Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Pecat Helmy Yahya, Dewas TVRI Nilai Liga Inggris Tak Selaras dengan Jati Diri Bangsa

Redaksi oleh Redaksi
22 Januari 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Direktur TVRI, Helmy Yahya, dipecat karena berbagai hal. Dewan Pengawas TVRI sebutkan salah satunya: Liga Inggris tak sesuai dengan jati diri bangsa.

Dari gonjang-ganjing pemecatan Direktur Utama TVRI, Helmy Yahya, muncul pernyataan-pernyataan ajaib dari Dewan Pengawas (Dewas) TVRI soal alasan kenapa mereka harus memecat Helmy Yahya.

Dalam rapat dengar pendapat antara Dewas TVRI dengan Komisi I DPR (21/1), Dewas TVRI menjelaskan beberapa alasan dengan cara yang sangat unik, otentik, dan suangat menarik. Salah satunya adalah karena TVRI membeli hak siar Liga Inggris yang tak sesuai dengan jati diri bangsa.

“Kami bukan (stasiun televisi) swasta, jadi yang paling utama adalah edukasi, jati diri, media pemersatu bangsa, prioritas programnya juga seperti itu. Realisasinya sekarang kita nonton Liga Inggris,” kata Arief Hidayat, Ketua Dewas menyayangkan.

Meskipun Liga Inggris banyak disukai oleh masyarakat, namun Dewas TVRI merasa bahwa hal ini tak sesuai dengan citra TVRI sebagai stasiun televisi yang sangat edukatif. Apalagi, gemerlap Liga Inggris memang benar-benar kejauhan dari jati diri bangsa. Barangkali karena sepak bola yang sesuai jati diri bangsa itu yang ada baku-pukulnya.

Tak cuma itu, di bawah kepemimpinan Helmy Yahya, ada banyak program berkualitas yang tidak cocok dengan selera Dewas TVRI karena model impor. Alias dibeli hak siarnya dari luar negeri.

“Ada Discovery Channel. Kita nonton buaya di Afrika, padahal buaya di Indonesia barangkali akan lebih baik. Kemudian siaran film asing cukup banyak. Ada yang bayar, ada yang gratis,” tambahnya.

Hal ini jelas sangat tepat guna. Sebab, untuk urusan fauna sekelas buaya sekalipun Dewas TVRI masih mengistimewakan produk lokal, tak mau yang dari luar negeri sekalipun buayanya itu dari Afrika.

Lagian apa untungnya orang Indonesia mantengin buaya Afrika? Punya buaya sendiri kok lihat buaya punya bangsa lain.

Siaran Discovery Channel ini juga disinggung karena ketika kejadian banjir Jakarta pada awal Januari 2020, TVRI malah jarang menyiarkan bencana banjir layaknya televisi swasta lainnya.

“Sempat ketika ada banjir, kami (TVRI) sedang menayangkan Discovery Channel, ini kami dapat protes dari publik. ‘Kok banjir-banjir, Discovery Channel-nya tayang terus, nggak peduli banjir.’ Ini sangat miris, kami sudah tegur, ternyata direksi (tetap) melanjutkan,” kata Arief Hidayat.

Di sisi lain, Dewas juga merasa TVRI di bawah kepemimpinan Helmy Yahya ini sering mengejar rating televisi. Padahal jelas-jelas TVRI ini bukan stasiun televisi swasta.

“Seolah-olah Direksi mengejar rating dan share seperti TV swasta. Kita ada APBN harus bayar keluar negeri dalam bentuk hal ini. BWF, Discovery, Liga Inggris. Artinya uang rupiah kita, APBN dibelanjakan keluar, yang (mana) Presiden menyatakan dibatasi. Dan ini terjadi,” jelas Arief Hidayat.

Mungkin maksudnya adalah, lebih baik belanja konten/program itu diberikan ke dalam negeri atau internal saja. Jangan malah dibuang-buang keluar. Apalagi sampai berisiko utang segala.

Iklan

Nah, dengan beberapa pernyataan ajaib Dewas TVRI bersama Komisi I DPR RI tersebut, maka bisa disimpulkan kenapa Helmy Yahya dipecat oleh Dewas TVRI. Setidaknya ada tiga kesalahan yang sangat sulit dimaafkan.

Pertama, Helmy memasang target kelewat tinggi untuk TVRI. Kedua, Helmy memperlakukan TVRI layaknya televisi swasta agar bisa bersaing dengan stasiun televisi lain. Ketiga—ini kesalahan paling parah—sebagai Direktur TVRI selama ini Helmy malah…

…kerja betulan. (DAF)

 

BACA JUGA Tanpa Helmy Yahya, Premier League Tetap Aman-Aman Saja Kok! Iya Kok! atau tulisan rubrik KILAS lainnya.

Terakhir diperbarui pada 22 Januari 2020 oleh

Tags: Dewas TVRIHelmy Yahyatvri
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Pojokan

Mencoba Melacak Stereotip Nama Kevin untuk Keturunan Tionghoa di Indonesia

12 Juli 2021
kekayaan helmy yahya tantowi yahya profil alumni stan raja raja kuis raja reality show tvri irektur utama pilkada sumatra selatan ogan ilir mojok.co
Nafkah

Menghitung Penghasilan Helmy ‘The Rising Star YouTuber’ Yahya dari YouTube

8 September 2020
Kilas

Helmy Yahya Bantah Dewas TVRI: Ngawur dan Ngaco!

28 Januari 2020
kekayaan helmy yahya tantowi yahya profil alumni stan raja raja kuis raja reality show tvri irektur utama pilkada sumatra selatan ogan ilir mojok.co
Nafkah

Menghitung Kekayaan Helmy Yahya, Raja Kuis dan Reality Show yang Terdepak dari TVRI

26 Januari 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita guru CLC di Malaysia. MOJOK.CO

WNI Jadi Guru di Luar Negeri Dapat Gaji 2 Digit, Pulang ke Indonesia Malah Sulit Kerja

23 April 2026
Jurusan kuliah di perguruan tinggi yang kerap disepelekan tapi jangan dihapus karena relevan. Ada ilmu komunikasi, sejarah, dakwah, dan manajemen MOJOK.CO

4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun

27 April 2026
Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos MOJOK.CO

Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos

24 April 2026
Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan MOJOK.CO

Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda

25 April 2026
Gen Z pilih soft living daripada slow living

Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti

22 April 2026
Ibu terpaksa menitipkan anak di daycare karena orang tua harus bekerja

Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan

26 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.