• 343
    Shares

MOJOK.CO Pembebasan Abu Bakar Baasyir mempunyai makna yang strategis. Kontroversial memang, tapi ini demi deradikalisasi di Indonesia!

Setelah debat presiden, ada lagi satu tema yang menjadi bahan debat di dunia maya, yakni soal pembebasan Abu Bakar Baasyir. Seolah sudah menjadi tradisi di Indonesia, menjelang tahun politik, peristiwa ini kemudian menjadi salah satu bahan debat di Indonesia. Polarisasi antara pendukung Jokowi dan lawannya pun muncul.

Di lini masa, pendukung Jokowi memuja-mujanya sebagai bukti bahwa Jokowi sangat memuliakan ulama. Disebut pula, hal ini sebagai bukti rasa kemanusiaan Jokowi yang besar.

Sementara, penentangnya mempertanyakan bagaimana bisa seorang ideolog teror dibebaskan begitu saja. Keputusan ini dianggap sebagai langkah mundur dalam penanganan terorisme. Yang lebih sinis bahkan menyebutnya sebagai upaya murahan untuk mengais dukungan dari kalangan Islam garis keras.

Tapi, benarkah seperti itu?

Saya bukan analis politik kelas wahid, namun saya agak sulit membayangkan limpahan elektoral sebesar apa yang bisa ditukar dengan risiko meningkatkan radikalisme di Indonesia, yang sebenarnya masih dalam taraf mengkhawatirkan. Saya juga tak hendak membahas mengenai prosedur hukum mengenai pembebasan tersebut.

Satu-satunya yang saya bisa pahami dari konteks seperti ini adalah dari perspektif potensi bahaya terorisme di Indonesia. Juga soal deradikalisasi.

Abu Bakar Baasyir (ABB) bukan ulama biasa, bahkan dalam dunia ikhwan jihadi sekalipun. Dia sama sekali berbeda dengan Aman Abdurrahman, amir JAD yang baru saja divonis hukuman mati empat bulan yang lalu. Levelnya sangat jauh, meski belakangan dia jarang mengeluarkan fatwa atau bersuara mengenai situasi terkini.

Sebagai ilustrasi, pada 2009 lalu, saya berada di Jalur Gaza untuk sebuah liputan. Saat bertemu dengan para petinggi Hamas, satu-satunya tokoh yang mereka tanyakan kabarnya adalah ABB ini.

Sebagian mengaku kenal dan berinteraksi, tapi lebih banyak yang tidak. Mereka hanya dengar namanya saja. Oh ya, mereka menyebutnya dengan sorot mata terlihat kagum. Ini bisa menjadi satu bukti bahwa kiprahnya sudah diakui di komunitas pergerakan Islam internasional.

Pendiri Ponpes Al-Mukmin di Ngruki tersebut juga dianggap sebagai godfather-nya Jamaah Islamiyyah. Sekedar diketahui, aksi terorisme di bawah 2010 yang besar-besar di Indonesia, dilakukan oleh tanzhim sirri (organisasi rahasia) ini: Bom Bali I dan II, Bom Marriott, Bom Kedutaan Australia.

Nama-nama seperti Amrozi, Ali Ghufron, Imam Samudera, Noordin Mohd Top, Dr Azahari, Dul Matin, semuanya adalah anggota Jamaah Islamiyyah.

Dari penyidikan polisi diketahui bahwa ideolog utama dari kelompok teror ini adalah ABB. Ulama 81 tahun tersebut dulunya termasuk tokoh kunci yang mengatur pemberangkatan delegasi Indonesia ke Afghanistan.

Baca juga:  Jokowi Dapat Dukungan dari Ulama Alumni Mesir, Trisakti, dan Alumni IKJ

Tokoh ini pula yang bersama Abdullah Sungkar memisahkan diri dari NII dan membentuk jamaah sendiri yang bersifat salafi jihady. ABB sendiri yang memilih nama organisasi yang sama dengan pendahulunya di Mesir dengan tokoh Ayman Al Zawahiri (yang kini menjadi amir Al-Qaeda): Jamaah Islamiyyah.

Untuk strategi, mereka memilih Jahriyatu Ad Da’wah wa Sirriyatu At Tanzhim (berdakwah secara terang-terangan dan merahasiakan organisasi).

Dalam sebuah wawancara saya dengan Nasir Abbas, dia bercerita bahwa pada 1993 di Afghanistan, dia disuruh untuk memilih apakah ikut Ajengan Masduki (NII) ataukah ikut Ustaz Abdul Halim (Abdullah Sungkar) dan Ustaz Abdus Shomad (ABB). Karena jika ikut Ajengan Masduki berkonsekuensi kembali pulang ke Malaysia secepatnya, pentolan JI tersebut lebih memilih ikut JI.

Organisasi yang kelak menjadi embrio kelompok teror jihadis Indonesia modern tersebut juga memilih buku Mitsaq Amal Islami (Pedoman Amal Islam) yang juga jadi buku panduan JI Mesir.

Buku ini menjawab sembilan pertanyaan yang kemudian dikembangkan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir menjadi sepuluh prinsip dasar seorang jamiyyah.

Prinsip kesepuluh menggambarkan strategi perjuangan mereka: “Pengalaman Islam kita adalah murni dan kaffah, dengan sistem Jama’ah, kemudian Daulah, kemudian Khilafah.” Lebih lanjut, ABB pernah menyatakan bahwa JI sama dan sebangun dengan JI Mesir.

Setelah itu, yang terjadi adalah sejarah. Indonesia menjadi salah satu negara terburuk yang menjadi korban terorisme. Hampir seribu orang tewas selama hampir 20 tahun terorisme di Indonesia. Lebih dari 5.000 orang kini terpapar radikalisme.

Bahkan, aksi-aksi teror yang dilakukan oleh sejumlah kelompok teror yang berafiliasi ke ISIS tak lebih dari catatan kaki saja dari aksi radikal dan terorisme JI, baik dari skala serangan maupun efek serangan.

Dari gambaran di atas, ABB tentu tak lagi menjadi sosok biasa. Kiprahnya telah membuatnya meloncat lebih dari sesosok manusia biasa menjadi sebuah personifikasi perjuangan.

Dalam skala yang berbeda, dia seperti Subcommandante Marcos bagi Zapatista atau Ernesto Che Guevara bagi kelompok perjuangan revolusioner Amerika Latin. Konon, saking kerasnya memegang prinsip, ketika dia kemudian hijrah dan deklarasi ke ISIS, dia kabarnya rela berseberangan dengan putranya.

Maka, ketika dia sakit-sakitan dalam usia tuanya di Nusakambangan, pemerintah lebih memilih untuk memindahkannya ke Lapas Gunung Sindur pada 2006. Pun ketika dua tahun setengah di sana, pemerintah kemudian membebaskannya, maka itu dapat dimengerti.

Dan itu sama sekali bukan karena pertimbangan politik, tapi lebih pada pertimbangan strategis. Indonesia sedang memasuki tahun politik. Ancaman radikalisme yang masih tinggi tentu bukan ancaman yang bisa dianggap main-main.

Baca juga:  Fans Agnez Mo Lebih Radikal dari Jihadis ISIS

Pileg dan Pilpres 2019 yang diselenggarakan pada 17 April mendatang tentu saja menyerap semua energi petugas keamanan. Adanya serangan teroris di antara tanggal ini tentu merupakan pukulan telak.

Potensi stabilitas politik yang terganggu, ditambah dengan potensi ancaman kemunduran ekonomi akibat serangan terorisme, tentu harus disikapi. Meredakan potensi terorisme tentu saja menjadi prioritas yang harus dilakukan dengan at all cost. Maka, membebaskan ABB dari penjara adalah salah satunya.

Mungkin, banyak pengamat netral yang mempertanyakan keabsahan asumsi tersebut. Tapi, bagi yang mengikuti dinamika di kalangan ikhwan jihadi, ini adalah sesuatu yang disambut positif. Sejumlah pentolan JI bahkan menyambut baik.

“Ustadz Abu Bakar Baasyir memang banyak dimanfaatkan oleh kawan maupun lawan. Orangnya sendiri amat bersahaja dan sangat ikhlas. Saya bersama beliau lebih sepuluh tahun,” kata seorang pentolan JI yang pernah menjadi instruktur di kamp I’dad (persiapan jihad) milik Osama bin Laden di Afghanistan kepada saya.

Masih banyak lagi komentar senada terhadap hal tersebut. Ini menunjukkan fakta bahwa ABB masih mempunyai banyak pengikut loyal yang hormat kepadanya, terutama orang-orang JI.

Sekedar diketahui, JI dan kelompok teror yang berafiliasi ke ISIS di Indonesia memang tak akur. Dan selama sepuluh tahun terakhir, yang main memang kelompok ISIS.

Akan tetapi, ancaman terbesar terorisme masih dari kelompok JI. Ada perbedaan mendasar dari dua faksi kelompok teror di Indonesia tersebut. Kelompok ISIS skalanya masih sangat kecil dan serangannya berupa sporadis.

Sementara itu, JI memiliki kemampuan tempur yang masih sangar, skala serangan yang besar, mempunyai anggota lebih besar dan organisasi yang rapi, dan mereka terus mewariskannya kepada junior-juniornya.

Jika ada pertanyaan kenapa JI sekarang tak lagi bermain, itu karena memang masih ada fatwa JI yang menyatakan Indonesia adalah daerah abu-abu. Bukan harus diperangi, tapi juga bukan darul Islam.

Pertanyaan yang lebih bagus lagi diajukan adalah: sampai kapan fatwa JI ini bertahan setelah dicabut?

Dengan demikian, pembebasan Abu Bakar Baasyir ini sebenarnya mempunyai makna yang sangat strategis untuk deradikalisasi di Indonesia. Bahkan, jika perlu, ada assessment menyeluruh ke napiter.

Mereka-mereka yang sudah berpindah paradigma dan kooperatif, dan telah menjalani hukuman lebih dari sepuluh tahun, sebaiknya juga dibebaskan. Kontroversial memang, tapi jika ingin deradikalisasi di Indonesia berjalan lebih cepat, hal itulah yang harus dilakukan.

Sungguh, sangat jauh pertimbangannya ketimbang sekadar “apakah-Jokowi-tengah-menggalang-dukungan-umat-Islam-atau-tidak”!

  • 343
    Shares


Loading...



No more articles