MOJOK, Jogja – Selama ini Jogja memang dikenal sebagai daerah pusat produksi pengetahuan. Itu lah kenapa sampai ada julukan Kota Pelajar. Namun, selain itu, keberadaan ratusan penerbit buku juga menjadi pijakan bagi Jogja, tidak hanya sebagai pusat produksi pengetahuan, tapi juga menjadi Ibu Kota Buku UNESCO.
Gagasan perihal Jogja sebagai World Book Capital (Ibu Kota Buku) memang tengah gencar-gencarnya didorong oleh Ikatan Penerbit Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (IKAPI DIY).
Di momen Hari Lahir IKAPI ke-76 dan Hari Buku Nasional 2026 ini IKAPI DIY kembali menghelat rangkaian Pesta Buku Jogja. Di antara rangkaian event tersebut adalah: Seminar Literasi bertajuk “Mengukuhkan Jogja Menjadi World Book Capital” di Art Gallery Zona D, GIK Universitas Gadjah Mada, Sabtu (16/5/2026).
Lihat postingan ini di Instagram
Hadir dalam seminar tersebut: Ketua IKAPI DIY Wawan Arif Rahmat, Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti, Guru Besar Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM Prof. Dr. Purwo Santoso, M.A., serta Rektor UII Prof. Dr. Fathul Wahid.
Seminar tersebut dirancang sebagai forum dialog antara pemerintah, akademisi, penerbit, komunitas literasi, pengelola perpustakaan, pegiat budaya, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum. Diskusi difokuskan pada pemetaan kekuatan dan tantangan ekosistem buku di Daerah Istimewa Yogyakarta serta penyusunan langkah strategis menuju pengajuan resmi ke UNESCO.
Melalui seminar ini, IKAPI DIY berharap lahir dukungan publik yang luas, terbentuk jejaring kolaborasi lintas sektor, serta tersusun rekomendasi penguatan ekosistem literasi yang dapat memperkuat posisi Yogyakarta sebagai kota budaya, kota buku, dan pusat produksi pengetahuan tingkat dunia.
Jogja punya modal kuat jadi Ibu Kota Buku UNESCO
Seminar tersebut menjadi ruang konsolidasi gagasan untuk memperkuat langkah Jogja menuju pengajuan sebagai World Book Capital UNESCO. Gagasan tersebut lahir dari keyakinan bahwa Jogja memiliki modal kuat sebagai kota pendidikan, kota budaya, dan ruang hidup ekosistem literasi yang tumbuh dari kampus, penerbit, komunitas, perpustakaan, pegiat sastra, hingga gerakan literasi masyarakat.
Ketua IKAPI DIY, Wawan Arif Rahmat, menegaskan bahwa Jogja sesungguhnya tidak memulai dari nol. Jogja telah memiliki infrastruktur sosial perbukuan yang tumbuh selama puluhan tahun. Menurutnya, kekuatan Jogja bukan hanya terletak pada banyaknya kampus atau komunitas literasi, tetapi pada keberadaan ekosistem penerbitan yang hidup dan tersebar.

Data IKAPI menunjukkan terdapat sekitar 2.494 penerbit anggota IKAPI di Indonesia yang tersebar di 31 provinsi. Dari jumlah itu, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki sekitar 224 penerbit anggota IKAPI dan termasuk lima daerah dengan jumlah penerbit terbesar di Indonesia.
Menurut Wawan, angka tersebut bukan sekadar statistik organisasi. Di baliknya terdapat rantai pengetahuan yang panjang. Ada penulis, editor, desainer, percetakan, toko buku, perpustakaan, kampus, komunitas baca, hingga ruang diskusi publik yang membentuk kehidupan intelektual Jogja.
“Jika ratusan penerbit di Yogyakarta bergerak dan menghasilkan ribuan judul buku, maka yang dibangun bukan hanya industri. Yang dibangun adalah ingatan kolektif, ruang gagasan, dan identitas kebudayaan,” beber Wawan.
Warisan dunia perlu dihidupkan melalui produksi pengetahuan
Wawan juga mengaitkan gagasan World Book Capital atau Ibu Kota Buku dengan status Jogja sebagai pemilik Warisan Dunia UNESCO Sumbu Filosofi Yogyakarta. Menurutnya, selama ini Sumbu Filosofi lebih banyak dipahami dalam konteks tata ruang dan warisan fisik. Padahal warisan tersebut juga menyimpan gagasan, pengetahuan, dan cara pandang hidup masyarakat Yogyakarta.

Ia menjelaskan bahwa posisi IKAPI tidak berhenti sebagai organisasi profesi penerbit. IKAPI dapat berperan sebagai penghubung antarlembaga sekaligus penggerak agenda strategis menuju World Book Capital UNESCO.
IKAPI DIY, lanjut Wawan, dapat mengonsolidasikan kekuatan penerbit lokal, memperluas festival buku, membangun jejaring internasional, mendorong penerbitan berbasis riset, serta memperkuat hubungan antara industri buku dengan ruang budaya dan pendidikan.
“Warisan dunia tidak cukup dijaga lewat penanda ruang atau bangunan. Warisan dunia perlu dihidupkan melalui produksi pengetahuan. Buku menjadi salah satu cara paling kuat untuk merawat ingatan itu,” kata Wawan.***(Adv)
BACA JUGA: Siasat Kelompok Pencuri Buku di Jogja: Robin Hood atau Krimininal? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














