• 87
    Shares

MOJOK.COSelama ini kita ngomongin start up unicorn atau yang online-online itu cuman sekadar di permukaan. Padahal, unicorn tuh ribet! Terus, gimana dong cita-cita bikin 1000 start up ala Jokowi? Apa masih mungkin?

Sahabat Celengers yang mengeluarkan modal saja belum tapi takut rugi, 

Berita di media daring dan pembicaraan di media sosial hari-hari ini dipenuhi hal yang tidak pernah kita perkirakan 5 tahun lalu, tahap lanjutan hasil revolusi digital. Ini tidak akan menguliti debat capres, juga tidak akan menyentuh persoalan politik. Tetapi begitu debat capres yang kedua usai, orang berlomba-lomba merasa tau yunikon. Eh, maksudnya unicorn yang onlen-onlen itu? Ya, benar. Tapi seberapa paham?

Dari teks yang dibacanya, juga dari omongan yang didengarkan, kemungkinan orang hanya sampai pada pengetahuan umum bahwa unicorn merupakan perusahaan rintisan yang mempunyai valuasi ekuivalen atau lebih dari 1 milyar USD. Aileen Lee, seorang pendiri perusahaan modal ventura menjadi pencetus istilah unicorn tersebut.

Istilah seumuran anak TK tersebut dalam tempo singkat, kurang dari seminggu saja, menjadi istilah yang sungguh semenjana.

Kita, para semenjana ini seolah memaksa paham seluk beluk kata tersebut dari A-Z. Padahal apa yang kita ketahui sangat mungkin baru kulitnya saja. Bagaimana tidak, pengetahuan tersebut memang pada awalnya sebenarnya untuk investor.

Misal Go-Jek, awalnya menurut kita sepele dan hanya sekadar mengembangkan cara mempertemukan pengguna jasa dan drivernya, dianggap ancaman oleh perusahaan transportasi konvensional, dan tidak akan pernah keluar dari bisnis intinya ride-sharing dan usaha hantaran.

Ya, benar bahasa kerennya karena sudah tiba masanya perusahaan rintisan (start up) mendisrupsi model bisnis konvensional, seperti sering diucapkan Rhenald Kasali. Tapi bisa jadi Rhenald sendiri tidak akan menduga bisnis ini kelak akan lebih hidup dan meraksasa dari layanan jasa finansial digitalnya. Tidak menduga bahwa penggunaan aplikasi untuk kemudahan pemesanan dan tarif yang lebih murah hanya sasaran antara saja.

Siapa yang akhirnya mempunyai penciuman tajam terhadap ke-unicorn-an perusahaan rintisan tersebut? Ya, para pemodal ventura dari luar negeri seperti yang diungkapkan Tante Aileen Lee! Jangankan kita yang baru kenal istilah tersebut. Para pemodal ventura lokal saat itu pun masih plonga plonga. Mereka tau ada istilah unicorn, tapi tidak menduga kalo perusahaan rintisan seperti Gojek akan seunicorn itu.

Sahabat Celengers yang menabung pun sulit tetapi selalu memikirkan investasi,

Ceruk pasar yang terbuka lebar merupakan potensi bisnis yang luar biasa. Pinternya investor asing, itu digunakan sebagai pintu masuk untuk menggeret dan menggerebek bisnis konvensional di Indonesia.

Kok mau mereka mengguyur perusahaan yang “hanya mengorganisir para pengojek” dalam jumlah besar? Kok bisa mereka terus “membakar uang” untuk menyubsidi para pengguna jasa perusahaan tersebut?

Kita terlambat menyadari, lalu lintas pembayaran lah yang diincar begitu para pemodal ventura masuk! Mereka pasti paham sepenuhnya, begitu tranportasi publik membaik, begitu kelak kebijakan pemerintah menganggap ride sharing menjadi masalah sosial, mereka sudah menguasai sistem layanan finansial. Betul, inilah khas pengamat Indonesia, melaporkan setelah kejadian. Bukan sebelum kejadian hahaha.

Baca juga:  Jokowi Ajak Pengusaha Hijrah? Inilah Bukti “Hijrah” Bukan Milik Islam Saja

Untuk hal yang mendasar saja, seperti jika kalian menginginkan usaha kuliner, tetapi menghadapi masalah klasik; tidak memiliki tempat usaha dan memiliki keberanian untuk bertatap muka dengan pembeli. Mereka dapat menjembatani keinginan tersebut agar terwujud selama kita memiliki dapur untuk memasak.

Mereka secara efektif mengantarkan daftar menu usaha kuliner kalian ke hadapan manusia-manusia lapar yang melata 24 jam. Tidak perlu kalian menempelkan terima pesanan “udang bakar madu milenial” di tiang-tiang listrik, tidak perlu membayar orang untuk menghantarkan, tidak perlu bersolek biar kelihatan kece di depan para pelanggan, tidak perlu pajang foto selfie. Cukup daftar menjadi mitra dengan syarat cukup mudah, tau-tau banjir order! Tentu saja kalau masakan kita memenuhi selera pasar.

Sebagai konsumen, kita pun tidak pernah menduga sebelumnya, bayar gado-gado di kaki lima cukup mengarahkan gawai kita untuk menangkap kode QR  yang tertempel di gerobak Bang Jojo. Tentu, makan bubur di Mas Wowo pun demikian. Berikutnya tinggal klik, bayar menggunakan Gopay. Dompet digital kita, tanpa perlu gesek kartu tanpa perlu mengantongi dompet kulit yang sudah menyerupai krecek!

Bayangkan, bank tidak memikirkan itu sebelumnya. Mereka sangat percaya diri dengan infrastruktur yang berbiaya mahal. Untuk pemberian fasilitas kepada merchant (pedagang), mereka mensyaratkan potensi transaksi dengan besaran tertentu, setumpuk dokumen dari ijin usaha hingga sertifikat kepemilikan tempat, dan kelangsungan usaha. Ribet!

Implikasinya, kondisi tersebut memaksa bank, secara umum, tidak akan pernah menganggap layak seorang penjual makanan kaki lima yang entah rumahnya dimana, omzetnya berapa, dan besok masih jualan apa tidak, kemudahan dalam pemasangan mesin edc. Tidak akan pernah ada ceritanya fasilitas tersebut terpasang!

Dompet digital memang terlihat futuristik jika disandingkan kartu kredit maupun debit. Bank memang tidak akan mati karena aturan pemerintah mensyaratkan para pelakunya memiliki rekening bank. Tetapi kalau tidak adaptif terhadap perkembangan, bank akan terbenam pelan-pelan karena beberapa layanan bisnisnya yang selama ini memberikan keuntungan yang tidak sedikit, digerogoti perusahaan rintisan yang memberikan layanan jasa finansial secara digital.

Sebentar, kok ini nuansanya jadi advetorial untuk Gojek ya? Padahal ada 3 unicorn lain yang tak kalah mentereng, tak kalah besar potensi bisnisnya, dan tentu saja menghidupi banyak orang dari pegawai hingga mitranya. Para pendirinya tidak perlu disebut, mau aplikasi Om Zaky diberi rating 1 pun, lajunya sudah tak tertahankan. Kekayaannya sudah cukup untuk hidup mewah.

Sukses fenomenal tersebut tak urung membuat presiden menggemakan gerakan nasional 1.000 start up agar bisa mengekor kesuksesan 4 unicorn yang telah ada. Apa kalian sudah membayangkan kalau ada 10 unicorn lagi?

Baca juga:  Kata Netizen Ceramah Abdul Somad Adem Tapi Kok Diancam

Sebelum menjawab penting tidaknya gerakan 1.000 start up, apakah kalian tau asal muasal unicorn yang disebut Aileen Lee juga filosofinya?

Begini, nama hewan dalam mitologi tersebut dipilih untuk menggambarkan ketidakmungkinan yang menjadi nyata tapi langka. Tante Aileen sendiri sebenarnya kesulitan merumuskan istilah tersebut, sudah tepat atau belum. Dia hanya mendasarkan pada fakta bahwa hanya sedikit atau sangat langka perusahan rintisan yang dibantu permodalan ventura, memiliki valuasi di atas US$1 milyar.

Ada satu peristiwa yang sebenarnya pas kalau dikaitkan dengan pengucapan Pak Jokowi tempo hari dan berpotensi menggantikan istilah unicorn. Satu saat seorang dosen fakultas ekonomi bertanya balik pada seorang mahasiswa yang menanyakan bagaimana kiat-kiat menjadi pengusaha sukses.

“Apa syarat mutlak usaha yang kita lakukan berhasil, Pak?”

“Jawab dulu pertanyaanku. Seberapa yunik, Kon?

Kalimat dalam dialek jawatimuran tersebut jika ditransformasikan menjadi satu kata, yunikon, akan kompatibel dengan pengucapan manusia berlatar belakang bahasa mana pun. Dalam dunia bisnis seberapa unik kita (kreatif dan inovatif) lebih sering menjadi penentu keberhasilan. Terukur, tidak menggantungkan pada keberuntungan. Itu yang dijual Zaky dan para pendiri perusahaan rintisan lainnya.

Sekarang terkait gagasan 1000 start up. Apa mungkin?

Ya mungkin saja, apalagi penetrasi internet Indonesia sungguh luar biasa. Tetapi dari berbagai sumber yang ada, perusahaan rintisan bukan jenis usaha yang mudah hidup seperti lumut di musim hujan. Tidak murah, dan relatif tinggal menyisakan remah-remah untuk para pemuda yang ingin sukses seperti ZZ, Zuckerberg dan Zacky. Karena menurut statistik, dari 10 perusahaan rintisan yang didirikan 9 diantaranya mati sebelum bermanfaat untuk masyarakat dan membahagiakan pendiri, investor dan tentu saja pegawainya.

Apa yang belum ditawarkan dari Gojek hingga Traveloka yang sudah semakin menggurita? Itu saja yang dieksplorasi. Hal yang hilang dari masuknya para pemodal raksasa di perusahaan rintisan adalah kemampuan kita sebagai bangsa produsen. Marwah itu yang hilang saat kita mendapati kenyataan bahwa 90% produk yang diperjualbelikan merupakan barang impor. Dalam jangka pendek, itu membahagiakan konsumen, dalam jangka panjang kemandirian kita sebagai bangsa jelas tergadaikan.

Ada hal yang sebenarnya perlu didukung dan tidak harus secara latah segalanya harus terkait dunia digital. Mendukung para pemuda pemudi Indonesia membangun UMKM yang sehat. Tidak harus dalam format perusahaan rintisan, tetapi mendorong secara penuh kaum milenial untuk merintis usaha!

Ingat, para pengguna internet tetap perlu makan. Para bos perusahaan rintisan seperti Puthut Ea mulai mengampanyekan hidup sehat dan makan sehat. Mulailah merintis jualan pecel sayur. Sederhana dan kemungkinan besar untung! Tapi silahkan saja kalau mau membuat perusahaan rintisan “Kucel” alias Kuliner Pecel, menyediakan pecel dari Sabang hingga Merauke.

  • 87
    Shares


Loading...



No more articles