Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Ekonomi

Alasan Bus Cebong Jaya Masih Menguasai Jalur Wonosobo-Purwokerto Meski Diterpa Banyak Keluhan

Iradat Ungkai oleh Iradat Ungkai
28 Juli 2023
A A
cebong jaya mojok.co

Bus Cebong Jaya (IG @cebongjaya_comunity)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – PO Cebong Jaya merupakan bus legendaris yang menghubungkan Wonosobo-Banjarnegara-Purwokerto. Bus ini jadi pilihan utama warga daerah tersebut saat bepergian.

Sejak 1982, bus ini sudah melintas di jalanan dingin. Kehadirannya begitu diandalkan warga Wonosobo, Banjarnegara, Purwokerto, dan sekitarnya. Hingga 2021 lalu, perusahaan ini masih memiliki 30 armada bus yang setia mengantarkan penumpang.

Meski demikian, tidak bisa dimungkiri bahwa banyak juga warga yang punya pengalaman kurang mengenakkan saat naik bus ini. Salah satunya Pasha Dena (23), warga Wonosobo asli yang pernah masuk angin setelah menggunakan bus ini.

Pengalaman penumpang

Pada 2019 ia menggunakan Cebong Jaya untuk pulang ke Wonosobo dari perjalanan jauh. Dalam kondisi capek ia mendapatkan bus yang jendelanya tidak bisa ditutup. Malangnya saat itu hujan, alhasil bajunya basah kuyup setelah menempuh 3 jam perjalanan Purwokerto–Wonosobo.

“Aku capek banget dan itu tuh kondisi lagi nggak sehat dan jendelanya nggak bisa ditutup, hujan, air masuk semua, aku besoknya langsung masuk angin. Nggak nyaman yang jelas,” ujar Dena.

Kisah Dena membuat saya mencari tahu lebih jauh mengenai bus ini. Kemudian saya bertemu dengan Januar Dhika (25) yang juga orang Wonosobo totok. Ia juga mengatakan kekurangan yang kurang lebih sama, perihal kondisi armada.

“Interiornya itu agak kurang terawat, mungkin nggak semua, cuman beberapa kali aku pakai kayak gitu,” kata Januar.

Kedua pernyataan tersebut membuat saya jadi penasaran, mengapa dengan kekurangan itu bus ini masih bisa eksis bahkan dibilang merajai jalanan Wonosobo, Banjarnegara, Purwokerto, dan sekitarnya?

Cepat dan banyak armada

Jawaban itu kemudian saya temukan setelah menghubungi Erta (50), warga Wonosobo asli yang puluhan tahun menjadi pelanggan bus ini. Tidak bisa dimungkiri bahwa kecepatan adalah alasan utama penumpang masih setia kepada Cebong Jaya.

“Cebong tu cepet, dan busnya ada banyak, tarifnya standar jadi nyaman,” tulis Erta via pesan Whatsapp.

Perihal kecepatan, Januar pun mengakui kalau bus ini termasuk bus yang cepat dan bisa diandalkan kala sedang dalam keadaan terburu-buru. Ia lebih bisa diandalkan ketimbang angkot yang suka ngetem lama.

Selain itu, bus ini juga waktu kedatangannya jelas dan jumlahnya banyak. Maka tidak heran kalau banyak yang bergantung sama bus ini. Dari cerita mereka bertiga, saya jadi tahu kalau penumpang bus ini rata-rata anak sekolah dan orang-orang pasar. Kedua jenis penumpang ini jelas membutuhkan jam keberangkatan yang pasti.

“Dulu bus ada tiap 15-20 menitan tergantung jam, makin sore makin lama,” lanjut Erta.

Tarif enteng di kantong

Dan yang tidak kalah penting lagi, tarif bus ini bisa dibilang murah. Ketiga narasumber kami mengakui itu. Erta mengatakan kalau ia biasa dikenakan tarif kurang lebih 15 ribu lintas Wonosobo–Banjarnegara. Dena bahkan dikenakan tarif yang lebih murah lagi.

Iklan

“Dulu kalau jarak dekat aku nggak sampe Rp5 ribu, Rp2 ribu boleh kalau anak sekolah. Di bawah 10 km lah,” ujarnya.

Dengan segala kekurangannya, terbukti Cebong Jaya masih jadi andalan penumpangnya. Setiap bus tentu ada kekurangannya, namun selama itu semua bisa ditutupi dengan kelebihan lain agaknya penumpang akan tetap bersetia. Bagaimana dengan Anda?

Penulis: Iradat Ungkai
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Kisah di Balik PO Cebong Jaya, Penguasa Jalur Wonosobo-Purwokerto yang Melegenda

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 28 Juli 2023 oleh

Tags: bus akapbus akdpBus Cebong Jayacebong jayapo bus
Iradat Ungkai

Iradat Ungkai

Kadang penulis, kadang sutradara, kadang aktor.

Artikel Terkait

Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO
Ragam

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Bus luragung jaya.MOJOK.CO
Ragam

Pengalaman Naik Bus Malam: Laptop Berisi Skripsi Digondol Maling, Ganti Rugi Tak Seberapa tapi Mimpi Jadi Sarjana Harus Tertunda

19 Juli 2025
bus teguh purwokerto wonosobo.MOJOK.CO
Ragam

Uji Nyali Bersama PO Bus Teguh Jalur Purwokerto Wonosobo, Bikin Pemotor Panik Sampai Tabrak Gerobak

16 Maret 2024
Mendahului Purwo Widodo, Bus Tuyul Andalan Penglaju Jogja-Kulonprogo Lebih Dulu Almarhum Meski Tak Punya Saingan.mojok.co
Catatan

Mendahului Purwo Widodo, Bus Tuyul Andalan Penglaju Jogja-Kulonprogo Lebih Dulu Almarhum Meski Tak Punya Saingan

11 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah PTN Surabaya pertama kali makan di restoran All You Can Eat (AYCE): norak, mabuk daging, hingga sedih karena hanya beri kenikmatan sesaat MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

6 Februari 2026
Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026
Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO

Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Toko musik analog, Dcell Jogja Store. MOJOK.CO

Juru Selamat “Walkman” di Bantul yang Menolak Punah Musik Analog

2 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.