[MOJOK.CO] “Kadang berbakti kepada orang tua itu gampang. Mengajari mereka menggunakan aplikasi Whatsapp dengan penuh kesabaran, misalnya.”

Sudah lama sekali Bapak ingin punya ponsel yang agak canggih seperti teman-temannya. Tapi, selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir ini, sejak masa kejayaan Nokia terguling oleh Samsung, BlackBerry, hingga iPhone, keinginan Bapak itu selalu bisa teralihkan. Iklan gawai-gawai canggih yang silih berganti menyajikan seri terbaru hampir tiap minggu itu tidak menjangkau Bapak.

Alasan utamanya adalah Ibu.

Ibuku adalah tipikal perempuan dengan level insekyur yang kebal hukum. Ia bisa marah-marah hanya ketika Bapak memuji betapa enerjik seorang penyanyi dangdut yang tampil di televisi. Rupanya, dari aktivitas bergosip dengan sesama ibu-ibu di kampung, ia mendapat banyak cerita soal perselingkuhan antartetangga yang bermula dari percakapan di ponsel.

Jadilah aktivitas keseharian Bapak dengan ponsel hanya menelepon dan mengirim SMS untuk anak-anaknya. Ia sudah senang sekali mendapati image logo Nahdlatul Ulama di layar monokrom itu. Bapak bahkan masih asik bermain-main dengan ringtone “kikuk-kikuk” yang kalian pasti juga pernah alay main-mainin pas jaman SMP dulu.

Fitur paling canggih di ponsel Bapak adalah radio. Ia biasa mendengarkan siaran campursari dan tayuban lewat saluran radio lokal, lalu mengirim SMS salam-salam untuk penyiar acara yang bersuara kenes. Bapak sengaja melakukan itu biar Ibu mendengar ketika SMS-nya dibacakan, lalu mereka pun berantem mesra. Selebihnya, kehidupan Bapak namaste sekali. Ketika kita ikut pusing karena mikirin debat Alexis, Bapak merapal zikir tawassul di waktu senggangnya.

Kejadiannya seminggu lalu. Ponsel jadul Bapak mati tanpa alasan yang jelas. Saya masih di Yogyakarta. Mas Udin, kakak saya yang tinggal bersama orang tua di Blora, telah membawa barang keramat itu ke tukang servis langganan, tapi tetap tak mau hidup kembali.

Tanpa sepengetahuan Ibu, Bapak akhirnya membeli ponsel android. Tidak mahal, hanya yang seharga dua jutaan. Wajahnya semringah sekali. Ibu marah-marah. Tapi, sepuluh menit kemudian tiba-tiba hening begitu saja setelah diberi sogokan beberapa lembar uang cepekan.

Lalu, mulailah kehebohan Bapak. Bapak minta dibuatkan fesbuk. Rupanya, blio sering dengar dari bapak-bapak jaman now lainnya kalau saya sering bikin onar di fesbuk. Mas Udin membantu akun Bapak untuk add akun saya, tentu saja tidak bisa. Maklum, seleb gitu loh. Kepada Mas Udin, Bapak juga tiap malam minta diajarin agar bisa pakai WhatsApp. Aktivitas yang tentu saja bikin Ibu super keki.

Ketika saya pulang ke rumah Blora pekan ini, saya pun bertanya kepada Bapak, kenapa tiap saya kirim Whatsapp, Bapak balas pesan lewat SMS?. Ketika saya video call, kok tidak pernah diangkat?

“Bapak belum bisa-bisa. Tolong ajarin ya, Nduk….”

Mulailah saya memeriksa aplikasi WhatsApp di ponsel Bapak yang baru seminggu itu.

“Bapak, ngapain kirim poto selfie Bapak ke semua kontak WhatsApp?”

Bapak mulai kebingungan.

“Bapak, ngapain foto profil fesbukku di-share ke grup kantor kelurahan?”

“Eh, masak sih, Nduk?”

“Bapak, ngapain ngirim video aneh ke WhatsApp Pak Kiai? Kan sungkan ih….”

“Lho, Nggak kok. Nggak pernah….”

“Ini Bapak bikin grup kok anggotanya cuma Bu Wiwin. Bingung ini Bu Wiwin sampe nanya ada apa nih.”

“Beneran, nggak pernah kok. Beneran….”

“Eh, ini kok dikeluarin dari grup pengajian sih?”

“Iya, katanya gara-gara Bapak nggak pernah ikut komen di grup Whatsapp. Habis bingung, kok bisa ya orang banyak pada ngobrol terus, hapenya jadi bunyi melulu gitu….”

“Bapak, ngapain tengah malam kirim voice note ke Bu Munjiah sama Bu Badriyah? Sampai nelpon balik nih orangnya.”

Kali ini Ibu tiba-tiba berteriak, “Bu Munjiah sama Bu Badriyah kan janda, Pak. Bapak ngapain tengah malam gangguin mereka???”

“Lho, memang Bapak ngapain sih?”

Saya dan Ibu pun kor bersama, “Kan ada buktinya nih. Masih ngeles aja!”

Kursus belajar WhatsApp sore itu berakhir dengan Ibu yang ngambek dan Bapak yang marah-marah. Blio bilang, “Wong Bapak minta diajarin, kok malah dimarah-marahin.”

Saya pun jadi sadar, anak milenial punya tantangan berat buat masuk surga. Daftar urusan jadi anak yang berbakti kini nggak sesimpel dapat ranking di kelas atau nggak ikut temen pulang kemaleman. Kita mesti sabar-sabar ngajarin ortu pakai smartphone, dan jalan menuju surga tampak makin terjal saja karenanya.

Keringat saya makin deras ketika membayangkan hari-hari ke depan ketika mengedukasi Bapak tentang jenis-jenis berita hoax berantai dan jelasin ke Bapak cara jadi warga grup WhatsApp yang selo, nggak norak, dan nggak panikan. Lama-lama bayangan saya makin mengerikan.

Gimana kalau Bapak baca kebanyakan baca berita-berita politik adu domba yang dicopas lewat grup? Gimana kalau Bapak ikut heboh nanggepin ujaran-ujaran kebencian? Gimana kalau Bapak tiba-tiba beragama dengan cara nggak biasa gara-gara kebanyakan baca broadcast provokasi?

Kengerian itu tiba-tiba redup ketika saya lihat Bapak kembali khusyuk zikiran di samping rumah. Kata Ibuk, Bapak udah capek latihan, dia mau kembali ke jalan yang benar, punya hape cuma buat nelpon dan SMS-an.

Komentar
Add Friend
No more articles