Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Kota Semarang Coba Tak Sekadar Melawan Air untuk Atasi Banjir, Tapi Pakai Cara Fisika dan Wanti-wanti Kelalaian Sosial

Redaksi oleh Redaksi
5 Januari 2026
A A
Kota Semarang coba tak sekadar melawan air untuk atasi banjir MOJOK.CO

Ilustrasi - Kota Semarang coba tak sekadar melawan air untuk atasi banjir. (Wes Warren/Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Musim hujan dan banjir sudah lama menjadi momok bagi Kota Semarang. Maka, belajar dari banjir besar 2024-2025, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mencoba mencari solusi sefektif mungkin.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menyebut, strateginya saat ini bukan lagi sekadar melawan air dengan menambah ratusan pompa. Akan tetapi mulai mengelola perilaku air itu sendiri berdasarkan prinsip-prinsip fisika.

Memperlancar saluran air

Jika diilustrasikan, kondisi saluran air di Kota Semarang selama ini kira-kira seperti ini: Selang air kecil yang sedianya untuk menyiram taman dipaksa mengalirkan air dengan volume besar melalui. Alhasil, air akan menyembur kencang, tetapi tekanan di dalam selang sangat tinggi dan mudah tersumbat.

Saluran sempit memaksa air mengalir dengan kecepatan tinggi dan tekanan besar. Sedikit hambatan—sampah, sedimentasi—langsung membuatnya mampet. Konsekuensinya, air meluap.

Oleh karena itu, saat ini Pemkot Semarang menyediakan saluran yang empat kali lebih lebar. Dengan begitu, untuk volume air hujan yang sama, air tidak perlu “terburu-buru”. Ia bisa mengalir lebih lancar dan tenang.

Pelebaran ini, kata Agustina, seperti memberi “ruang bernapas” bagi aliran air. Risiko penyumbatan berkurang drastis karena air tidak lagi “berebutan tempat”.

“Ini adalah rekayasa ulang batas kemampuan infrastruktur untuk menerima beban yang lebih besar,” ucap Agustina.

Adapun intervensi paling simbolis dari “rekayasa ulang” itu adalah pelebaran saluran pembuangan air di Kaligawe dari 10 meter menjadi 40 meter.

Polder dan pompa jadi duet penjinak air di Kota Semarang

Strategi kedua adalah sinergi antara menampung dan memompa.

  1. Polder: Melalui penampung ini, pengerukan puluhan “umpung-umpung” (waduk mini) menjadi upaya meningkatkan daya tampung kota. Ini ibarat menyediakan lebih banyak “ember” raksasa di titik-titik rendah. Fungsi fisikanya sederhana namun krusial: Menahan air sementara, mengurangi beban yang langsung menuju saluran utama. Dalam bahasa energi, air yang ditampung ini menyimpan “energi diam”. Dengan menahannya, kita mencegah “energi gerak” yang bisa menyebabkan banjir bandang di hilir.
  2. Pompa: Ada 220 unit pompa yang berperan. Jika polder adalah penampung pasif, pompa adalah aksi aktif. Tugasnya jelas: Memindahkan air dari daerah rendah (yang sudah ditampung polder) ke saluran besar atau langsung ke laut.

Penambahan dan penempatan pompa di titik rawan seperti Tawang Mas dan Peterongan memastikan proses pemindahan ini lebih cepat dan efisien, mengurangi waktu genangan.

“Polder menahan ‘beban dasar’ air, sementara pompa yang responsif berfungsi sebagai ‘pembangkit cadangan’,” begitu analogi dari Agustina.

Dalam duet ini (antara polder dan pompa), Wali Kota berkolaborasi dengan BWS, BPJN, dan TNI agar penampungan dan pemompaan berjalan optimal.

Dampak: Semoga tidak sebatas genangan kering

Perubahan pendekatan fisik ini diharapkan bisa berdampak luas, melampaui sekadar basah dan kering. Di antara dampak yang diharapkan adalah:

  1. Risiko yang Menyusut. Dengan saluran yang lebih besar dan tampungan yang lebih banyak, sistem ini kini dirancang untuk bertahan menghadapi hujan yang lebih ekstrem. Artinya, kemungkinan banjir besar terulang menjadi lebih kecil. Kota menjadi lebih tahan banting.
  2. Ekonomi yang Lebih Stabil. Banjir adalah musuh utama aktivitas ekonomi. Dengan berkurangnya ketidakpastian akibat ancaman banjir, dunia usaha bisa berinvestasi dan beroperasi dengan lebih tenang. Masyarakat juga tak perlu lagi hidup dalam kecemasan tiap kali langit mendung.
  3. Efisiensi Energi. Mengandalkan saluran lebar dan polder yang baik adalah solusi “pasif” yang hemat energi, dibandingkan hanya mengandalkan pemompaan “aktif” yang rakus listrik. Ini adalah investasi keberlanjutan.

Bisa buyar karena kelalaian sosial

Namun, Agustina mengingatkan, semua rekayasa teknik ini bisa buyar oleh satu kelalaian sosial: Membuang sampah sembarangan. Satu plastik bisa menyumbat, merusak semua perhitungan fisika yang cermat.

Iklan

Oleh karena itu, transformasi Kota Semarang adalah proyek bersama. Pemerintah membangun infrastruktur berdasarkan hukum alam, sementara kewajiban masyarakat adalah menjaga infrastruktur itu dengan hukum kesadaran.***(Adv)

BACA JUGA: Bola GPS Jadi Teknologi Mitigasi Sumbatan Air Penyebab Banjir di Simpang Lima Semarang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 Januari 2026 oleh

Tags: banjir semarangkota semarangSemarang
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Jembatan Persen di Gunungpati, Semarang, dari kayu menjadi baja dan bercor beton MOJOK.CO
Kilas

Jembatan Persen di Gunungpati Semarang, Dari Kayu Jadi Bercor Beton berkat Aduan “Solusi AWP”

24 Januari 2026
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng akan renovasi rumah tak layak huni Mbah Kamijah di Gunungpati MOJOK.CO
Kilas

Saat Kabar Baik Menghampiri Mbah Kamijah, Lansia 87 Tahun yang Tinggal Sendiri di Rumah Tak Layak Huni Gunungpati Semarang

24 Januari 2026
Gotong royong atasi tumpukan sampah Kota Semarang MOJOK.CO
Kilas

Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

16 Januari 2026
Kisah Bu Ngatimah, pekerja serabutan yang iuran BPJS Ketenagakerjaan miliknya ditanggung ASN Kota Semarang MOJOK.CO
Kilas

Kisah Bu Ngatimah: Pekerja Serabutan di Semarang dapat Fasilitas BPJS Ketenagakerjaan, Iurannya Ditanggung ASN

7 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026
Nyaris dicurigai kumpul kebo di penginapan Jogja saat Valentine. MOJOK.CO

Sisi Gelap Penginapan “Murah” di Jogja, Ramai dan Untung Saat Valentine Berkat Anak Mudanya yang Hobi Kumpul Kebo

14 Februari 2026
Orang desa ogah bayar pajak motor (perpanjang STNK) di Samsat MOJOK.CO

Orang Desa Ogah Bayar Pajak Motor (Perpanjang STNK), Lebih Rela Motor Disita daripada Uang Hasil Kerja Tak “Disetor” ke Keluarga

19 Februari 2026
Anak yang dicap gagal penuhi standar sukses justru paling tulus merawat orang tua. Anak yang sok sibuk dan dibilang sukses malah jadi yang paling berisik soal warisan MOJOK.CO

Anak yang Dicap Gagal Justru Paling Tulus dan Telaten Rawat Ortu, Anak yang Katanya Sukses cuma Berisik Rebutan Warisan

13 Februari 2026
Motor Vespa Matic Primavera 150 warna hijau toska

Beli Vespa Mahal-mahal sampai Rp50 Juta, tapi Tak Paham Fungsinya, Dibeli karena Warnanya Lucu

19 Februari 2026
Ngekos setelah menikah, ngekos di jogja, kesehatan mental.MOJOK.CO

Memilih Ngekos Setelah Menikah daripada Tinggal Bareng Ortu-Mertua, Finansial Memang Empot-empotan tapi Kesehatan Mental Aman

16 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.