Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Siapa Bilang Biarawati dalam Masyarakat Islam Tidak Ada?

Hairus Salim oleh Hairus Salim
8 Juni 2018
A A
Pujangga China Misterius di Sebuah Pesantren

Pujangga China Misterius di Sebuah Pesantren

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Saya baru tahu kalau di dalam masyarakat Islam di belahan dunia tertentu, ada tradisi menjadi semacam biarawati. Perempuan suci yang “menikahi” Al-Quran.

Zarri Bano, aktivis perempuan berwajah jelita, pejuang feminis yang tomboi, alumni pascasarjana psikologi sebuah universitas di Karachi. Berusianya dua puluh tahun waktu itu, masih muda, cantik, dan terpelajar. Sudah barang tentu banyak pria ingin melamarnya dan selalu dia menolak. Sampai akhirnya datang seorang Sikander. Tampan, kaya, dan terpelajar seperti dirinya. Zarri akhirnya terpikat. Mereka pun sepakat akan menikah.

Iklan

Akan tetapi sebuah peristiwa penting membelokkan secara tajam arah hidup Zarri. Jakfar, adik Zarri, tewas karena jatuh dari kudanya. Sang ayah, Habib, tuan tanah turun-temurun yang kaya di kampung itu pun kehilangan ahli waris kekayaannya satu-satunya, sebab Zarri hanya punya adik perempuan, Ruby.

Untuk memproteksi kekayaan keluarga itu, maka Habib memaksa Zarri untuk jadi syahzadi ibadat, perempuan suci. Artinya Zarri tidak boleh menikah, dia akan selibat dan berkhidmat hanya untuk mempelajari dan mengajarkan agama, serta beribadah kepada Allah. Dia harus menjadi semacam biarawati. Ia harus “menikahi” Al-Quran.

Sebagai aktivis perempuan, Zarri sesekali sudah pernah membayangkan kalau dia mungkin tidak akan pernah menikah dan melajang seumur hidup. Dia tidak peduli dan cuek saja. Tetapi tidak boleh menikah, karena alasan ia harus menjadi perempuan suci, itu betul-betul di luar bayangan.

Seperti Zarri, saya juga tak pernah membayangkan ada institusi “biarawati” dalam Islam. Ternyata apa yang saya bayangkan dulu memang benar-benar ada dan telah jadi bagian dari tradisi tua di kawasan Sindu, Pakistan.

Ketika membaca novel Perempuan Suci, karya Qaisra Shahraz (1958), seorang penulis, konsultan pendidikan, sekaligus jurnalis freelancer Inggris kelahiran Pakistan, saya masih dalam perjalanan pesawat dan menunggu bolak-balik di bandara. Orang riuh berlalu lalang, tetapi kata dan kalimat dalam novel ini rasanya membuat saya terlempar dalam keheningan. Dari awal hingga akhir, alur cerita selalu berada dalam konflik dan ketegangan. Perasaan sedih, marah, simpati mendorong saya untuk terus menyelesaikan bacaan ini.

Perjuangan Zarri Bano dari memohon halus hingga berontak melawan ayahnya yang memintanya menjadi perempuan suci akhirnya mengalami kegetiran. Zarri kalah dan harus menerima kenyataan pahit. Menikah dengan Al-Quran. Meninggalkan dan menanggalkan sosok Zarri Bano yang dulu lalu mengubahnya jadi Zarri Bano yang baru.

Dari seorang perempuan terpelajar yang diidolakan banyak pria, berubah jadi seorang perempuan suci, dengan jubah besar dan cadar. Tidak boleh menikah dan dengan kegiatan hanya belajar serta mengajarkan agama.

“Seperti Ayah tahu, aku bahkan nyaris tak pernah menutup kepalaku dengan benar. Aku hanya mengetahui sedikit tentang agama. Aku adalah seorang perempuan yang duniawi. Aku tak bisa menjadi biarawati.”

Tapi rentetan argumentasi Zarri tak digubris. Ayahnya menggunakan isu seksualitas sebagai amunisi.

“Lalu yang kau inginkan dalam hidup hanya seorang laki-laki?” Zarri Bano tersudut dan diperas secara psikologis. Tepat di situ dia tersungkur. Zarri lalu melihat dunia menjadi gelap dan rasanya tak lagi menginjak bumi.

Ibunya, Shahzada, yang mencoba membelanya, diancam akan diceraikan oleh ayahnya. Ketika gagal melawan kehendak ayahnya ini, ibunya hanya bisa berkata dengan getir, “Aku seorang ibu, tapi aku seorang pengkhianat.”

Zarri mengatakan, “Kini aku yang berdiri di hadapanmu, ibu, adalah shazadi ibadat ayahku. Sang Perempuan Suci. Perempuan yang diciptakan Ayah untuk membunuhku. Tidakkah kau tahu Ibu? Para lelaki adalah pencipta sesungguhnya kebudayaan kita? Mereka mencetak takdir kita sesuai hasrat dan nafsu mereka.”

Iklan

“Yang paling ironis dari yang ironis, karena aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, karena ini terjadi pada diriku. Seorang aktivis pembela hak-hak perempuan. Selama ini aku tinggal di rumah kaca yang menjanjikan, Ibu. Putri tidurmu dipaksa dibangunkan untuk merasakan dunia tiran kaum patriarkis. Jangan menunjukkan kesedihan seperti itu. Aku membebaskan Ibu dari semua kesalahan. Aku tahu Ibu tidak mampu menolongku. Aku tidak akan menuntut pertanggungjawaban Ibu atas apapun.”

Bagian ketika Zarri Bano pertama kali diberitahu ayahnya untuk menjadi perempuan suci, perlawanan Zarri Bano, dan pembelaan ibunya, yang dirangkai dalam dialog yang hidup, kuat dan mengalir, betul-betul mengumbar simpati sekaligus kemarahan. Dalam hal ini, saya mau tak mau jadi ingat Kartini, dan membayangkan juga bagaimana pertama kali perempuan yang cerdas ini diberitahu akan dinikahkan dengan seorang bandot tua sebagai istri kesekian.

Lalu dengan dingin, ditampilkan adegan pernikahan Zarri Bano dengan Al-Quran—seperti pernikahan umumnya—dimeriahkan dengan pesta yang meriah dan berlimpah makanan. Ratusan tamu terhormat datang menghadiri undangan acara ini.

Untuk kesekian kali, ayahnya, Habib, dan kakeknya, Siraj Din, membangun kemegahan kekuasaan patriarkinya di bawah penderitaan putri dan istrinya. Sebuah deskripsi ironi yang luar biasa tajam. Saya menduga, jika perempuan membaca buku ini mungkin ia ingin merobek halaman-halamannya, atau melemparkannya begitu saja ke arah lelaki yang kebetulan ada di depannya.

Tentu saja ini bukan novel dengan rentetan pamflet kemarahan. Alur cerita dan penokohannya sangat kuat. Deskripsi etnografisnya juga sangat kaya. Lapisan dan keterkaitan cerita sangat masuk akal, juga keterkaitan antartokohnya. Singkatnya kualitas literer novel ini ada di atas rata-rata.

Sikander, sang kekasih yang harus ditelikung oleh Al-Quran, menganggap hal ini sebagai tradisi kuno dan bermaksud menyelamatkan Zarri. Sayang, Sikander tidak berkutik ketika Zarri sendiri mengatakan bahwa dirinya tidak dipaksa oleh siapapun. Mendengar itu, Sikander merasa dilemparkan ke jurang yang dalam dan dia tidak bisa keluar. Tenggelam di dalamnya.

Sementara penasaran mendengar isu rekannya sesama aktivis menjadi perempuan suci, Profesor Nabghat, seorang guru besar sekaligus rekan Zarri dalam kegiatan pembelaan hak-hak perempuan langsung bermobil dari Karachi mendatangi Zarri Bano.

“Jika ini terjadi pada salah satu anggota kami yang sedemikian kuat, kami akan kehilangan. Tujuan kami, aspirasi kami, harapan!”

Karena itu ia bertanya mengapa bisa terjadi? “Buku-buku tentang feminisme, kampanye dan pendidikan benar-benar tidak berguna untuk melawan tirani patriarkat dan tuan tanah kami yang feodal,” jawab Zarri Bano.

“Pada akhirnya kita sebagai perempuan hanyalah manik-manik kecil dalam bentangan kain keluarga kita yang ditenun dengan pintar oleh ayah dan keluarga lelaki lainnya,” sambungnya lagi.

Zarri, sembari membenarkan bahwa dia tidak bisa melawan kehendak ayahnya, juga pada saat yang sama merasionalisasi penerimaannya sedemikian rupa. Perempuan suci memang tidak diperkenankan menikah, harus selalu menggunakan jubah dan cadar, tetapi diperbolehkan bepergian ke mana pun untuk kepentingan agama.

Profesor Nabghat meninggalkan Zarri Bano dengan perasaan gusar.  Kejadian yang menimpa Zarri Bano, membuat gerakan pembelaan perempuan seperti ditusuk di bagian jantungnya.

Cerita masih sangat panjang, termasuk di antaranya, yang menyedihkan, Sikander justru menikah dengan adiknya, Ruby. Ini adalah bagian-bagian melodramatis dari novel ini dan dalam hal ini, sekali lagi, Qaisra Shahraz adalah seorang pencerita yang piawai. Saya tak akan memperpanjangnya.

Akan tetapi apakah sebenarnya tradisi shazadi ibadat itu? Apakah itu ajaran agama atau semacam adat? Mengapa ayahnya, Habib, merasa wajib melaksanakan ini meski harus mengorbankan putri tersayangnya? Mengapa Zarri Bano harus takluk?

Sangat sulit untuk meringkaskan jawabannya. Tuntutan keras ayahnya, pembelaan dan kemarahan ibunya, serta perlawanan dilanjutkan dengan pengorbanan Zarri Bano sendiri, membentangkan dilema-dilema yang ditanggung ketika menghadapi kepentingan yang telah dibungkus sedemikian rupa dan bertumpang tindih dengan agama, tradisi, kehormatan keluarga, kepentingan ekonomi politik, dan lain sebagainya.

Tentu semua sepakat, Shahzadi ibunya, Sikander calon kekasihnya, Nabghat profesornya, dan Zarri Bano sendiri, termasuk kemudian ayahnya sendiri yang menyesali keputusan ini, menganggap ini pada dasarnya bukan ajaran Islam. Hanya tradisi. Sekadar adat budaya.

Namun persis di sini titik masalahnya, karena apa yang dianggap budaya itu sering jadi ukuran teologis. Sebaliknya pula, yang tadinya merupakan ukuran teologis telah bertransformasi menjadi budaya. Mendadak di novel ini, keduanya jadi tak mudah dipilah dan dipisah.

Ini bukan hanya soal tradisi shahzadi ibadat, bukan pula soal kultur di Pakistan, tapi juga jadi cerminan bahwa banyak tradisi di belahan dunia lain yang melanggengkan diskriminasi yang zalim. Terutama yang berkaitan dengan kedudukan perempuan seperti yang dialami Zarri Bano.

Baca edisi sebelumnya: Perjalanan ke Timur, Mencari Rumah dan tulisan di kolom Iqra lainnya.

Terakhir diperbarui pada 9 Juni 2018 oleh

Tags: #iqraAl-QuranbiarawatiIslamKarachiperempuan suciQaisra ShahrazSikanderteologisZarri Bano
Hairus Salim

Hairus Salim

Research Consultant, Writer, Trainer at Yayasan LKiS

Artikel Terkait

ngaji al-qur'an.MOJOK.CO
Kabar

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO
Esai

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO
Esai

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Modal 2 juta bisa untung cepat dari usaha rumahan cuci sepatu MOJOK.CO

Modal 2 juta bisa untung cepat dari usaha rumahan cuci sepatu

11 Agustus 2026
Susahnya mahasiswa di kampus tanpa working space 24 jam: kerjakan tugas kuliah di kos burnout, ke coffee shop tidak punya uang MOJOK.CO

Susahnya Mahasiswa di Kampus Tanpa Working Space 24 Jam: Nugas di Kos Burnout, Ke Coffee Shop Tak Punya Uang

12 Agustus 2026
77 persen lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) tembus dunia kerja. Lebih dari dari lulusan S1 MOJOK.CO

Lulusan Sekolah Vokasi (Sarjana Terapan) Lebih Laris di Dunia Kerja dari S1, Industri Butuh yang Berketerampilan

7 Agustus 2026
Mending Beli Rumah di Menganti, Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo. MOJOK.CO

Alasan Pasangan Muda Beli Rumah di Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo: Kena Imbas Pembangunan Perkotaan

12 Agustus 2026
ilustrasi - PSEL DIY di dekat TPA Piyungan. MOJOK.CO

Pemda DIY Bakal Serap 1.000 Tenaga Kerja Khususnya Warlok untuk Olah Sampah Jadi Energi Listrik di Dekat TPA Piyungan

11 Agustus 2026
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, pastikan jaga Lokananta Bloc sebagai kawasan ramah anak MOJOK.CO

Wali Kota Surakarta Pastikan Jaga Lokananta Bloc sebagai Kawasan Ramah Anak dan Ruang Kreatif Anak Muda

9 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.