Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Pengalaman KKN di Desa Sendiri, Sama-sama Menakutkan Seperti KKN di Desa Penari

Viola Nada Hafilda oleh Viola Nada Hafilda
9 Juli 2023
A A
Rasanya Satu Kelompok KKN Undip dengan Anak Caleg.MOJOK.CO

Ilustrasi Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Bikin Kelompok Jadi Tak Harmonis karena “Beda Partai” (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kuliah Kerja Nyata (KKN) di luar pulau memang menyenangkan, tapi pernahkah kamu KKN di desa sendiri? Inilah yang dirasakan Hana, mahasiswa kampus pendidikan di Yogyakarta.

Kala itu, COVID-19 sedang ganas-ganasnya menyerang dan membuat kampusnya mengubah kebijakan KKN. Kampus menyarankan mahasiswa untuk KKN di desa sendiri atau desa yang masih dekat dengan domisilinya. Satu tim sepakat untuk menjalani KKN di desa tempat Hana tinggal, yakni sebuah desa di Bantul yang mepet Kota Yogyakarta.

Sayangnya, ini bukan berita baik bagi Hana. KKN di desa sendiri justru menghantuinya, layaknya nonton film KKN di Desa Penari. Bukan karena desanya mistis atau berhantu. Namun, ia dihantui rasa cemas dan overthinking.

Pasalnya, kampus melarang program kerja (proker) yang terjun langsung ke warga, alias online saja. Baginya mungkin ini sama menakutkannya dengan KKN di Desa Penari.

Warga mengira tim KKN meminta dana

Teman-temannya santai saja mengusulkan pembuatan aplikasi, menyebar pamflet, serta proker sederhana lainnya. Tapi tidak dengan Hana, “Aku kan orang sini. Nanti gimana kalau dirasani kenapa KKN kok nggak turun lapangan?” katanya kepada reporter Mojok belum lama ini.

Apes, ternyata segala kecemasan Hana itu terjadi, bahkan lebih parah dari dugaannya. Pernah suatu hari, ia mendapatkan keluhan bahwa warga menyangsikan proker KKN timnya. Waktu itu, warga meminta Hana dan tim membantu kegiatan lomba voli untuk anak-anak TPA di desa.

Terekam jelas di ingatannya bahwa ketua panitia, yang mana merupakan tetangganya sendiri, meyakinkan bahwa tim KKN tak perlu pusing memikirkan dana. “Kalian nggak usah pusing, ini kan acara dari desa dan dananya juga takmir yang menanggung,” pungkas ketua panitia. Tugas tim KKN waktu itu hanyalah membelikan hadiah, konsumsi, dan membantu persiapan teknis.

Jauh panggang dari api, namanya juga manusia, ada saja miskomunikasi. Salah satu anggota tim KKN diajak ngobrol oleh Pak RT lalu pulang ke pondokan dengan wajah kusut. Ternyata, tim mereka mendapat keluhan dari warga soal penggunaan dana.

Rekannya mengatakan, “Kata Pak RT, warga ngeluh kenapa kok anak KKN bikin proker malah uangnya minta ke takmir.” Sontak hal itu membuat Hana menangis karena masalah uang sangatlah sensitif menurutnya.

Menjadi tumbal KKN untuk terjun ke masyarakat

Hal yang tak kalah melelahkan bagi Hana adalah bagaimana ia selalu menjadi tumbal untuk kegiatan yang mengharuskan interaksi intens dengan masyarakat. Tiap ada pertemuan penting dengan perangkat desa, Hana selalu menjadi perwakilan tim.

Meski senang berbicara di depan umum, baginya sangat berbeda jika itu harus dilakukan di depan tetangganya sendiri. Ia malah takut, minder, dan pekewuh atau tidak enakan. “Misal aku nggak setuju sama tetangga tuh malah pekewuh kalau mau ngoreksi kesalahan mereka,” terangnya.

Mindernya Hana ini jugalah yang membuatnya sungkan membela diri saat warga mengira timnya meminta duit kepada takmir. Ingin hati membela diri, tapi lagi-lagi, Hana sangat tahu bahwa orang-orang yang mengeluhkan KKN-nya adalah tokoh masyarakat yang disegani.

Akhirnya, teman-temannya mencoba menjelaskan seadanya. Untunglah Pak RT pengertian dan memahami duduk perkara. “Tapi jujur, sampai detik ini aku masih ngerasa nggak enak karena kejadian itu. Masalah uang bagiku benar-benar sensitif,” ungkap Hana.

Kerja keras berakhir di bak sampah

KKN sudah berakhir, tentu saja hati Hana terasa lega. Ia pun menjalani hari-hari normalnya seperti dulu. Cuaca begitu cerah, matahari pagi membuat Hana bersemangat menjalani hari. Jleb.

Iklan

Belum sempat beraktivitas, tiba-tiba ia melihat bank sampah yang selama ini bangun bersama tim sekarang sudah menjadi rongsokan. Pasalnya, bank sampah adalah proker utama tim KKN dan telah mengorbankan banyak tenaga, waktu, serta dana.

Hana bercerita, timnya sampai kurang tidur demi mengerjakan proker utama tersebut. Mulai dari mengecat tiner sampai memotong bambu pun mereka lakukan. Soal dana, mereka susah payah memutar otak untuk memotong anggaran bagi proker lain.

Bahkan, Hana dan teman-temannya rela merogoh kantong pribadi mereka yang pas-pasan itu. Sambil memelas, Hana menumpahkan kesedihannya pada saya, “Ya Allah, bank sampah itu berdarah-darah kita bikinnya.”

Di lubuk hati terdalam, Hana sangat tahu bahwa ini hal yang normal terjadi. Menurutnya wajar jika proker KKN akan dibuang oleh warga. Namun, ia menyesali mengapa ia harus menyaksikan semua ini. Hatinya semakin nyeri saat melihat bank sampah itu telah menjadi rongsokan, dibuang tepat di depan rumahnya sendiri.

Reporter: Viola Nada Hafilda
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Bertahan Hidup di KKN dengan Cara Cinlok dan Selingkuh

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 9 Juli 2023 oleh

Tags: KKNKKN di Desa Sendiri
Viola Nada Hafilda

Viola Nada Hafilda

Magang Mojok

Artikel Terkait

Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Mahasiswa KKN di desa
Catatan

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026
Mahasiswa KKN.MOJOK.CO
Kampus

KKN Bikin Warga Muak Kalau Program Kerja Template dan Kelakuan Mahasiswanya Tak Beretika

17 Oktober 2025
KKN UMY Tidak Hanya Bisa Bikin Papan Nama MOJOK.CO
Esai

Mahasiswa UMY Atasi Sampah di Laut Wakatobi dengan Stove Rocket, Bukti KKN Tidak Hanya Bikin Papan Nama

6 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.