Waktu kecil, saya sering sekali mendengar orang mengumpat dengan menyebut “PKI!” atau “Yahudi!” Padahal di desa saya tidak bisa ditemui makhluk PKI ataupun Yahudi. Tapi kebencian itu ada, dan nyata.

Di awal-awal Sekolah Dasar, saya bertanya kepada Bapak: PKI itu apa? Yahudi itu apa? Tuhan itu apa?

Bapak memberi jawaban, Tuhan itu pencipta seluruh alam termasuk manusia—kakek, nenek, bapak, saya, pohon durian, pohon duku, Sungai Komering, Gunung Seminung, Sungai Musi, semuanya. Bapak bilang, PKI itu orang-orang yang tidak beragama, musuh Islam, musuh negara. Dan Yahudi juga musuh Islam.

Sekali bertanya, sudah itu saya tak banyak memikirkannya. Sebagaimana kanak-kanak lainnya, saya lebih memikirkan bermain daripada membicarakan PKI dkk. Tapi saya tidak pernah lupa jawaban Bapak. Saya tidak pernah lupa bagaimana orang bersumpah-serapah dengan PKI dan Yahudi, dengan wajah yang jauh lebih keji daripada ketika mereka mengumpat “Kampang!”

Beranjak besar, sekali waktu saya bertanya lagi kepada Bapak: mengapa orang kita tidak membenci Belanda dan Jepang? Mengapa kita lebih membenci PKI dan Yahudi? Di sekolah, guru-guru dan buku pelajaran membicarakan penjajahan Belanda dan Jepang, berikut kebengisan dua negara itu menjebak lalu membunuh para Pahlawan Nasional, juga kekejaman mereka terhadap nenek-moyang kita. Mengapa harus PKI dan Yahudi yang dijadikan sumpah-serapah?

Saya tidak ingat jawaban Bapak. Tapi tak lama setelah pertanyaan itu, Bapak mengajak saya begadang untuk menonton film Pengkhianatan G30S/PKI, di pelataran rumah seorang uwak yang kebetulan Kepala Desa. Cukup ramai, kira-kira ada 60 orangan, cukup banyak teman sebaya saya yang ikut menonton, ada beberapa cewek juga, selebihnya kakak-kakak yang lebih tua dan orang dewasa. Televisi menyala dengan daya aki, diterangi lampu petromaks.

Saya sempat terkantuk-kantuk menunggu film Pengkhianatan dimulai. Saya memang sering menemani Bapak numpang nonton film di rumah Uwak, tapi tidak beramai-ramai, dan kalau sudah di atas jam 9 biasanya saya akan jatuh tertidur, dan Bapak akan menggendong saya pulang ke rumah. Menonton film Pengkhianatan adalah pengalaman pertama saya begadang sampai tengah malam.

Keesokan harinya, saya dan teman-teman akan membicarakan kebiadaban PKI, pemujaan terhadap para pahlawan revolusi, dan kesedihan untuk Ade Irma Suryani. Bagaimana Ade Irma jika ia masih hidup, seperti apa wajahnya, pasti cantik sekali. Sesekali kami menirukan adegan dan dialog dalam film, seperti kami sering menirukan tokoh Khaidir Ali di TVRI. Di antara kami, ada pula yang bernama Ahmad Yani.

Kakek tidak pernah merasakan kekejaman Belanda, apalagi bapak dan saya, tapi kakek sering meceritakan kisah dari kakek buyut, dan sesudah listrik masuk desa, saya bisa menyaksikan film-film perjuangan mengusir Belanda dan Jepang. Kakek merasakan sendiri penderitaannya di zaman pendudukan Jepang, tapi kakek tidak pernah menyumpah-nyumpahi Jepang. Kakek malah sering menyanyikan lagu-lagu Jepang yang tidak saya pahami. Saya juga mulai banyak menonton kartun-kartun Jepang.

Tapi saya tetap mempertanyakan kenapa PKI dan Yahudi, kenapa tidak Belanda dan Jepang, meski saya simpan sendiri.

Tamat SD, saya belum juga menemukan jawaban yang memuaskan. Dan sampai sekarang pun, saya merasa semua jawaban yang saya dapatkan masih belum cukup.

Dari apa yang saya pelajari, kurang lebih saya bisa memahami situasi politik antara tahun 1959 hingga 1965 yang demikian panas, dari atas sampai bawah, dari elite hingga akar rumput. Di era yang katanya politik sebagai panglima, ketika ideologi-ideologi masih berbenturan, ungkapan-ungkapan yang digunakan di tahun-tahun itu adalah bahasa-bahasa kasar.

Saya bisa mengerti apa yang dimaksud Iqbal Aji Daryono sebagai tindakan “provokatif, ngehek, bahkan brutalnya orang-orang PKI sejak jauh hari pra-1965.” Tapi bukankah semua itu adalah pertarungan politik?

Memang sampai ada gesekan, ketika PKI disebut-sebut melakukan aksi sepihak terkait landreform di berbagai tempat, memprovokasi umat Islam dengan serangan subuh di Kediri, dan lain-lain. Tapi pantaskah semua itu dibayar dengan pembabatan habis orang-orang komunis dan yang dituduh komunis?

Dan peristiwa 30 September—yang digunakan sebagai dalih utama pembantaian 1965-1966—masih belum terang siapa dalang sesungguhnya. Sementara jumhur ulama sejarawan berpendapat, PKI bukan otak di balik pembunuhan para jenderal seperti yang digambarkan film Pengkhianatan. PKI tak ubahnya Tyrion Lannister dalam Game of Thrones, yang didakwa membunuh Raja Joffrey Baratheon dalam sebuah konspirasi perebutan singgasana. Dan seperti Tyrion yang dicelakakan ayah dan kakak perempuannya sendiri, PKI adalah anak dan saudara yang tak diinginkan.

Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit saya pun bisa memahami kenapa masyarakat desa saya, termasuk Bapak, punya pandangan miring tentang PKI. Selain karena peristiwa-peristiwa gesekan yang pernah terjadi, kebencian diawetkan dengan ceramah-ceramah para pemuka agama di masjid-masjid hingga obrolan di warung kopi. Lewat khutbah-khutbah Jumat, khutbah Idul Fitri, yang buku kumpulannya disuplai negara, dan yang paling massif tentu saja film Pengkhianatan.

Ada tangan besar yang bekerja di sana.

Mengenai Yahudi, mengingat belum ada keterangan persentuhan kita dengannya, sampai sekarang saya belum bisa mengerti kenapa. Kecuali beberapa potongan ayat di Kitab Suci. Perkara Jepang dan Belanda, sesederhana karena kedua bangsa itu diberi kesempatan kedua untuk berhubungan baik dengan bangsa ini. Sedangkan Yahudi, dan keluarga besar PKI, belum pernah.

Tentu mudah untuk mengatakan bahwa saya, generasi saya, tidak tahu apa-apa tentang semua yang pernah terjadi. Mudah untuk bilang bahwa saya “tidak mengalami atau merasakan sendiri suasana permusuhan dengan PKI.”

Kalau begitu, izinkan saya kembali bertanya, mengapa kita harus memendam kebencian? Untuk apa kita membenci dan bermusuhan, demi siapa?

  • Lib Flow

    Akarnya sama, ketidaktahuan dan ketakutan.

  • desire2512

    Halaahh,, bahas PKI ya bahas PKI aja Mas, ga perlu buka spoiler GoT. Ini harusnya ada label “SPOILER ALERT!”

  • Agenda luar yang didramatisir + kolaborasi kaum opurtunis.
    Negeri yang belum melek tapi dipaksa milih antara kapitalis atau komunis.
    Ksatria sejati tak akan membunuh lawan dalam kondisi tak berdaya.

    Sila kedua Pancasila sekedar mantra tak berjiwa…. Apakah perlu sebuah kesaktian dipertontonkan lewat pembantaian…?? Lalu, sila ketiga ngumpet di mana…??

    Kombinasi ketidaktahuan + ketakutan melahirkan kekalapan…. dan negara hanya mampu menjadi penonton yang arif bijaksana… 🙁

    • Dodit Sulistyo

      Negara bukan penonton. Seperti wayang, saat itu negara justru dalangnya lewat pers, monumen, museum & film. Siapa penontonnya? Ya orang yg bayar si dalang.

      • 1965 Bung Karno masih tercatat sebagai Presiden RI. Tak mampu berbuat apa-apa sebab legitimasinya dikebiri. Tentara larut dalam lakon tanpa judul. Kaum agamawan terbius provokasi.
        Betul yang Dodit sebutkan, tapi itu berlaku setelah proses pembantaian selesai. Negara mencari legitimasi genosida yang telah dilakukan sesuai dengan versi penguasa. Pembantaian adalah wujud “Kesaktian” Pancasila. Masuk akal nggak..??

        • negara di “orde” itu tidak layak disebut Indonesia

      • demi Tuhan ane bersyukur “orde” itu diakhiri dengan cara yang juga tak kalah heboh
        hiduplah pahlawan reformasi!

  • tuhan

    hehe

  • silent

    duh, ada spoiler game of throne

  • peruzz

    Kenapa harus membenci PKI dan Yahudi?karna mereka bisa membuat anda bertanya seperti itu

  • is h

    Kenapa kita harus membenci PKI? Karena kalo PKS, lebih layak dijijiki..

  • Dede Tasripin

    katanya demi pancasila masss

  • sholekan

    Saya kira, orang-orang yang masih menganggap pki satu2 nya pihak yang bersalah. Mereka masih tersandera politik masa lalu yang dibuat oleh Orde Baru.

    • kalau kita kaum beragama,kita buka das kapitalis-nya Marx atau teori filsafat materialisme-nya kaum komunis,jelas bertentangan dengan nilai-nilai agama yang saya anut,Islam.dan karena itu saya pribadi anti komunis.tapi saya juga menyanyangkan cara2 Orde Baru dalam memberangusnya,karena seharusnya ada cara2 yg lebih elegan kalau memang mayoritas rakyat kita anti komunis.

  • Juki Tan Malaka

    Kalau menurut saya, para orang tua menuntut kita untuk membenci PKI sebabnya adalah jelas, propaganda orba selama puluhan tahun telah mencuci ottak mereka, seperti dikatakan john rossa “indonesia berubah 180derajat pasca 65, dari yang tadinya anti neokolonial menjadi anti komunisme” ..
    Yang jelas kami ada dan berlipat ganda, akan terus memburumu seperti kutukan.
    Bagi para anti pki silahkan terus mimpi buruk dikala kondisimu tersadar haja

    • kalau kita kaum beragama,kita buka das kapitalis-nya Marx atau teori filsafat materialisme-nya kaum komunis,jelas bertentangan dengan nilai-nilai agama yang saya anut,Islam.dan karena itu saya pribadi anti komunis.tapi saya juga menyayangkan cara2 Orde Baru dalam memberangusnya,karena seharusnya ada cara2 yg lebih elegan kalau memang mayoritas rakyat kita anti komunis.

  • Gill Bates

    Utk apa membenci dan bermusuhan? Demi siapa? Demi toutatis!

  • Atmo Dimejo

    Diam itulah yg tepat kl tdk mengerti.biarlah itu smua menjadi bagian perjalanan negara kita Indonesia

  • Taufiq_SN

    gmn pendapatmu dengan video ini?

  • Saya muslim dan das kapitalisme-nya Marx,teori2nya Hegel,Frederick Engel,filsafat materialisme,bagi saya banyak bertentangan dengan nilai-nilai yang saya anut.Jadi,saya pribadi anti komunis,karena saya lebih percaya nilai-nilai Islam.

  • Kristian Sibarani

    Tulisannya menarik, tapi pasti Pro dan Kontra

No more articles