Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Rapat Paripurna RUU Pesantren, dari 560 Anggota Dewan, Hanya 164 yang Hadir

Redaksi oleh Redaksi
18 Oktober 2018
A A
rapat anggota dpr
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jadi orang Indonesia itu memang harus tahan banting. Ya tahan banting fisiknya, tahan banting mentalnya, dan yang lebih penting, tahan banting hati dan perasaaannya.

Ini serius, sebab, menjadi rakyat Indonesia artinya siap diwakili oleh orang-orang menggelikan dan menggemaskan di dalam sistem pemerintahannnya.

Coba bayangkan, bagaimana rasanya menjadi warga kota Malang yang 41 dari 45 anggota dewaannya terlibat korupsi? Atau bayangkan bagaimana rasanya menjadi warga Aceh atau Jambi yang gubernurnya terkena OTT dan ditetapkan menjadi tersangka KPK? Tentu saja menyakitkan.

Nah, bagi warga negara Indonesia umumnya, cobaan semacam itu hadir melalui anggota DPR yang, entah kenapa, sampai sekarang, masih saja susah untuk diharapkan kewarasaannya.

Salah satu hal yang begitu menyebalkan dari para anggota Dewan ini adalah, mereka begitu suka mbolos kerja, padahal kalau dipikir-pikir, kerjaan mereka yang paling utama sejatinya ya cuma rapat, rapat, rapat. Bukannya ngepel lantai gedung DPR. Mbolosnya pun bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali. Itu pun tidak sendiri, melainkan berjemaah rame-rame, persis kayak anak STM.

Kejadian mbolos paling anyar terjadi pada Selasa, 16 Oktober 2018 lalu, dalam rapat paripurna membahas RUU Pendidikan Agama dan Pesantren.

Dalam rapat paripurna tersebut, dari 560 anggota dewan, hanya 164 anggota yang hadir. Ya, hanya 164 anggota. Jumlah yang bahkan tidak ada sepertiga dari jumlah keseluruhan anggota dewan.

Lihat, bahkan untuk sekadar datang, duduk, diam, tanpa menyimak isi rapat pun mereka nggak sanggup. Kurang ngehek bagaimana lagi mereka ini, coba?

Padahal, rapat yang dipimpin oleh Ketua DPR Bambang Soesatyo dan dua Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah dam Utut Adianto boleh dibilang merupakan rapat yang cukup penting, sebab ia menjadi rapat yang merumuskan fondasi sistem pendidikan keagamaan di Indonesia.

Yang paling menyebalkan adalah, pernyataan dari para petinggi partai yang menyatakan bahwa RUU Pesantren yang dibahas dalam rapat tersebut merupakan RUU yang begitu urgen.

“Keberadaan RUU Lembaga Pendidikan Keagamaan dan Pesantren ini sangat urgen dalam meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana sudah diamanatkan oleh UUD 1945,” ujar Ketua Fraksi PPP Reni Marlinawati.

Senada dengan Reni, anggota komisi VIII DPR RI dari partai PDIP, Diah Pitaloka mengatakan bahwa partainya mendukung penuh pembahasan RUU tersebut.

“PDIP mendukung penuh pembahasan RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan,” ujar Diah. “RUU ini diharapkan akan menjadi landasan hukum dalam langkah pemerintah untuk dapat berkontribusi lebih terhadap upaya pengembangan dan penguatan pesantren.”

Pernyataan dua perwakilan partai tersebut tentu saja menjadi sebuah ironi, sebab, baik PPP maupun PDIP, anggota dewannya sama-sama banyak yang mbolos dalam rapat tersebut. PPP misalnya, dari 39 anggota, hanya 14 yang hadir dalam rapat. PDIP lebih nggateli lagi, dari 109 anggota, hanya 29 anggota yang hadir. Kayak gitu kok bisa-bisanya bilang “mendukung penuh”.

Iklan

Ah, kalau begini terus, nggak heran jika banyak yang berharap agar peluru yang nyasar ke gedung DPR itu kelak tidak lagi salah sasaran.

rapat

Terakhir diperbarui pada 18 Oktober 2018 oleh

Tags: anggota dewanruu pesantren
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

kerja anggota DPR
Podium

Hal yang Perlu Netizen Ingat Kembali tentang Kerja-kerja Anggota DPR

13 Februari 2023
lhkpn
Kolom

Mari Memaklumi Anggota Dewan yang Nggak Melaporkan Harta Kekayaannya

19 Januari 2021
Esai

Panduan Memahami Agama Kristen untuk Orang Islam

21 November 2018
RUU Pesantren MOJOK.CO
Pojokan

RUU Pesantren dan Diskusi Lintas Agama yang Percuma

1 November 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
Kucing peliharaan anak kos Jogja

Anak Kos Jogja Pilih Hidup Miskin demi Hidupi Kucing, Lebih dari Setengah Gaji Habis untuk Piaraan

11 Maret 2026
Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.