Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Hiburan

Ketika Tiga Dosa Besar Dunia Pendidikan Dikemas dalam Satu Film 

Giras Basuwondo oleh Giras Basuwondo
17 Juli 2022
A A
film omnibus tiga dosa besar

Salah satu potongan adegan dalam film "Rahmat Untuk Semua" yang jadi bagian dari film ombinus "Tiga Dosa Besar". (Dok. Dapur Film)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Setidaknya ada tiga isu besar yang masih sering terjadi dalam lingkungan pendidikan, yaitu sexual harassment atau pelecehan seksual, bullying (perundungan), dan intoleransi. Tiga isu dikemas dalam sebuah film omnibus “Tiga Dosa Besar” yang diputar Jumat 15 Juli 2022 di ruang tonton Mamahke Jogj, Jalan Taman, Patehan Yogyakarta. 

Tidak kurang dari 100 orang menyaksikan pemutaran film omnibus yang diproduksi oleh Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta diproduseri oleh Hanung Bramantyo. 

Film ini juga melibatkan tiga sutradara muda asal Yogyakarta, Ninndi Raras, Jeihan Angga, dan Bambang Ipung KM. Film omnibus sendiri berarti adalah film antologi yang terdiri dari beberapa film pendek yang mempunyai satu irisan tema yang sama. Kali ini tema yang diangkat adalah tiga dosa besar masalah di pendidikan di Indonesia.

Film omnibus yang bertajuk “3 Dosa Besar” ini terdiri dari 3 film, yaitu Sebuah Biru Di Putih Abu Abu, My Name Is Ichsan, dan Rahmat Untuk Semua. 

Cerita film pertama yang berjudul Ada Biru di Putih Abu Abu tentang Amay, seorang siswi SMA yang mengalami konflik batin dan sekaligus konflik eksternal dengan beberapa pihak di luar dirinya. Ini buntut dari sebuah tindakan pelecehan seksual yang terjadi di sekolahnya. 

Namun, gara-gara sejarah dan tingkah laku bandel tokoh Amay selama ini, maka tak semua orang mudah percaya dengan ceritanya. Film pendek ini menghadirkan beberapa simbol dan metafora visual yang kuat, khas signature dari sutradara Ninndi Raras.

Cerita Film kedua yang berjudul My Name Is Ichsan, bercerita tentang kasus bullying atau perundungan yang terjadi pada Ichsan dan Gito. Ichsan dan Gito adalah siswa lulusan sekolah dasar, yang baru saja masuk ke sebuah sekolah SMP. Banyak sekali adegan kocak yang terdapat dalam film besutan sutradara Jeihan Angga, yang selama ini memang terkenal dengan sebutan sutradara spesialis komedi dari Jogja.

Sementara film ketiga adalah film yang paling serius. Film yang berjudul Rahmat Untuk Semua ini menyajikan tema yang paling sensitif yaitu tentang intoleransi beragama dalam lingkungan sekolah.  Dikisahkan Maria, seorang siswi baru pindahan dari sekolah lain, mencalonkan diri sebagai ketua OSIS di SMA Unggulan. Maria sejak awal dipandang sebelah mata. Faktor pertama, karena dia adalah seorang perempuan, dan kedua dia berasal dari kalangan agama minoritas.

tiga dosa besar
Pemutaran dan diskusi film “Tiga Dosa Besar” menghadirkan tiga sutradara yang terlibat. (Dapur Film?mojok.co)

Maria lantas dengan susah payah berjuang untuk mencapai cita-citanya menjadi ketua OSIS, demi untuk menge-goal-kan program-program agar suara kaum minoritas bisa lebih bersuara. Maklum saja kaum minoritas di sekolah itu selama ini memang tidak pernah dianggap. 

Sementara di pihak lain pihak otoritas di sekolah menginginkan ketua OSIS haruslah dijabat oleh seorang muslim, demi membela kepentingan mayoritas. Di dalam film yang mengharukan ini, secara ledakan emosi para tokoh utama sangat mantap dipoles secara terjaga oleh sutradara Bambang Ipung KM.

Film omnibus ini sendiri konon juga masih belum diputuskan secara final bagaimana proses pendistribusian dan cara eksebisi film ini nantinya. Apakah mau diputar di sekolah-sekolah atau lewat media sosial atau bisa jadi lewat OTT (Over The Top) kanal berbayar. “Semua keputusan tentang distribusi masih menunggu keputusan final dari kementerian pendidikan pusat”, demikian penjelasan dari Jeihan Angga mewakili pihak produser.

Dalam diskusi bersama para penonton yang digelar setelah pemutara film tersebut, Ketiga sutradara dari tiga film tersebut yaitu Ninndi Raras (Ada Biru di Putih Abu Abu), Jeihan Angga (My Name Is Ichsan), dan sutradara Bambang Ipung KM (Rahmat Untuk Semua) menceritakan sedikit kisah dibalik layar dan proses kreatif dibalik produksi ketiga film pendek yang kemudian disatukan dalam satu film omnibus ini.

“Dalam setiap proses produksi film, para filmmaker haruslah berusaha menciptakan tantangan baru. Agar selain merasakan kesenangan saat syuting, kita sebagai filmmaker juga akan menemukan penemuan baru dan pencapaian yang lebih baik dari proses film sebelumnya,” kata Ninndi Raras.

Sementara itu Jeihan Angga, menyatakan bahwa di proses produksi kali ini yang menjadi tantangan terbesar adalah menyutradarai banyak sekali anak-anak. Maklum saja, ia harus mengarahkan aktor anak-anak seusia SD akhir dan anak usia SMP. Itu adalah proses yang menyenangkan sekaligus tantangan baru buat dirinya.

Iklan

Sementara itu sutradara Bambang Ipung KM menjelaskan bahwa dalam membuat film ini sutradara tidak bisa semena-mena memenuhi ego estetik dan artistiknya sendiri, karena bagaimanapun juga ini adalah film campaign, bukan film idealis. Jadi dalam proses haruslah juga membuka ruang toleransi seluas-luasnya dan harus bersikap akomodatif dengan semua masukan dari klien. 

BACA JUGA: Ari Headbang, Maniak Film dari Solo

Terakhir diperbarui pada 17 Juli 2022 oleh

Tags: FilmHanung Bramantyo
Giras Basuwondo

Giras Basuwondo

Aktor film dan penulis skenario.

Artikel Terkait

Sinefil.MOJOK.co
Urban

Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

9 Februari 2026
Film Tukar Takdir Nggak Sekadar Adegan Mesra Nicholas Saputra dan Adhisty Zara dalam Mobil! Mojok.co
Pojokan

Film Tukar Takdir Nggak Sekadar Adegan Mesra Nicholas Saputra dan Adhisty Zara!

8 Oktober 2025
film tema perselingkuhan.MOJOK.CO
Mendalam

Main Serong di Sinema Indonesia: Mengapa Kamu Menyukai Film Bertema Perselingkuhan?

22 September 2025
Hanung Bramantyo sebut Semarang punya beragam aset untuk menjadi Kota Film MOJOK.CO
Kilas

10 Tahun setelah Ayat-Ayat Cinta, Semarang Punya Beragam Aset untuk Jadi “Kota Sinema”

16 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Bagi Pekerja Bergaji Dua Digit “Nanggung” di Jakarta, Menyewa Apartemen di Tengah Kota Lebih Baik Ketimbang Ambil KPR di Pinggiran

9 Februari 2026
Sarjana pegasuh anak, panti asuhan Muhammadiyah di Surabaya. MOJOK.CO

Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

5 Februari 2026
Jogja City Mall, Sleman bikin orang nyasar. MOJOK.CO

Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

3 Februari 2026
Hanya Orang “Tidak Waras” yang Mau Beli Suzuki APV MOJOK.CO

Misteri Adik Saya yang Berakal Sehat dan Mengerti Dunia Otomotif, tapi Rela Menebus Suzuki APV yang Isinya Begitu Mengenaskan

5 Februari 2026
Sesi mengerikan kehidupan di desa: orang tua nelangsa karena masih hidup tapi anak-anak (ahli waris) sudah berebut pembagian warisan MOJOK.CO

Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal

3 Februari 2026
Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

6 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.