MOJOK.COKatanya ekonomi sedang susah, daya beli turun, semua mahal, lha kok Mukena Syahrini ludes? Jangan-jangan, tanpa kita sadari, ekonomi kita sedang baik-baik saja. Buktinya, orang nggak ragu menghabiskan uang THR dalam satu struk belanja.

Sahabat Celenger yang sedang membayangkan belanja lebaran tapi ngerasa THR kurang,

Puasa tinggal beberapa hari lagi. Shaf sholat mulai lowong seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak sedikit umat yang mulai menghadirkan perasaan sedih di masa-masa injury time seperti saat ini. Sebagai makhluk rohani, mereka merasa masih kurang beribadah di bulan ini. Bahkan berpikir belum tentu tahun depan dipertemukan lagi dengan bulan yang agung ini, hiks.

Ckckck ada yang seperti itu?

Sementara itu sebagai makhluk ekonomi, semakin banyak saja yang menyuguhkan kegembiraan dengan segera berakhirnya bulan penuh rasa ngampet ini. Wajah-wajah ceria sudah mulai berhasil menepis wajah-wajah meranggas di kala siang. Majelis-majelis yang dihadiri pun bergeser ke tempat perbelanjaan.

Kalau pun pergi ke tempat ibadah, mengusahakan masjid yang ada malnya. Penting agar kalau ada info diskon siap untuk mlipir cepat, hahaha. Tapi begini, bagaimana pun juga, mal tetaplah layak disebut sebagai tempat beribadah. Ada banyak jiwa yang menggantungkan hidup dari keberadaan tempat itu. Ada juga yang tetap bungah walau rekening tersedot tanpa menyisakan ampas THR.

“Katanya ekonomi sedang susah, daya beli turun, semua mahal, lha kok kalau midnight sale rame?”

Kalau yang ditanya seorang ustaz gaul, maka sejak awal dia akan mengatakan, “Saya teh nggak ngerti urusan daya beli. Sepemahaman saya belanja bukanlah kejahatan. Selama ada uangnya, selama sudah menyisihkan untuk zakat, infaq, sodaqoh, dan selama digunakan untuk membeli barang-barang yang halal”.

Lain lagi jawabannya kalau yang ditanya ustaz kolot, “belanja digedein, giliran masukin duwit ke kotak amal mikirnya lama. Nemu duwit 50 ribu di dompet, masih aja berusaha nyari receh.”

Sedikit repot untuk ekonom yang terlanjur berfatwa kalau ekonomi lesu. Biasanya sih langsung mengkeret kalau mendapat pertanyaan serupa itu. Pertama, tidak menduga orang akan sekritis dan seagresif itu. Kedua, takut kalau analisisnya dianggap merupakan upaya untuk melemahkan kredibilitas pemerintah. Ketiga, dia sendiri juga ragu pengamatannya sendiri sebenarnya cermat atau cuma kira-kira saja.

Baca juga:  Milenial Tanpa ATM Bukanlah Dosa, Tapi Masa Sih Hari Gini Nggak Punya ATM?

Sahabat Celenger yang hobi lihat price tag kemudian memutuskan nggak jadi beli,

Belum selesai orang membincangkan betapa “sejahteranya orang Jakarta” yang membanjiri mal saat ada gelaran midnight sale. Di saat yang kurang lebih sama orang mempergunjingkan larisnya mukena Inces Syahrini yang dibandrol 3,5juta. Sudah mahal, ludes pula!

Jangan-jangan, tanpa kita sadari, Indonesia sudah menjelma menjadi negara sejahtera. Negeri di mana penduduknya tidak segan membelanjakan uangnya di tempat mahal dan membeli barang mahal. Tanpa ragu menghabiskan uang THR dalam satu struk belanja. Tanpa kuatir habis lebaran setoples krupuk pun tidak punya.

Saya sudah 18 tahun tinggal di Jakarta. Tahu betul dinamika masyarakatnya kalau sudah menyangkut gaya hidup, all out. Jadi anak warteg pernah, eh bukan pernah lagi, sampai sekarang juga masih. Jadi orang yang lebih hafal wangi mal dibanding wangi masjid pun masih lestari hingga kini.

Preferensi politik seperti menjadi celah untuk mengatakan bahwa ramainya mal merupakan indikasi kemajuan ekonomi. Benar di satu sisi karena pertumbuhan ekonomi turut ditopang terpeliharanya konsumsi masyarakat. Tetapi ada potensi keliru di sisi lain, karena para retailer terkemuka paham betul psikologi pasar, sangat mengerti kapan waktu tepat menggiring para penerima THR untuk “dijagal” di meja kasir.

Hingga satu dekade lalu, brand seperti Ramayana-Robinson masih kuat bercokol di tengah kota Jakarta mendampingi Matahari dalam melayani masyarakat menengah bawah. Tapi saat ini seluruh penjuru sudah dikepung MAP group dari Debenham hingga Sogo, dan tentu saja peritel dengan modal luar biasa besar seperti Metro Departmen Store.

Peritel besar sangat paham bagaimana memperlakukan para pelanggannya yang dari golongan menengah bawah. Masyarakat yang memang belanjanya hanya di hari-hari spesial saja. Salah satunya dengan menggelar pesta belanja dalam bentuk big sale atau midnight sale. Itu saat di mana mereka mengguyur para pelanggannya dengan produk-produk second linenya.  Macet hingga mampet pun bakal dijabanin oleh mereka.

Soal Mukena Syahrini apa yang perlu dihebohkan?

Mukena bordir padang harganya bisa 5 juta. Mukena Vyladira milik Dian Sasto pun bisa mencapai angka itu. Masih banyak mukena mahal lain yang bakal panjang daftarnya kalau disebutkan. Maksudnya begini, harga mahal itu sejak dulu sudah ada pembuatnya, sudah ada pembelinya, dan sudah ada yang memimpikannya tapi terlalu sayang untuk membelanjakannya. Hal yang membedakan, brand milik pesohor lebih sering diliput.

Baca juga:  Yakin Kamu Kuat Mendengar Sebesar Apa Dosa Manusia yang Diampuni pada Idul Fitri? (Bagian 1)

Secara umum, uang THR masyarakat tidak banyak untuk membelanjakan produk-produk mahal.  Cikal bakal THR yang pada awalnya disebut hadiah lebaran sudah ada sejak masa pendudukan Jepang. Motif pemberian tunjangan dari masa ke masa sangat beragam: apresiasi atas kinerja, memupuk loyalitas, mendongkrak produktivitas dan tunjangan kejut!

Tunjangan kejut? Kalian yang punya penghasilan bagus tentu tidak akan goyah dengan loncatan harga saat terjadi inflasi musiman seperti saat lebaran. Tapi bagaimana orang yang tidak mendapatkan THR?

Ilustrasinya begini, Sepiring bakmi jawa godog yang di hari biasa seharga 15 ribu, bisa melonjak jadi 20-25ribu di saat lebaran.  Wajar. Penjual bakmi  saat membeli bahan bakunya (bumbu, ayam, telor, dan sayur) memang sudah lebih mahal. Konsekuensinya, mereka menaikkan harga. Secara teori, masyarakat yang tidak mendapatkan THR akan mengerem konsumsinya sampai harga kembali normal.

Secara moral, kelompok masyarakat yang mendapatkan THR memang harus dapat menjadi ujung tombak dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan cara mempertahankan konsumsi, atau malah meningkatkan. Kalau ditabung untuk saja bagaimana? Ya nggak masalah, nabung itu baik untuk menghadapi krisis.

“Tapi THR ini mau saya gunakan untuk membeli busana muslim produksi Ria Miranda dan Mukena Syahrini. Masak saya harus mikirin rakyat. Di mana keadilan? Siapa yang mikirin saya? Asal tau saja ya, Om, saya ini habis diputusin dan perlu belanja!”

“Beli di Ria Miranda boleh. Beli kaftannya Febiani Hermaini juga boleh. Sama aja, walau produknya tidak murah mereka juga rakyat. Ada banyak karyawan yang bekerja di belakang kesuksesan sang designer”

Tidak ada salahnya kita mengingat ada kelompok masayarakat berpendapatan rendah yang sangat getas terhadap perubahan harga. Belanjakan uang kita di sana, larisi dagangan mereka, buat mereka mengeluarkan senyum terbaiknya. Doa mereka akan menggetarkan langit dan tidak akan membuat dompet kita cepat kering. Syahrini juga rakyat, tapi biar dipikirin rakyat kaya lainnya, Reino Barack.



Loading...



No more articles