Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Lelaki yang 26 Tahun Menunggu Kekasihnya di Tempat yang Sama, Setiap Hari, lalu Mati di Sana

Iqbal AR oleh Iqbal AR
14 Februari 2021
A A
pak sempu pak gombloh arifin malang kisah cinta yang tragis hak cipta aan mansyur mojok.co.jpg

pak sempu pak gombloh arifin malang kisah cinta yang tragis hak cipta aan mansyur mojok.co.jpg

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pak Arifin atau dikenal dengan Pak Gombloh adalah nama yang beberapa hari lalu menjadi perbincangan di media sosial. Kisahnya yang cukup getir dan menyedihkan membuat warganet memberi perhatian lebih. Menurut cerita yang sudah beredar, Pak Gombloh adalah orang yang selama bertahun-tahun duduk di sudut kawasan Kayutangan, Malang, menunggu kedatangan seseorang yang diduga adalah kekasihnya. Pak Gombloh, yang nama panggilannya berarti ‘bodoh’, dipisahkan dengan orang tersebut oleh satu peristiwa politik. Pak Gombloh berusaha menepati janjinya kepada orang yang ditunggu dengan setia duduk di emperan toko, setiap hari, hingga ajal menjemputnya.

Cerita ini membuat saya kembali menyusuri kawasan Kayutangan, kawasan legendaris di Kota Malang, untuk menggali cerita itu lagi. Cukup susah memang untuk mencari lokasi atau tempat Pak Gombloh dulu sering duduk karena desain toko yang sebagian besar sama, serta tidak ada penanda yang mengisyaratkan lokasi Pak Gombloh. Foto yang menjadi modal saya mencari lokasi tersebut dipotret pada akhir 2016 atau sudah empat tahun lalu. Bisa jadi sudah banyak yang berubah.

Pencarian saya berakhir di sebuah toko kosong yang sudah tutup dan dindingnya dipenuhi coretan. Bagi yang familier dengan Kota Malang, toko ini berada di sekitar MPM Honda Motor hingga Toko Surabaya. Saya mencoba menghampiri salah seorang tukang parkir yang menjaga di sana. Pak Sempu namanya. Beliau mengaku selama puluhan tahun berada dekat dengan Pak Gombloh karena tiap hari nongkrong di tempat yang sama.

“Permisi, Pak, jenengan tahu orang ini?” tanya saya setelah memperkenalkan diri, sambil menunjukkan foto Pak Gombloh yang sedang duduk di emperan toko.

“Oh, Gombloh itu. Iya, bener, orangnya suka duduk di depan situ,” Pak Sempu menunjuk ke tempat di mana Pak Gombloh sering duduk.” Ia berkata lagi, “Orangnya sudah mati, ditabrak sepeda motor.”

“Itu orang mana ya, Pak?”

“Orang Ngantang, tapi ya tidak ada yang tahu Ngantang-nya mana. Wonge yo ora duwe dulur (orangnya juga tidak punya saudara).”

Untung jalanan sedang sepi, saya jadi bisa ngobrol panjang dengan Pak Sempu tanpa mengganggu pekerjaannya. Sembari duduk di bangku trotoar depan MPM Honda Motor, saya mengawali perbincangan dengan menceritakan kembali kisah hidup Pak Gombloh berdasar apa yang beredar di media sosial. Saya ingin tahu apakah semua cerita itu benar.

pak sempu pak gombloh arifin malang kisah cinta yang tragis mojok.co
Pak Sempu di tempat ia biasa bekerja sebagai juru parkir di Kayutangan, Malang. Foto oleh Iqbal AR untuk Mojok.co.

Pak Sempu mengiyakan sebagian besar cerita yang saya sampaikan. Katanya, Pak Gombloh memang berasal dari Ngantang, 48 km dari Kayutangan ke arah barat. Katanya, Pak Gombloh memang selama ini menunggu seseorang. Ia sudah melihat Pak Gombloh menunggu di tempat tersebut kurang lebih sejak 1992.

“Setiap hari duduk di situ, dan kalau tidur ya di situ, di bawah situ, lemek (beralas) kardus,” kata Pak Sempu sambil menunjuk ke trotoar di depan tempat Pak Gombloh biasanya duduk. Cerita mengenai Pak Gombloh yang pulang pergi dari Ngantang ke Kayutangan terbantahkan di sini. Namun, perihal kisah cinta Pak Gombloh, belum ada yang mengatakan itu tidak betul.

pak sempu pak gombloh arifin malang kisah cinta yang tragis mojok.co 3
Tempat Pak Gombloh bertahun-tahun duduk menunggu. Menurut Pak Sempu, ia juga tidur di sini. Foto oleh Iqbal AR untuk Mojok.co.

Pak Sempu bekerja di tempat itu bertahun-tahun, namun ia tidak pernah berbincang secara intens dengan Pak Gombloh mengenai kisah hidupnya. Pak Sempu juga tidak tahu pasti, siapa yang ditunggu, dan apa kisah di balik penantiannya. Bahkan, Pak Sempu dan beberapa orang di sekitar lokasi menganggap Pak Gombloh seperti orang tunawisma pada umumnya.

“Dulu sering bantu-bantu parkir. Tak biarkan saja, lumayan buat beli rokok atau beli makan. Kadang juga ada orang naik mobil yang ngasih, entah itu makanan atau uang.”

Untuk menggali kisah cinta Almarhum, saya menghubungi M. Aan Mansyur, penulis dan penyair dari Makassar yang beberapa tahun lalu sempat mengabadikan foto Pak Gombloh dan berbicang sedikit dengannya. Melalui pesan di Twitter, Aan menjelaskan bahwa cerita itu memang sudah menjadi semacam urban legend di Malang.

“Saya tanya Pak Arifin. Dia, setelah beberapa kali saya tanya sedang menunggu siapa, awalnya hanya mengaku sebagai tukang parkir di area situ. Tapi saya lama duduk di situ dan melihat ada tukang parkir (lengkap dengan rompi dan peluitnya) bekerja di depan kami. Dia sama sekali tidak pakai rompi. Fakta itu membuat saya saya terus bertanya. Dia menatap saya cukup lama sebelum bercerita,” kata Aan

Iklan

Ketika saya bertanya apa peristiwa politik yang memisahkan Pak Gombloh dan kekasihnya yang ia tunggu, Aan hanya menjawab, “Saya tanya lebih jauh peristiwa apa. Tapi, dia tidak menyebut spesifik apa-apa selain: Soeharto, Soeharto….” Dalam cerita yang beredar pun, tidak disebut peristiwa spesifik apa yang bikin Gombloh menanti puluhan tahun. Tidak ada yang tahu pasti, bahkan Pak Sempu juga tidak.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by M Aan Mansyur (@aanmansyur)

 

View this post on Instagram

 

A post shared by M Aan Mansyur (@aanmansyur)

 

View this post on Instagram

 

A post shared by M Aan Mansyur (@aanmansyur)

“Saya lupa apakah dia menyebut nama atau tidak. Tapi dia menunggu. Ketika saya bertanya sedang menunggu siapa, yang paling saya ingat, dia diam dan menatap saya cukup lama,” kata Aan lagi.

Pencarian kisah hidup Pak Gombloh membuat saya memberanikan diri menuju Ngantang, di ujung barat Malang Raya, sekitar 48 km dari Kayutangan, tanpa petunjuk apa-apa. Saya hanya berharap orang yang saya tanya di Ngantang ada yang tahu beliau, dan bisa memberi petunjuk lebih spesifik lagi. Namun sayang, setelah bertanya di tiga tempat berbeda, tidak ada yang tahu beliau, atau kisah hidup beliau. Saya juga akhirnya sadar Ngantang memang tidak seluas daun kelor.

Kisah hidup Pak Gombloh yang sudah beredar memang getir dan menyedihkan. Dan kalau benar apa yang diceritakan bahwa Pak Gombloh menanti kekasihnya selama 26 tahun dengan duduk di emperan toko, mungkin inilah yang disebut cinta sejati yang berakhir tragis. Bahkan akhir kisah penantian Pak Gombloh tidak kalah mengenaskan. Pak Sempu yang menjadi salah satu saksi akhir sedih hidup Pak Gombloh beserta penantiannya itu. Begini ceritanya kepada saya.

“Waktu itu sedang gerimis, Pak Gombloh sedang menyeberang jalan ke depan, lalu dari arah utara ada motor kencang dan menyerempet Pak Gombloh. Pak Gombloh terpelanting dan terkapar di trotoar di seberang itu,” kata Pak Sempu sambil menunjuk lokasi di mana kejadian tragis itu terjadi.

“Motornya langsung kabur begitu saja. Beliau langsung dibawa ke rumah sakit dan meninggal setelah sekitar dua atau tiga hari dirawat,” lanjut Pak Sempu.

Kematian Pak Gombloh pada 2018 menjadi penutup kisah satu anak manusia yang menunggu cinta hingga tarikan napas terakhir. Romeo Juliet mungkin sama-sama dipisahkan karena perbuatan orang lain, namun setidaknya mereka sempat bertemu. Kisah cinta Jack dan Rose juga berakhir tragis, tapi mereka masih menatap satu sama lain hingga akhir. Sedangkan Pak Gombloh tidak. Pak Gombloh tidak pernah bertemu seseorang yang ditunggunya. Namun setidaknya, Pak Gombloh sudah menepati janjinya untuk menunggu di tempat yang seharusnya. Dan di hari-hari seperti ini, sifat menepati janji semakin mahal harganya.

Selamat Hari Valentine. Jika kamu masih cukup beruntung dibersamai orang-orang tercinta, jangan lupa menyayangi mereka. Ada kalanya kebersamaan itu adalah kemewahan yang tak bisa orang lain miliki.

Featured image oleh dan milik M. Aan Mansyur. Dimuat ulang oleh Mojok.co atas izin pemilik.

BACA JUGA Mengajar Ngaji dan Santrimu Waria Semua dan liputan Mojok lainnya.

 

[Sassy_Social_Share]

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2021 oleh

Tags: cintagomblohkekasihMalangOrde BarupacarSoehartoValentine
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis dan reporter lepas. Tinggal di Malang.

Artikel Terkait

Gen Z mending beli bunga daripada rumah untuk self reward. MOJOK.CO
Sehari-hari

Gen Z Lebih Suka Beli Bunga untuk Self Reward daripada Stres Nggak Mampu Beli Rumah untuk Masa Depan

16 Februari 2026
Geliat open bo di MiChat saat malam Valentine: pelampiasan lewat layanan "rasa pacar" MOJOK.CO
Lipsus

Geliat Layanan Open BO “Rasa Pacar” di MiChat, Pelampiasan dan Upaya “Laki-laki Gagal” Mencari Validasi

14 Februari 2026
Nyaris dicurigai kumpul kebo di penginapan Jogja saat Valentine. MOJOK.CO
Lipsus

Sisi Gelap Penginapan “Murah” di Jogja, Ramai dan Untung Saat Valentine Berkat Anak Mudanya yang Hobi Kumpul Kebo

14 Februari 2026
Hari Valentine, “Valentine Budaya Kita”: Mengapa Perayaan Hari Kasih Sayang Cuma Dimaknai dengan Berhubungan Seks?.MOJOK.CO
Lipsus

“Valentine Bukan Budaya Kita”: Mengapa Perayaan Hari Kasih Sayang Cuma Dimaknai Sedangkal Berhubungan Seks?

13 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri MOJOK.CO

Rela Melepas Status WNI karena “Technical Stuff” di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri

27 Februari 2026
Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia

Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia

2 Maret 2026
Hijau miskin, warna yang tidak disukai gen Z

Warna “Hijau Miskin” Dianggap Norak, Tidak Disukai Gen Z padahal Dipakai Banyak Orang dan Harganya Murah

2 Maret 2026
Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026

Video Terbaru

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.