikel Terkait

Kos di Jogja
Catatan

Rasanya Tinggal di Kos “Medioker” Jogja: Bayar Mahal, tapi Nggak Dapat Sinar Matahari

19 Februari 2026
Jumanah pedagang jamu parem kendil di pasar jangkang Yogyakarta. MOJOK.CO
Sehari-hari

“Ngopag” ala Lansia: Menikmati Jamu Parem Kendil yang Sudah Berdiri Sejak Tiga Generasi di Pasar Jangkang Yogyakarta

17 Februari 2026
Mahashivaratri, festival tahunan yang dirayakan umat Hindu untuk menghormati Dewa Siwa di Candi Prambanan. MOJOK.CO
Kilas

Hari Suci Terpenting Umat Hindu, Mahashivaratri Perdana Digelar di Candi Prambanan dengan 1008 Dipa Menyala

14 Februari 2026
Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi MOJOK.CO
Jagat

Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi

31 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa Mojok.co

Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa

19 Maret 2026
Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. MOJOK.CO

Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia

21 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Memelihara kucing.MOJOK.CO

Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya

20 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Bukan Cuma Gaji Kecil, Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja Juga Mesti Siap dengan Budaya Pekewuh yang Memperlambat Kerjaan Mojok.co

Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan

22 Maret 2026

Video Terbaru

Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026
Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

20 Maret 2026
Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.