“Bib, bagaimana kalau nanti di akhirat pahala dan dosa kita draw? Apa akan extra time di dunia?” tanya seorang Pemuda Tersesat ke saya.

Netizen tertawa terkencing-kencing mendengar pertanyaan itu. Dipikirnya itu pertanyaan bercanda dan mengada-ada. Ketika banyak di antara mereka atau mungkin Anda ada yang ketawa, saya malah tertegun.

Saya berpikir tentang bagaimana mungkin pertanyaan seberkualitas itu bisa muncul dari seorang Pemuda Tersesat?

Loh kok justru berkualitas? Ya iya lah! Kalau kita baca Al-Quran, kita sadar bahwa pertanyaan itu berkualitas. Saya bisa jelaskan.

Keresahan itu diabadikan dalam Surat Al-A’raf ayat 46-49 yang bercerita tentang Ashabul A’raf atau orang-orang yang kelak di akhirat dosa dan pahalanya draw, kemudian mereka dikumpulkan di Puncak Al A’raf, lalu dimasukkan ke surga karena rahmat Allah, setelah semua manusia dihitung amalnya dan dimasukkan ke surga dan neraka.

Begitu setidaknya penafsiran para penafsir klasik, termasuk Ibnu Katsir.

Dari sana saya tersadar, pertama, jangan-jangan yang selama ini menganggap pertanyaan-pertanyaan Pemuda Tersesat itu remeh, canda, atau bahkan tersesat, justru hanya karena kebodohannya. Tak sadar bahwa ada pertanyaan itu yang bahkan dibahas dalam Al-Quran.

Kedua, betapa pun pertanyaan-pertanyaan Pemuda Tersesat itu terbaca konyol, namun itu datang dari hati yang tulus dan pikiran yang jernih sehingga meski mereka mungkin tak baca Al-Quran, apalagi kenal Ashabul A’raf, namun bisa punya keresahan yang diabadikan dalam Al-Quran.

Ketiga, saya khawatir terjerumus dalam kesombongan ketika meremehkan pertanyaan-pertanyaan Pemuda Tersesat. Kalaupun menurut saya pertanyaan itu konyol, maka bukankah itu hanya karena saya beruntung dulunya santri dan pertanyaan semacam itu telah muncul dan terjawab di pesantren?

Baca juga:  Husnuzan pada Tuhan

Pertanyaan itu riil adalah kegelisahan mereka dan sungguh mereka ingin tahu. Itu sebuah semangat pencarian dalam agama yang sungguh saya khawatir untuk meremehkannya.

Keempat, kalaupun pertanyaan-pertanyaan Pemuda Tersesat benar-benar sebagian bercanda, bukankah kita bisa menjadikannya celah untuk dakwah?

Saya kira salah kaprah kalau menyebut ini “membecandakan agama”, karena nyatanya ini justru “mengagamakan canda”, yakni menjadikan canda sebagai medium dakwah sebagaimana dilakukan Nasrudin Khoja, Abu Nawas, Bahlul, dan lain-lain.

Toh bukankah Nabi Muhammad juga dengan medium canda ketika menyampaikan dakwah tentang hal gaib bahwa di surga kelak semua orang tua dijadikan muda oleh Allah?

Yakni sebagaimana riwayat Imam Tirmidzi, ketika seorang nenek datang bertanya ke Nabi Saw tentang apakah dia masuk surga? Lalu Nabi Saw mencandainya dengan menjawab tak ada nenek-nenek di surga. Lalu Nabi Saw segera menimpali bahwa karena di surga semua yang tua dimudakan kembali.

Maka, saya memilih untuk menghormati dan berempati dengan pertanyaan-pertanyaan Pemuda Tersesat itu.

Sejak Ramadan tahun lalu, saya memilih bikin “Kultum Pemuda Tersesat”. Tentu yang dimaksud tersesat bukan pertanyaannya atau apalagi penanyanya, melainkan perasaan penanyanya, di mana mereka memang merasa, terus dijaga, dan terus berusaha saya didik untuk “merasa” tersesat.

Sebab perasaan tersesat itu penting agar mereka terus bertanya, belajar, dan memperbaiki dirinya. Sehingga mereka menjadi “The Real Pemuda Hijrah”, yakni selalu hijrah menjadi lebih baik.

Justru kalau sudah meresa tak tersesat itu yang bahaya. Bisa bikin kita berhenti bertanya, belajar, dan memperbaiki diri. Seperti seorang yang merasa pintar, maka saat itu ia berhenti belajar, sehingga saat itu pula ia menjadi bodoh.

Baca juga:  Pendapatannya Jadi Muncikari Ayam Kampus Puluhan Juta Rupiah dan Dia Memilih Tobat

Apalagi—nauzubillah—kalau sampai merasa suci, maka saat itu ia merasa berhak menghakimi orang lain, dan seperti kata Nabi Saw, siapa yang menghakimi orang lain dengan kata kafir padahal nyatanya orang itu tak kafir maka kekafiran kembali pada dirinya sendiri.

Lagi pula, saya mikir bahwa kalaupun pertanyaannya seputar agama yang dianggap tersesat, tak apa. Paling tidak bukan sikapnya dalam beragama yang tersesat, yakni sikap beragama semacam berangkat haji tapi dari uang korupsi, beragama tapi suka menebar hoaks, kelihatan religius tapi suap sana-sini.

Semakin ke sini, saya justru semakin merasakan energi keberkahan Pemuda Tersesat. Program dakwah di YouTube yang tahun lalu sebatas buat mengisi Ramadan ini, tiba-tiba disukai dan diminta hadir juga di bulan Ramadan.

Lalu, program ini ternyata menginspirasi banyak anak muda:

“Saya jadi tobat, Bib!”

“Saya jadi rajin salat lagi, Bib!”

“Anak saya jadi mau dengar ceramah dank e masjid lagi, Bib.”

Dan model-model komentar semacam itu berdatangan di kolom komentar YouTube, DM Twitter dan Instagram, hingga pesan ke Whatsapp saya. Kadang saya capture dan bagikan di media sosial saya untuk membuka mata orang yang mungkin masih salah paham melihat model dakwah ini.

Bahkan, bukan hanya anak muda. Beberapa hari lalu, seorang anak mengabarkan ke saya bahwa ibunya baru saja wafat dan berterima kasih ke saya, Muslim, dan Coki karena mengisi hari-hari terakhir ibunya melalui Kultum Pemuda Tersesat dengan tawa dan pencerahan.

Baca juga:  Gaul di Jaksel, Hedon di Jakbar, Nyasar ke Bekasi, Bermacetan di Depok

Saya tergetar membacanya, garis batas rasa haru saya ikut gentar juga akhirnya. Saya bisa saja cerita panjang soal ini, tapi saya khawatir saya yang jadi tersesat pada ke-riya’-an. Jadi kita skip aja detail cerita itu, biar tulisan ini tak jadi tulisan yang menyesatkan.

Oke, yang paling saya rasakan keberkahan dari konten Kultum Pemuda Tersesat adalah—tanpa direncakan—tiba-tiba hal tersebut membawa saya membuat donasi “Celengan Pemuda Tersesat” di KitaBisa.com.

Dan saat ini setelah dua bulan lebih, celengan ini sudah mendapat lebih dari 250 juta rupiah.

Sungguh saya tak menyangka, solidaritas Pemuda Tersesat itu begitu riil, senyata keresahan mereka dengan pertanyaan-pertanyaannya yang dalem dan kadang menusuk ulu hati.

Kini dana itu telah disalurkan membantu wirausaha, pendidikan, dan kesehatan mental Pemuda Tersesat. Bahkan, beberapa perusahaan besar telah ikut menyumbang secara langsung melalui saya.

Alhamdulillah, pada waktu saya menulis ini, kini Pemuda Tersesat bahkan telah menjadi “Yayasan Pemuda Tersesat Indonesia”. Wah, siapa coba yang bisa menduga? Saya lho, ngimpi bakal jadi kayak gini aja tidak.

Sampai detik ini, saya tidak pernah terbayang sekelompok jamaah yang mengaku dan merasa selalu tersesat, justru bisa terus tumbuh jadi sebesar sekarang ini.

Kadang saya mikir, lagi tersesat aja udah kayak gini… apalagi kalau udah nggak coba?

____________________________________________________________________________________

Sepanjang Ramadan, MOJOK menerbitkan KOLOM RAMADAN yang diisi bergiliran oleh Fahruddin FaizMuh. Zaid Su’di, dan Husein Ja’far Al-Hadar. Tayang setiap waktu sahur.