• 266
    Shares

MOJOK.COGara-gara broadcast WA, orang jadi panik dan bisa berbuat tidak masuk akal. Wiji Thukul yang 20 tahun hilang, dikira sedang pameran seni rupa. Hadeeeh.

Suatu siang bulan Mei 2017, dalam acara pameran seni rupa bertema “Aku Masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa” karya Andreas Iswinarto yang diselenggarakan di Kantor Pusat Studi HAM (Pusham) Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta, serombongan anggota organisasi massa datang sambil berteriak-teriak.

“Mana Wiji Thukul! Mana Wiji Thukul! Tangkap Wiji Thukul!”

Panitia dan pengunjung yang kebingungan pun ikut menjawab, “Iya, mana Wiji Thukul? Kembalikan Wiji Thukul! Kami juga mencari Wiji Thukul!”

Rupa-rupanya, mereka datang berbekal dua informasi. Pertama, Wiji Thukul adalah anggota PKI. Dua, Wiji Thukul sedang berpameran. Hadeh, padahal sastrawan dan aktivis HAM itu hilang sejak 1998 dan masih dicari semua orang sampai hari ini. Dan meskipun ketahuan konyolnya, rombongan itu tetap menurunkan karya-karya Andreas dan merusak visualisasi puisi-puisi Thukul.

Kejadian yang kira-kira semacam itu terulang ketika kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) diserang sekelompok massa pada Agustus 2017. Kantor YLBHI sudah dilempari batu hingga rusak cukup parah oleh ratusan orang sambil teriak-teriak takbir. Ketika ditanya bagaimana mereka bisa datang, jawabannya cukup menakjubkan. Mereka mendapat broadcast pesan bahwa di kantor YLBHI sedang ada acara PKI. Hadeeeh. Padahal, malam itu, anak-anak muda sedang menggelar acara diskusi dan solidaritas musik dan seni untuk demokrasi.

Sudah sejak lama saya bingung, apakah perlu bagi kita untuk memakai otak ketika menghadapi orang-orang yang memang sengaja ninggalin otaknya. Bayangin aja, modal broadcast, orang yang hilang puluhan tahun mau dipersekusi. Modal broadcast, kantor orang dilempar-lemparin batu tanpa takut salah.

Baca juga:  Cara Memahami Kivlan Zen si Pemburu Hantu PKI dengan Baik

Persamaan identitas, salah satunya agama, membuat orang-orang merasa berada dalam satu ikatan. Kita mengenal ungkapan bahwa muslim satu dan musIim lainnya bagaikan satu tubuh, yang jika terluka di satu bagian, bagian lain ikut terluka. Pada awalnya ikatan ini sakral dan pada kondisi gesekan politis tertentu, dapat memiliki kekuatan untuk mengalahkan ikatan yang lain. Nah, sayangnya, saat sedang ingin mengalahkan pihak lain itu, sifat ikatan telah berubah, dari ideologis dan luhur menjadi hasrat kekuasaan. Dan motif kuasa, mulai dari ambisi kelompok, partai, hingga ekslusivisme aliran apa saja, lebih sering terbukti menempatkan logika di silit dibanding di kepala.

Minggu lalu rumah saya diketuk oleh seorang teman yang datang jauh-jauh dan malam-malam hanya untuk bertanya pendapat saya perihal puisi Sukmawati yang sedang panas itu. Peristiwa itu sungguh membuat saya percaya teori pascakebenaran. Pada masa sebelum ini, seseorang lazimnya mengetuk pintu rumahmu untuk meminta bumbu dapur atau mengantar undangan pernikahan, tetapi pada masa ini, seseorang tergerak mendatangimu karena membaca berita yang seolah gawat dari lini masa Instagram.

Saya paham, orang yang sedang dalam pengaruh kalimat-kalimat yang bersifat emosional tidak bisa langsung diredakan dengan ujaran yang analitis. Seseorang yang merasa bagian dari struktur komunal tertentu, dalam konteks ini sesama Muslim, tidak bisa berhadapan dengan argumen yang sifatnya membela kepentingan individu, misalnya dengan bilang Sukmawati punya hak individu untuk menyampaikan pandangannya. Kata sosiolog Jonathan Haidt, nggak nyambung, cuy. Dua kelompok akan bertahan pada keyakinan alam pikir masing-masing.

Kami akhirnya berdiskusi bahwa sebaiknya Sukmawati memang tidak perlu membacakan puisi yang bernuansa oposisi biner di saat negara sedang hobi gonjang-ganjing karena pendapat berbeda. Tetapi, pihak yang memanfaatkan momentum dengan membesar-besarkan masalah seolah negara dan agama akan runtuh karena puisi, juga tidak ada bagusnya, selain bahwa itu nambah-nambahi polarisasi antarkelompok yang sudah jauh berseberangan gagasan.

Baca juga:  Ngobrol Bareng Kiai Yahya Cholil Staquf Sepulang dari Israel

“Jadi simpulannya, masalah keberagamaan apa yang kamu hadapi sekarang?” tanya saya usai diskusi.

“Nggak ada sih. Semua baik-baik saja. Hafalan Quran anakku makin banyak. Mesjid desa juga ramai. Orang kampung semua kompak menyambut Ramadan,” jawab si teman ketika emosinya sudah mundur, digantikan oleh logika bahwa kepanikan yang ia rasakan itu sebetulnya hal yang jauh, sedangkan di dunia nyata ia harus menghadapi hal-hal keseharian dan tanggung jawab yang paling dekat.

Ketakutan massal, hari ini, sering disemai, dipelihara, lalu disebarluaskan dengan tidak bertanggung jawab lewat grup-grup WhatsApp. Orang-orang yang dalam keseharian hidup bahagia bersama keluarga, baik-baik saja dengan pekerjaan juga relasinya di masyarakat, bisa panik karena provokasi-provokasi politis atau ajakan untuk membela tokoh tertentu yang bahkan tidak pernah ia temui. Si tokoh itu bahkan tidak mengenal kita dan tidak akan peduli dengan kesulitan hidup yang kita hadapi sehari-hari.

Anda salah jika berpikir hal ini hanya terjadi kepada orang-orang yang kurang berpendidikan. Saya punya bukti, dalam sebuah pelatihan literasi digital yang diselenggarakan untuk para guru yang tentunya berpendidikan, seorang peserta bertanya, “Bagaimana cara konkret untuk melawan hoax?”

Saya menjawab, “Mulai sekarang, jangan takut pada ancaman neraka hanya karena kita tidak menyebarkan pesan broadcast tertentu yang berbumbu agama ya, Bapak dan Ibu. Rasulullah diutus Allah agar berhasil menyempurnakan akhlak kita, bukan untuk memastikan kita mem-forward pesan WhatsApp.”

Para peserta pun ngakak berjamaah.