• 164
    Shares

MOJOK.CO – Siapa sangka candu pernah memberi sumbangsih besar untuk bangsa ini. Bahkan sedikitnya bisa membantu secara finansial dalam proses perjuangannya.

Dilihat dari sudut mana pun, candu memang identik dengan hal-hal negatif. Mau dari perspektif agama, norma, hukum, atau budaya, semua menentang barang haram ini.

Hanya saja ketika keadaan mendesak selalu saja muncul sudut pandang lain. Seperti upaya pejuang kemerdekaan dan para pedagang Tionghoa kala badai Agresi Militer Belanda ke-II mengempas Bumi Pertiwi.

Pergumulan sengit pada tahun 1948 itu telah menciptakan situasi mencekam. Serupa telur di ujung tanduk, bahkan nyaris lenyap dari sejarah.

Ya gimana ya, Agresi Belanda ke-II yang ugal-ugalan itu sempat bikin Indonesia yang masih kinyis-kinyis itu kayak dihantam stroke. Benar-benar hampir lumpuh.

Para Founding Father ditangkap dan diasingkannya. Bung Karno, Sjahrir, dan Haji Agus Salim diterbangkan ke Berastagi dan Parapat, Sumatra Utara. Sementara Hatta, Soerjadarma, Assaat dan Pringgodigdo diselipkan ke Bukit Menumbing, Bangka Barat.

Sigap membaca keadaan, Syarifuddin Prawiranegara yang lolos dari penangkapan, selang tiga hari setelah agresi segera membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatra pada tanggal 22 Desember 1948.

Sikap ngeyel yang penting untuk tidak tunduk dengan Belanda.

Dari situ, mereka giat mengabarkan lewat radio transmitter dan mobiele x-mitter yang dioperasikan AURI,  bahwa Indonesia belum menyerah, masih ada, masih tetap kukuh melawan.

Bumi Melayu kala itu menjadi sentral berkobarnya api perlawanan, kendati apinya kecil namun tetap bersikeras mempertahankan cahayanya, sekalipun badai agresi malang-melintang. Di tengah hutan, mereka menyelinap di balik pepohonan yang menikam langit sembari menyusun strategi.

Hidup nomaden dari satu nagari ke nagari lainnya menjadi tak terhindarkan. “Somewhere in the jungle,” kala itu menjadi istilah yang cukup populer untuk menerangkan lokasi PDRI. Dalam persembunyiannya, beruntung masih ada beberapa nagari yang sangat bersemangat bergilir memberikan asupan perjuangan berupa nasi bungkus.

Risih menyaksikan para pejuang kemerdekaan tak juga fasih mengucap kata menyerah, membikin Belanda berang. Jalur pasokan perbekalan dan persenjataan pun diputusnya dengan memberlakukan blokade darat dan laut.

Serupa semut, Pasukan Belanda tersebar di mana-mana. Blokade itu sempat membuat pejuang kemerdekaan terdesak, yang memaksa mereka mesti memikirkan solusinya sesegera mungkin, apa pun itu.

Baca juga:  Prabowo Senang Bisa “Menyatukan” Keluarga Soekarno dan Keluarga Soeharto dalam Satu Payung Koalisi

Pada akhirnya, sampailah para pejuang kemerdekaan pada sebuah kesimpuan bahwa untuk menyambung napas perjuangan, mereka harus menyelundupkan berbagai hasil pertanian guna dibarter dengan perbekalan dan persenjataan.

Jika militer sekarang akan selalu berupaya menggagalkan penyelundupan, pada situasi saat itu penyelundupan justru mengambil peran penting. Dan dalam setiap aktivitas itu, selalu ada doa dan harapan mengiringinya. Ya, nasib Indonesia sedikitnya, bergantung dari usaha itu.

Teuku Mohamad Daud, seorang veteran, mengabarkan kesaksiannya.

“Kami terpaksa mendanai perlengkapan baru dengan menyelundupkan hasil-hasil pertanian dari Riau. Ternyata itu pekerjaan yang sangat sulit karena kami tidak punya keahlian dalam perdagangan barter.”

Bukan hanya kemampuan bersembunyi dan menembak yang mesti dimiliki para pejuang. Dalam kondisi seperti itu mereka juga dituntut agar memiliki pengetahuan lebih mengenai dunia perdagang. Mungkin, softskill inilah yang diwariskan pada panglima-panglima militer pada era Orde Baru.

Dalam tiap penyelundupan, tantara pejuang tidak sendiri. Banyak tangan yang turut berpartisipasi dalam aktivitas itu dan yang paling getol ya orang-orang Tionghoa yang berprofesi sebagai pedagang keliling.

Mereka memiliki kegigihan yang luar biasa, menghindari pengawasan militer Belanda dan masuk hutan demi melakukan barter. Dalam situasi yang serba sulit itu, barang apa pun, selama bisa dibarter dengan pasokan persenjataan dan perbekalan, menjadi berharga.

“Sebagai suntikan modal, kadang-kadang kami menerima peti-peti candu mentah yang dikirim dari Pulau Jawa dengan pesawat kecil. Kami menjual candu itu dan komoditas lain kepada para pedagang Tionghoa di Pekanbaru yang kemudian menyelundupkannya ke Malaya.”

Penuh hikmat, Daud menuturkan pengalamannya pada Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam buku Liem Sioe Liong dan Salim Group, Pilar Bisnis Soeharto (hlm. 45-46).

Salah satu Tionghoa yang terkenal soal penyelundupan karena aksi-aksi heroiknya dalam menerjang ombak, berkelok di antara peluru dan bom demi memasok perbekalan dan persenjataan para pejuang ialah John Lie, yang juga dikenal sebagai Jahja Daniel Dharma.

Jalur operasinya, membentang dari Singapura, Penang, Manila, Bangkok, Ranggoon sampai New Delhi. Dia sih tak bersoal dengan empat buah kapalnya yang hancur karena aksinya, selama masih bisa menyambung napas perjuangan dalam mempertahankan Indonesia.

Baca juga:  Penyanderaan di Papua: Bagaimana Media Melahirkan Bias

Lie mendadak jadi “donatur” yang penting. Kehadirannya, mencegah putus asa menyapa pejuang yang mulai kekurangan suplai senjata. Keputusan Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan Lie sebagai pahlawan setelah 21 tahun kematiannya (2009) bukanlah tanpa alasan.

Sejak dulu, candu merupakan barang dagangan yang banyak memberi keuntungan. Bahkan sampai saat ini, ada beberapa negara yang telah melegalkan barang haram ini dengan syarat jumlah yang terbatas sesuai peraturan negara masing-masing.

Seperti Belanda, Siprus, Meksiko, Kolumbia, Spanyol, beberapa negara bagian Amerika Serikat dan lainnya. Beruntung Indonesia saat ini tidak kecanduan untuk sampai melegalkannya.

Hal yang perlu dipahami, situasi penyelundupan candu saat itu bukan untuk mengisi kas negara, melainkan demi mendanai persenjataan. Siapa yang menyangka, dalam kondisi seperti itu, barang-barang haram seperti candu, justru memiliki peran penting.

Pada akhirnya pada tahun 1949, tekanan politik internasional berhasil memaksa Belanda ke meja perundingan. Agresi Militer Belanda ke-II berhenti setelah Perjanjian Roem-Royen diteken, yang mengharuskan Pemerintah Kolonial itu hengkang dari Indonesia.

Penderitaan selama tujuh bulan itu berakhir juga. Syarifuddin kemudian dengan bangga menyerahkan posisinya sebagai pemimpin PDRI ke pundak NKRI. Dari situ, aktivitas penyelundupan akhirnya dihentikan oleh para pejuang yang kemudian dikenal dengan sebutan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Angin segar pun berembus ke seluruh penjuru. Saking segarnya, membuat setiap penghirupnya teralienasi dari sejarah bangsanya sendiri. Kita kerap lupa bahwa kemerdekaan bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Ia melangkah sepaket dengan pengorbanan di lubang lumpur sebagai karibnya.

Cukup Syarifudin yang mengendap-ngendap di belantara hutan rimba. Tak perlu kita ikut-ikutan bersembunyi di antara bait-bait suci untuk menjelaskan siapa kita.

Tiada yang betul-betul bersih dan pula setiap sesuatu memiliki tempat dan perannya masing-masing. Seperti halnya John Lie dengan kapalnya, barang-barang candu dengan senjata, dan nasi bungkus dengan napas perjuangan.

Pada titik itu, kita harus maklum bahwa kita tak pernah utuh mengenal bangsa ini, sebagaimana kita tak pernah tahu apakah semangat penyelundupan candu itu masih diteruskan atau tidak. Eh.

  • 164
    Shares


Loading...



No more articles