Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Ramai-ramai Kritik Mahfud MD karena Sebut Data Korban di Papua ‘Sampah’

Redaksi oleh Redaksi
13 Februari 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pernyataan Menko Polhukam, Mahfud MD, yang menyebut data korban Papua dari aktivis HAM Veronika Koman hanya sampah, menuai reaksi keras.

Semua diawali ketika Mahfud MD mengomentari dokumen tim Veronica Koman yang berisi data korban di Papua diberikan ke Presiden Jokowi. Pemberian itu dilakukan saat Jokowi dan Mahfud MD melakukan kunjungan ke Canberra, Australia.

Iklan

“Kalau soal Koman itu, saya tahu surat seperti itu banyak. Orang berebut salaman, kagum, kemudian kasih map, amplop surat itu. Jadi tidak ada urusan Koman itu, karena surat yang dibawa banyak,” kata Mahfud MD pada Selasa (11/2).

Saat itu, Mahfud mengaku tidak tahu data itu sudah dibaca Pak Jokowi atau belum.

“Belum dibuka kali suratnya. Suratnya kan orang banyak. Rakyat biasa juga ngirim surat ke presiden. Kalau memang ada, sampah sajalah itu,” tambah Mahfud MD.

Nah, pernyataan itulah yang kemudian menjadi kontroversi. Terutama, karena data yang diberikan aktivis yang tinggal di Australia itu berisi beberapa data korban kerusuhan Papua.

Seperti data nama dan lokasi 57 tahanan politik Papua dengan pasal makar, nama tahanan politik di 7 kota di Indonesia, dan 243 korban sipil yang meninggal selama operasi militer di Nduga sejak Desember 2018.

Sebagian dari data itu, bisa kamu baca di kicauan di bawah ini.

Ini nama- nama mereka, dan mereka bukan sampah pak @mohmahfudmd https://t.co/D8TAh5kqjE pic.twitter.com/WR4h9uvpkP

— Arie Rompas (@ariexvamrompas) February 11, 2020

Menanggapi hal itu, Asfinawati dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menyesalkan pernyataan Mahfud MD. Menurut Asfinawati, sikap Mahfud MD tidak mencerminkan sikap pelayan publik seharusnya.

“Pernyataan ini bukan sikap seorang pelayan publik yang bertindak untuk kepentingan publik. Masak data orang meninggal diperlakukan seperti itu, sampah artinya akan dibuang,” kata Asfinawati.

Selain Asfinawati, Taufik Basari dari Komisi Hukum DPR juga menyesalkan pernyataan Mahfud MD tersebut.

“Setiap data dan informasi yang diterima dari masyarakat sebaiknya ditelusuri terlebih dahulu dan dilakukan verifikasi sebelum menyatakan data tersebut valid atau tidak,” kata Basari seperti diberitakan Tempo.co.

Selain Basari, Hinca Pandjaitan juga menyesalkan pernyataan semacam ini bisa keluar dari seorang Menkopolhukam.

Iklan

“Saya kira diksi yang dipakai Prof Mahfud tak baik memakai ‘sampah’ atas dokumen yang disampaikan Veronica Koman. Terlebih dokumen tersebut berisikan nama-nama korban sipil yang meninggal. Pantaskah disebut sampah?” kata Hinca.

Sebenarnya, sih soal sampah tak sampah, biarlah itu jadi urusan Mahfud MD. Soalnya, kalau data Veronica Koman itu benar-benar valid, pernyataan “tidak ada pelanggaran HAM di era Jokowi” dari blio bakal harus segera direvisi. Dan itu jauh lebih ribet ketimbang bilang…

…SUAMPAH! (DAF)

 

 

BACA JUGA Veronica Koman Dituduh Sebar Hoaks, tapi Polisi Nggak Jelasin Hoaksnya yang Mana atau tulisan rubrik KILAS lainnya.

Terakhir diperbarui pada 13 Februari 2020 oleh

Tags: jokowimahfud mdPapuaveronica koman
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana
Esai

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
papua.MOJOK.CO
Eksplor

Hutan Papua Tak Baik-baik Saja, Terancam Hilang Imbas Pembukaan Lahan Besar-besaran

23 Mei 2026
papua.MOJOK.CO
Eksplor

Harga yang Harus Dibayar dari Pembangunan di Papua: Hutan Rimbun Diratakan Alat Berat, Alam dan Masyarakat Adat Terancam

3 Mei 2026
Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah.MOJOK.CO
Sosial

Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah

3 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Naik BYD Menyusuri Jalanan Jakarta Bikin Saya Jadi Kampungan MOJOK.CO

Pengalaman Menahan Rasa Penasaran di Dalam Kabin Mewah BYD demi Tidak Terlihat Kampungan ketika Menyusuri Jalanan Jakarta

30 Juni 2026
Kisah pemilik Yamaha Fazzio hitam di Jogja. MOJOK.CO

Gelontorkan Tabungan Jutaan Rupiah demi Modifikasi Fazzio: Cara Manis Anak Muda Jogja Menghargai Kepedulian Orang Terdekat

30 Juni 2026
Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja MOJOK.CO

Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja

24 Juni 2026
Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis di Sepak Bola Remaja Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik.MOJOK.CO

Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis Pemain Muda Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik

28 Juni 2026
Jalan Lintas Sumatra Dibuat untuk Mengangkut Kekayaan ke Jawa: Tempat Lahirnya Shinobi Kriminal Jalinsum MOJOK.CO

Jalan Lintas Sumatra Dibuat untuk Mengangkut Kekayaan ke Jawa: Tempat Lahirnya Shinobi Kriminal Jalinsum

1 Juli 2026
Menurut Pakar UGM, Pelatihan Dasar Militer (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah putih/KDMP) harus dievaluasi MOJOK.CO

Pelatihan Militer ke Manajer Kopdes Merah Putih Perlu Didesain Ulang, Harus Lebih Relevan dengan Tata Kelola Koperasi agar Tak Ada Korban Lagi

29 Juni 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.