MOJOK.COGenerasi 2000-an pengin nostalgia juga. Oleh karena itu, kami kru Mojok, sebagai generasi yang belajar internet di warnet ditemani lagu Jet (tapi satu doang) dan album Cilapop, mendukung penuh ide festival musik warnet.

Sebagai remaja yang tumbuh di tahun 2000-an bersama menjamurnya bisnis warung internet (warnet), saya mendukung ide Bung Raka Ibrahim ini.

Festival Musik Warnet perlu diadakan demi kenangan masa muda. Biasanya di warnet, operatornya memutar lagu-lagu dari band tersebut. Alangkah indahnya jika para alumni warnet bernostalgia dengan menyaksikan langsung sang artis beraksi di atas panggung.

Ada istilah tentang warnet dari salah satu komentator di podcast Deddy Corbuzier bersama Reza Oktovian. Ia menyebutkan bahwa seseorang bisa keluar dari warnet, tapi tak ada yang bisa mengeluarkan warnet dari diri seseorang. Kutipan itu menggambarkan bagaimana citra seorang Reza Arap, mantan operator warnet.

Menjadi operator warnet adalah anak tangga yang harus dilalui Reza Arap untuk menapaki altar kesuksesan. Setelah kaya-raya sebagai pengusaha e-sport, Reza Arap tak perlu jadi operator warnet lagi. Lagian warnetnya juga mungkin udah tutup, mengingat sekarang internet sudah ada di genggaman semua orang.

Baca juga:  Menggali Kenangan Manis dan Perih di The 90's Festival

Namun, anak warnet tetaplah anak warnet. Terlihat dari cara Reza Arap swearing dan berkata kotor. Itulah ciri khas mayoritas anak warnet yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Umumnya, mereka memaki-maki ketika internet mulai nge-lag saat sedang main game online. Setelah itu, biasanya mereka mulai menyindir pengunjung warnet lain yang diduga download video sampai bikin internet lelet. Ketika kalah karena internet macet, mereka bakal berkata kasar dan sumpah-serapah lainnya.

Ah, indahnya masa-masa itu. Download film dari YouTube sekaligus gangguin bocah main gim, yang notabene nggak pada pakai baju.

Terbayang nanti di Festival Musik Warnet, MC-nya adalah mantan op warnet macam Reza Arap. Terus penonton bakal ribut protas-protes kayak anak warnet pada umumnya. Ketika band yang tak disuka akhirnya tampil, sekelompok orang bakal teriak minta ganti. Namun, ketika penyanyi favoritnya muncul, mereka akan ikut bernyanyi dengan nada sumbang.

Penonton menikmati parade band sembari meminum minuman kesukaan masing-masing, sama seperti ketika masih sering main di warnet. Minuman ini menunjukkan kelas sosial dan ketebalan dompet. Yang sultan, minumnya soft drink macam Coca-Cola, Fanta, Sprite, atau minta dibikinin kopi sama mbak warnet. Kelas menengah, minumnya Ale Ale dan Teh Botol Sosro. Kasta terbawah tentunya tidak minum, hanya bisa menelan ludah, atau minta sesedot-dua sedot ke temennya yang lebih tajir.

Baca juga:  Menggali Kenangan Manis dan Perih di The 90's Festival

Panitianya juga akan memasang kabel-kabel telanjang di area penonton. Treatment ini sengaja diadakan supaya penonton bisa mengenang sensasi kesetrum CPU terbuka yang penuh memori kenaifan masa silam.

Penonton yang pernah mengajak pacarnya ke warnet, bisa mengulangi romantisme yang sama di festival musik ini. Dengan syarat, sampai sekarang pacarnya masih sama dengan yang dulu. Namun, kalau pacarnya nikah sama yang lain dan udah beranak, ya apa mau dikata, selain ikhlaskan saja. Billing paket asmara lo sudah habis, tong.

Bagi yang nonton sambil pacaran, jangan berbuat yang mantap-mantap. Soalnya sejak dulu CCTV dipasang di warnet bukan hanya untuk menjaga parkiran motor yang rawan pencurian, tapi juga untuk mengawasi bilik yang kerap dijadikan ajang mesum.

Di tengah acara, satu-dua tiga penonton akan dijewer oleh ibu atau bapaknya yang tiba-tiba datang untuk menyuruh pulang. Sungguh, itu bakal jadi pemandangan yang merekonstruksi kenangan masa-masa kejayaan warnet.

BACA JUGA Band Era 2000an yang Katanya Kampungan tapi Diam-diam Dirindukan atau komentar lainnya di rubrik apa? Masak lupa?



Tirto.ID
Loading...

No more articles