Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Bangun Rumah Murah, Paguyuban Kalijawi dan Arkom Usulkan Kampung Gotong Royong ke Sultan 

Yvesta Ayu oleh Yvesta Ayu
15 April 2023
A A
Bangun Rumah Murah, Paguyuban Kalijawi dan Arkom Usulkan Kampung Gotong Royong ke Sultan . MOJOK.CO

Divisi Advokasi dan Jaringan Kalijawi, Ainun Murwani dan Direktur Arkom Indonesia, Yuli Kusworo menyampaikan tentang kampung gotong royong di Bale Timoho Yogyakarta, Jumat (14/04/2023) sore. (Yvesta Ayu/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Wacana rumah murah menggunakan tanah Sultan Ground yang disampaikan Sri Sultan HB X bisa terealisasi. Salah satu konsepnya dengan membangun rumah gotong royong yang berbasis komunitas. Sebagai percontohan, rumah tersebut saat ini ada di kawasan bantaran Sungai Winongo dan Gajah Wong. 

Sultan HB X sendiri mewacanakan rumah murah bagi warga Jogja karena melihat warga yang kesulitan untuk membeli rumah di tanah kelahirannya karena harganya yang selangit. Banyaknya warga luar daerah yang membeli tanah tanpa menawar.

Akibatnya membuat harga tanah di kota ini semakin tak terjangkau oleh warga lokal. Belum lagi lahan seluas 200 hektar yang terus berkurang di kota ini tiap tahunnya akibat alih fungsi menjadi permukiman atau fasilitas publik lainnya.

Karenanya, Paguyuban Kalijawi, perkumpulan warga Bantaran Sungai Winongo dan Gajah Wong serta para arsitek yang tergabung dalam Arsitek Komunitas (Arkom) Indonesia menyambut baik pernyataan Sultan. Bahkan keduanya dengan senang hati membantu Pemda DIY untuk merealisasikannya. Mereka ingin agar ide tersebut tak berhenti sekadar wacana seperti yang disampaikan Penjabat (Pj) Sekda Wiyos Santoso.

“Apa yang Sultan sampaikan tentang rumah murah bagi warga Jogja banyak beredar di media itu bikin kami optimis dengan konsep yang kami lakukan selama ini. Kaya tumbu entuk tutup kalau orang Jawa bilang. Paguyuban kami punya konsep perumahan untuk rakyat miskin,” ungkap Divisi Advokasi dan Jaringan Kalijawi, Ainun Murwani di Bale Timoho Yogyakarta, Jumat (14/04/2023) sore.

Kampung gotong royong jadi percontohan

Kalijawi bersama Arkom Indonesia, menurut Ainun sejak 2014 silam mengembangkan kampung gotong royong bagi warga di bantaran Sungai Winongo dan Gajah Wong. Hal itu mereka lakukan karena keprihatinan akan rumah tinggal bagi warga di kawasan tersebut. Satu rumah kecil bisa untuk Kepala Keluarga (KK) gendong dan dihuni 17 orang atau tiga sampai empat KK akibat tak mampu membeli rumah di kawasan perkotaan Yogyakarta.

Mereka pun berinisiatif membuat kampung gotong royong di bantaran sungai tersebut. Arkom mengajak berkolaborasi 120 KK yang tidak punya rumah atau yang mengindung di KK lainnya di 14 kampung kecil di Kota Jogja untuk mengembangkan kampung baru berkonsep gotong royong. 

Warga yang ikut serta kebanyakan merupakan KK dengan tingkat perekonomian yang rendah. Menabung Rp 2 ribu per hari di koperasi yang mereka dirikan, kini warga bantaran Sungai Kaliwinongo dan Gajah Wong bisa memiliki dana sekitar Rp1 Miliar.

“Jadi warga bantaran sungai menabung untuk perbaikan permukiman dan menjadi kampung susun dengan konsep gotong royong kampung. Setiap warga terlibat dalam setiap prosesnya untuk mengembangkan kampung dan membuat koperasi,” paparnya.

Sebanyak 22 kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari 10 orang anggota paguyuban dibantu Arkom melakukan penataan kawasan bantaran Sungai Kaliwinongo dan Gajah Wong. Melakukan relokasi dan membangun permukiman kumuh menjadi kampung berbasis komunitas. 

Kampung berbasis komunitas

Karenanya bila wacana rumah murah Sultan bisa terealisasi, Ainun menyakini keinginan banyak warga Yogyakarta untuk memiliki dan tinggal di rumah yang nyaman tak hanya menjadi mimpi. Melalui kerja kolaboratif warga, pemerintah daerah, dan mereka sebagai komunitas yang memiliki pengalaman mengembangkan kampung gotong royong, niscaya warga Yogyakarta tak semakin terpinggirkan di tanahnya sendiri. 

Hal ini akan membuat konsep Yogyakarta yang istimewa tak sekadar predikat. Melalui penerapan konsep kampung susun berbasis komunitas, pemberdayaan warga bisa secara bergotong royong. Hal ini akan berbeda dari konsep rumah susun yang ada di banyak kota yang berakhir pada individualisme warganya.

“Tanah Sultan Ground dapat menjadi permukiman untuk rakyat miskin memberikan harapan bagi warga Jogja. Konsep kami selama ini juga kayak gitu. Kepemilikannya nanti komunal dan kolektif sehingga tidak menimbulkan masalah baru seperti [rumah] diperjualbelikan. Ada koperasi yang mengelola manajemen secara bersama-sama,” paparnya.

Iklan

Memanfaatkan sultan ground yang jadi tanah kas desa 

Direktur Arkom Indonesia, Yuli Kusworo mengungkapkan, konsep kampung gotong royong yang selama ini mereka kembangkan di bantaran Sungai Kaliwinongo dan Gajah Wong. Kampung gotong royong bisa jadi salah satu percontohan untuk diterapkan di kampung-kampung lain di wilayah perkotaan Yogyakarta. Sehingga akan semakin banyak warga yang memiliki hunian layak.

“Ada beberapa tanah kas desa yang potensial jadi kawasan permukiman seperti di Wojo, Banguntapan, dan lainnya,” jelasnya.

Mereka siap membantu Pemda DIY dan pemerintah kabupaten dan kota untuk mengkaji dan mengidentifikasi Sultan Ground berupa Tanah Kas Desa (TKD) yang potensial untuk mengembangkannya sebagai permukiman warga. Hal ini mengingat tidak semua TKD bisa dimanfaatkan untuk permukiman karena dimanfaatkan atau dikelola untuk hal lainnya.

Identifikasi tersebut memungkinkan karena praktek pemanfaatan Sultan Ground untuk warga telah ada sejak dulu. Kraton bisa memberikan tanah dengan hak pakai kepada warganya. Tujuannya warga bisa memanfaatkan sebagai tempat tinggal yang aman tanpa harus terbebani biaya mahal.

“Konsep kampung gotong royong bisa karena tidak jauh dari penghidupan dan bisa berlangsung turun-temurun,” paparnya.

Kampung gotong royong sukses di Thailand

Karenanya Arkom dan Kalijawi ingin bertemu dengan Sultan untuk menyampaikan konsep kampung gotong royong tersebut di kawasan perkotaan. Sebagai contoh kampung Kaliwinongo dan Gajah Wong yang sudah berjalan beberapa tahun terakhir. Konsep yang sama akan mereka sampaikan bagi warga lainnya.

Sebab untuk bisa membangun kampung gotong royong hanya membutuhkan lahan sekitar 1 hektar. Lahan tersebut bisa untuk sekitar 120 KK sebagai permukiman murah.

Konsep yang sama sudah diterapkan di Thailand. Raja Thailand mengembangkan kampung gotong royong di negara sebagai program nasional bagi warganya bertahun-tahun silam.

“Jadi tidak harus cari tanah Sultan yang jauh seperti di Bantul. Kita bisa identifikasi lokasi di sekitar kawasan pemukiman kota yang terlihat untuk menjadi kampung gotong royong. Seperti di selatan ringroad. Kan bisa membuka datanya bareng-bareng. Ini tinggal komunikasi saja dengan banyak pihak,” imbuhnya.

Reporter: Yvesta Ayu
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Mereka yang Hidup di Bantaran Sungai Jogja dan tulisan menarik lainnya di kanal Kilas.

 

Terakhir diperbarui pada 15 April 2023 oleh

Tags: rumahrumah gotong royongrumah murahrumah murah di jogja
Yvesta Ayu

Yvesta Ayu

Jurnalis lepas, tinggal di Jogja.

Artikel Terkait

Anak pulang ke rumah dari perantauan ditunggu, tapi justru sakiti dan beri duka karena sepelekan masakan ibu MOJOK.CO
Sehari-hari

Anak Pulang Justru Lukai Hati Ibu: Pilih Makan di Luar dan Sepelekan Masakan Ibu karena Lidah Sok Kota-Banyak Gaya

11 Maret 2026
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co
Ragam

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026
Kesedihan perantau yang merantau lama di Surabaya dan Jakarta. Perantauan terasa sia-sia karena gagal menghidupi orang tua MOJOK.CO
Ragam

Rasa Gagal dan Bersalah Para Perantau: Merantau Lama tapi Tak Ada Hasilnya, Tak Sanggup Bantu Ortu Malah Biarkan Mereka Bekerja di Usia Tua

29 Januari 2026
Makin ke sini pulang merantau dari perantauan makin tak ada ada waktu buat nongkrong. Karena rumah terasa amat sentimentil MOJOK.CO
Ragam

Pulang dari Perantauan: Dulu Habiskan Waktu Nongkrong bareng Teman, Kini Menghindar dan Lebih Banyak di Rumah karena Takut Menyesal

12 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Anak PNS kuliah di PTN top seperti UGM masih menderita karena UKT nggak masuk akal

Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

4 April 2026
Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
kuliah s2.MOJOK.CO

Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA

5 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.