Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025: Menyerap Etosa Budaya Gunungkidul dalam Adoh Ratu Cedhak Watu

Redaksi oleh Redaksi
4 Oktober 2025
A A
Adoh Ratu Cedhak Watu jadi tema Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 di Gunungkidul MOJOK.CO

Ilustrasi - Adoh Ratu Cedhak Watu jadi tema Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 di Gunungkidul. (Instagram/FKY)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mengusung tema “adat istiadat”, gelaran Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) kembali berlangsung pada 2025 ini. Kabupaten Gunungkidul dipilih sebagai tuan rumah, persisnya di Lapangan Logandeng, Plembon Kidul, Kalurahan Logandeng, Kapanewon Playen pada 11-18 Oktober 2025.

Gunungkidul: representasi adat istiadat Yogyakarta

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, Dian Lakshmi Pratiwi menyampaikan, Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) sedang melakukan rebranding. Yakni sebagai forum kebudayaan yang merayakan semua objek kebudayaan kepada seluruh stakeholder-nya. Termasuk masyarakat.

“Tahun ini adalah tahun ketiga dari rebranding. Ini sesuai dengan roadmap yang setiap tahunnya berpindah dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya,” ujarnya dalam jumpa pers pada Sabtu (4/10/2025).

Untuk diketahui, dalam dua edisi sebelumnya, FKY berlangsung di dua kabupaten berbeda. Pada 2023 Kulonprogo menjadi tuan rumah tengah tema “pangan”. Lalu pada 2024 bertempat di Bantul dengan tema “benda”.

Jumpa pers Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 di Gunungkidul MOJOK.CO
Jumpa pers Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 di Gunungkidul. (Dok. FKY)

Dian menyebut, Gunungkidul tidak sekadar menjadi “tuan rumah” bagi tema adat istiadat FKY 2025. Melainkan juga menghadirkan ekosistem yang secara intrinsik mampu merespons, menyaring, dan mengolah setiap perjumpaan di persimpangan lalu lintas kebudayaan yang hilir mudik.

Pasalnya, Gunungkidul dan “adat istiadat” adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Gunungkidul merupakan daerah yang kaya akan adat istiadat dan tradisi yang beragam, praktik yang bekerja secara organik, tumbuh bersama sejarah, diwariskan antar-generasi, dan melekat dalam interaksi sosial sehari-hari.

Adoh Ratu, Cedhak Watu

Sementara itu, Koes Yuliadi selaku Perwakilan Steering Committee Festival Kebudayaan Yogyakarta, menambahkan bahwa tema Adoh Ratu, Cedhak Watu menjadi reaktualisasi dari adat istiadat yang ada di Gunungkidul.

“Tema ini menjadi konsep yang luar biasa ketika ingin menguatkan identitas masyarakat. Di Gunungkidul tema ini tertuang dalam hubungan manusia dengan manusia, alam, dan Tuhan,” tutur Koes.

“Sebagai contoh dengan adanya hubungan manusia dengan ternak yang terwujud dalam adat istiadat,” sambungnya.

Tema Adoh Ratu, Cedhak Watu (secara literal berarti “jauh dari raja/pemimpin, dekat dengan batu”) menjadi tema dari Festival Kebudayaan Yogyakarta 2025. Tema ini merepresentasikan sebuah etos kebudayaan yang khas dalam masyarakat Gunungkidul.

Adoh Ratu, Cedhak Watu hendak memaknai adat istiadat sebagai daya hidup dan daur hidup masyarakat. FKY 2025: Adoh Ratu, Cedhak Watu lebih dari merayakan adat, tetapi untuk memfasilitasi ruang pertemuan dan pertukaran bagi ragam subjek, ragam konteks dan nilai.

Arak-arakan kambing ternak hingga pasukan panji desa

Selain itu, B. M. Anggana, Ketua Festival Kebudayaan Yogyakarta 2025 mengungkapkan bahwa FKY tahun ini memasuki tahun ke-35 pelaksanaannya. Dirinya beserta tim riset FKY telah melalui proses memperdalam tema sejak bulan Mei 2025.

Anggana menambahkan bahwa tema ini menjadi semangat di masyarakat. Pada hari ini tema tersebut menjadi satu pernyataan kuat dalam konteks sosial politik hari ini: Mengenai kemandirian dan solidaritas yang utuh, sehingga menjadi representasi kedaulatan rakyat.

Pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 akan berlangsung pada 11 Oktober 2025 di Lapangan Logandeng sebagai lokasi utama festival. Pembukaan nantinya akan ditandai dengan prosesi Pawai Rajakaya, yaitu arak-arakan kambing ternak.

Iklan

Arakan itu diikuti oleh bregada sebagai prajurit identitas khas Yogyakarta, barisan pembawa ubo rampe gumbregan, serta pasukan panji desa yang berasal dari Kompetisi Panji Desa.

Agenda Festival Kebudayaan Yogyakarta 2025 di Gunungkidul

Terdapat berbagai program yang merepresentasikan tema FKY 2025: Adoh Ratu, Cedhak Watu, diantaranya: Kompetisi FKY (Panji Desa, Rajakaya, Jurnalisme Warga), Jelajah Budaya (Telusur Tutur, Lokakarya, dan Sandiswara), Gelaran Olah Rupa, Panggung FKY, FKY Bugar, Pasaraya Adat “Ruwang Berdaya”, Pawon Hajat Khasiat, dan FKY Rembug (Wicara, Siniar, dan Wedangan).

Seluruh program FKY 2025 terbuka untuk umum. Para pengunjung dapat melihat agenda harian festival melalui media sosial @infofky dan wesbite FKY (fky.id).

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh FESTIVAL KEBUDAYAAN YOGYAKARTA (@infofky)

Selain itu, beberapa program di atas juga hadir melalui kolaborasi setara antara panitia pelaksana, pelaku budaya/seniman, serta komunitas lokal Gunungkidul. Seperti karang taruna, PERWOSI, maupun 18 Kapanewon di Gunungkidul.

Program Telusur Tutur misalnya. Sebagai salah satu program pre-event yang berlangsung sejak 26 September-4 Oktober 2025, program ini melibatkan karang taruna dan komunitas penghayat kepercayaan.

Ada pula program Pawon Hajat Khasiat. Program ini akan hadir sebagai ruang eksperimental pangan yang berangkat dari adat istiadat dan kekayaan bahan lokal Gunungkidul. Program ini berkolaborasi dengan komunitas lokal mulai dari karang taruna, kelompok ibu-ibu, petani, hingga penggerak pangan desa.***(Adv)

BACA JUGA: Temuan Padi BTI yang Hidupi Petani Gunungkidul Jogja, Bibit Padi yang Bisa Ditanam di Lahan Kering atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2025 oleh

Tags: festival kebudayaan yogyakartaFKYgunungkidulYogyakarta
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO
Kabar

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO
Bidikan

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Caruban—sebagai ibu kota dari Madiun—barangkali terkesan tidak bagus-bagus amat. Tapi bikin jatuh hati lewat hal-hal sederhana MOJOK.CO

Caruban Madiun Memang Tidak Bagus-bagus Amat, Tapi bikin Jatuh Hati Lewat Hal-hal Sederhana

13 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi 

13 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.