Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Mengungkap Alasan Keluarga Terakhir di Kampung Mati Kulon Progo Pindah Rumah

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
2 Agustus 2023
A A
Mengungkap Alasan Keluarga Terakhir di Kampung Mati Kulon Progo Pindah Rumah. MOJOK.CO

Rumah Sumiran terletak di kaki bukit. Sehari-hari ia bekerja sebagai tukang kayu. (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Satu keluarga di kampung mati, Sidomulyo, Pengasih, Kulon Progo dikabarkan memutuskan pindah rumah. Sebelumnya mereka sudah punya bangunan baru, tetapi masih terkendala pelunasan tanah.

Agus Sarwanto (23), anak pertama dari pasangan Sumiran dan Sumiyati mengonfirmasi kabar tersebut. Keluarga mereka sudah mempersiapkan ke rumah baru yang sedianya sudah berdiri beberapa tahun lalu.

Sebagai informasi, keluarga ini terdiri dari empat anggota yakni Sumiran (49), Sugiati (50), Agus Sarwanto (23), dan Dewi Septiani (10). Keluarga ini telah menempati rumah di permukiman yang dulunya bernama Kampung Suci ini sejak pasangan Sumiran dan Sugiati menikah. Saya sempat menginap di rumah mereka dan menuliskan kisahnya di sini. 

Sementara Sumiran, sebenarnya sudah tinggal di situ sejak kecil lantaran kedua orang tuanya warga asli Kampung Suci. Sejak empat tahun belakangan, kampung yang mulanya masih terdapat beberapa rumah berpenghuni hanya tersisa Sumiran dan keluarganya.

Agus mengungkap saat ini proses kepindahan masih terus berjalan. Keluarga mereka sedang menyempurnakan beberapa kebutuhan di rumah barunya.

“Sekarang sedang membuat WC dan rencananya juga membuat dapur di rumah baru,” ujar Agus saat Mojok konfirmasi pada Selasa (1/8/2023). Selain WC dan dapur, mereka juga berencana melakukan penyekatan kamar di rumah tersebut.

Alasan pindah rumah

Kendati begitu, Agus belum tahu kapan akan kepindahan ini akan terealisasi. Sampai sekarang ia mengaku dana yang terkumpul untuk menyempurnakan rumah baru belum tercukupi.

“Dana juga belum terkumpul masih kurang jadi belum tahu kapan pindahnya,” jelasnya.

Sebelumnya, proses kepindahan keluarga ini terbantu dari donasi yang masuk ke sejumlah YouTuber. Kisah hidup keluarga ini viral setelah kanal YouTube Jejak Bang Ibra mengunggah video tentangnya.

Alasan utama kepindahan satu-satunya keluarga di kampung mati ini tentu saja karena akses ke fasilitas publik yang jauh. Bahkan keluarga ini pergi ke sungai atau mata air untuk mandi atau memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Rumah keluarga terakhir di kampung mati ini terletak di sekitar hutan bambu yang rimbun. Di sebelah rumah mereka, masih ada bangunan yang berdiri namun sudah tidak berpenghuni lagi sejak empat tahun lalu.

Untuk menuju kediaman tersebut, dari permukiman terdekat, jaraknya sekitar 2 kilometer. Jalanan menuruni bukit dan menyeberangi jembatan bambu membuat rute cukup menantang.

Akses menuju berbagai tempat penunjang kebutuhan seperti pasar, klinik, maupun kantor pemerintah memang cukup sulit. Hal itu juga yang membuat banyak penduduk yang akhirnya melakukan eksodus ke tempat yang lebih ideal. Terlebih, sempat ada bantuan bedah rumah.

Keluarga Sumiran akhirnya akan mengikuti warga lain yang pindah. Sebagian warga lain, sekitar empat kepala keluarga yang baru pindah pada 2019 silam, mendapat bantuan pembangunan rumah baru.

Iklan

Kisah rumah yang bertahan di kampung mati

Salah satu alasan mereka bermukim di tengah hutan dan perbukitan adalah jarak dengan ladang yang dekat. Sumiran yang sehari-hari bekerja sebagai tukang kayu, membuat beragam benda seperti kusen pintu hingga meja dan kursi pesanan, lebih mudah untuk mencari kayu.

Selain itu memang karena kondisi ekonomi. Sumiran dan keluarganya sempat mendapatkan bantuan rumah namun belum mampu membayar pelunasan tanahnya. Bangunan tersebut dibangun di lahan milik kerabat mereka.

“Waktune pas kui kesusu. Dadine dideleh ting mriku bangunane (waktunya saat itu terburu, jadi bangunan dibangun di tanah itu),” kata Sumiran saat berbincang dengan Mojok pada Juni lalu.

“Daripada aku nganggoni lemah sing hurung dibayar, mending ning kene,” imbuhnya. Ia mengaku tidak tenang kalau menempati bangunan yang belum sah menjadi miliknya.

Reporter: Hammam Izzuddin
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Menanti Jalur Trem Semarang yang Akan Diaktifkan Kembali Setelah 83 Tahun

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

 

 

Terakhir diperbarui pada 2 Agustus 2023 oleh

Tags: kampung matikampung suciKulonprogo
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Menikmati Layanan Baru Mobil Listrik Gojek di Bandara YIA: Cepat, Aman, Nyaman, dan Cocok Untuk Perjalanan Wisata.MOJOK.CO
Ragam

Menikmati Layanan Baru Mobil Listrik Gojek di Bandara YIA: Cepat, Aman, Nyaman, dan Cocok Untuk Perjalanan Wisata

11 Oktober 2024
kampung mati wonosobo.MOJOK.CO
Ragam

Kisah Perempuan yang Bertahan di Kampung Mati Wonosobo, 50 Tahun Tanpa Listrik PLN, Kini Ditinggal Para Tetangga  

7 Juli 2024
merantau di Jogja.MOJOK.CO
Ragam

Kisah Keluarga dari Jogja Merantau ke Magelang, 53 Tahun Tinggal di Tengah Hutan Terpencil di Perbukitan Borobudur

24 Juni 2024
Menelusuri Kampung Mati di Wonogiri: Hanya Ada 7 Rumah, Efek Transmigrasi Zaman Soeharto MOJOK.CO
Kilas

Menelusuri Kampung Mati di Wonogiri: Hanya Ada 7 Rumah, Efek Transmigrasi Zaman Soeharto

16 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Kapok Mudik dengan Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

15 Maret 2026
Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. MOJOK.CO

Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia

21 Maret 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa Mojok.co

Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa

19 Maret 2026
Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku Mojok,co

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku

19 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.