Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Kenapa Saya Merasa Terhormat Jadi Pengasuh Pemuda Tersesat?

Husein Jafar Al Hadar oleh Husein Jafar Al Hadar
24 April 2021
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Bib, bagaimana kalau nanti di akhirat pahala dan dosa kita draw? Apa akan extra time di dunia?” tanya seorang Pemuda Tersesat ke saya.

Netizen tertawa terkencing-kencing mendengar pertanyaan itu. Dipikirnya itu pertanyaan bercanda dan mengada-ada. Ketika banyak di antara mereka atau mungkin Anda ada yang ketawa, saya malah tertegun.

Iklan

Saya berpikir tentang bagaimana mungkin pertanyaan seberkualitas itu bisa muncul dari seorang Pemuda Tersesat?

Loh kok justru berkualitas? Ya iya lah! Kalau kita baca Al-Quran, kita sadar bahwa pertanyaan itu berkualitas. Saya bisa jelaskan.

Keresahan itu diabadikan dalam Surat Al-A’raf ayat 46-49 yang bercerita tentang Ashabul A’raf atau orang-orang yang kelak di akhirat dosa dan pahalanya draw, kemudian mereka dikumpulkan di Puncak Al A’raf, lalu dimasukkan ke surga karena rahmat Allah, setelah semua manusia dihitung amalnya dan dimasukkan ke surga dan neraka.

Begitu setidaknya penafsiran para penafsir klasik, termasuk Ibnu Katsir.

Dari sana saya tersadar, pertama, jangan-jangan yang selama ini menganggap pertanyaan-pertanyaan Pemuda Tersesat itu remeh, canda, atau bahkan tersesat, justru hanya karena kebodohannya. Tak sadar bahwa ada pertanyaan itu yang bahkan dibahas dalam Al-Quran.

Kedua, betapa pun pertanyaan-pertanyaan Pemuda Tersesat itu terbaca konyol, namun itu datang dari hati yang tulus dan pikiran yang jernih sehingga meski mereka mungkin tak baca Al-Quran, apalagi kenal Ashabul A’raf, namun bisa punya keresahan yang diabadikan dalam Al-Quran.

Ketiga, saya khawatir terjerumus dalam kesombongan ketika meremehkan pertanyaan-pertanyaan Pemuda Tersesat. Kalaupun menurut saya pertanyaan itu konyol, maka bukankah itu hanya karena saya beruntung dulunya santri dan pertanyaan semacam itu telah muncul dan terjawab di pesantren?

Pertanyaan itu riil adalah kegelisahan mereka dan sungguh mereka ingin tahu. Itu sebuah semangat pencarian dalam agama yang sungguh saya khawatir untuk meremehkannya.

Keempat, kalaupun pertanyaan-pertanyaan Pemuda Tersesat benar-benar sebagian bercanda, bukankah kita bisa menjadikannya celah untuk dakwah?

Saya kira salah kaprah kalau menyebut ini “membecandakan agama”, karena nyatanya ini justru “mengagamakan canda”, yakni menjadikan canda sebagai medium dakwah sebagaimana dilakukan Nasrudin Khoja, Abu Nawas, Bahlul, dan lain-lain.

Toh bukankah Nabi Muhammad juga dengan medium canda ketika menyampaikan dakwah tentang hal gaib bahwa di surga kelak semua orang tua dijadikan muda oleh Allah?

Yakni sebagaimana riwayat Imam Tirmidzi, ketika seorang nenek datang bertanya ke Nabi Saw tentang apakah dia masuk surga? Lalu Nabi Saw mencandainya dengan menjawab tak ada nenek-nenek di surga. Lalu Nabi Saw segera menimpali bahwa karena di surga semua yang tua dimudakan kembali.

Iklan

Maka, saya memilih untuk menghormati dan berempati dengan pertanyaan-pertanyaan Pemuda Tersesat itu.

Sejak Ramadan tahun lalu, saya memilih bikin “Kultum Pemuda Tersesat”. Tentu yang dimaksud tersesat bukan pertanyaannya atau apalagi penanyanya, melainkan perasaan penanyanya, di mana mereka memang merasa, terus dijaga, dan terus berusaha saya didik untuk “merasa” tersesat.

Sebab perasaan tersesat itu penting agar mereka terus bertanya, belajar, dan memperbaiki dirinya. Sehingga mereka menjadi “The Real Pemuda Hijrah”, yakni selalu hijrah menjadi lebih baik.

Justru kalau sudah meresa tak tersesat itu yang bahaya. Bisa bikin kita berhenti bertanya, belajar, dan memperbaiki diri. Seperti seorang yang merasa pintar, maka saat itu ia berhenti belajar, sehingga saat itu pula ia menjadi bodoh.

Apalagi—nauzubillah—kalau sampai merasa suci, maka saat itu ia merasa berhak menghakimi orang lain, dan seperti kata Nabi Saw, siapa yang menghakimi orang lain dengan kata kafir padahal nyatanya orang itu tak kafir maka kekafiran kembali pada dirinya sendiri.

Lagi pula, saya mikir bahwa kalaupun pertanyaannya seputar agama yang dianggap tersesat, tak apa. Paling tidak bukan sikapnya dalam beragama yang tersesat, yakni sikap beragama semacam berangkat haji tapi dari uang korupsi, beragama tapi suka menebar hoaks, kelihatan religius tapi suap sana-sini.

Semakin ke sini, saya justru semakin merasakan energi keberkahan Pemuda Tersesat. Program dakwah di YouTube yang tahun lalu sebatas buat mengisi Ramadan ini, tiba-tiba disukai dan diminta hadir juga di bulan Ramadan.

Lalu, program ini ternyata menginspirasi banyak anak muda:

“Saya jadi tobat, Bib!”

“Saya jadi rajin salat lagi, Bib!”

“Anak saya jadi mau dengar ceramah dank e masjid lagi, Bib.”

Dan model-model komentar semacam itu berdatangan di kolom komentar YouTube, DM Twitter dan Instagram, hingga pesan ke Whatsapp saya. Kadang saya capture dan bagikan di media sosial saya untuk membuka mata orang yang mungkin masih salah paham melihat model dakwah ini.

Bahkan, bukan hanya anak muda. Beberapa hari lalu, seorang anak mengabarkan ke saya bahwa ibunya baru saja wafat dan berterima kasih ke saya, Muslim, dan Coki karena mengisi hari-hari terakhir ibunya melalui Kultum Pemuda Tersesat dengan tawa dan pencerahan.

Saya tergetar membacanya, garis batas rasa haru saya ikut gentar juga akhirnya. Saya bisa saja cerita panjang soal ini, tapi saya khawatir saya yang jadi tersesat pada ke-riya’-an. Jadi kita skip aja detail cerita itu, biar tulisan ini tak jadi tulisan yang menyesatkan.

Oke, yang paling saya rasakan keberkahan dari konten Kultum Pemuda Tersesat adalah—tanpa direncakan—tiba-tiba hal tersebut membawa saya membuat donasi “Celengan Pemuda Tersesat” di KitaBisa.com.

Dan saat ini setelah dua bulan lebih, celengan ini sudah mendapat lebih dari 250 juta rupiah.

Sungguh saya tak menyangka, solidaritas Pemuda Tersesat itu begitu riil, senyata keresahan mereka dengan pertanyaan-pertanyaannya yang dalem dan kadang menusuk ulu hati.

Kini dana itu telah disalurkan membantu wirausaha, pendidikan, dan kesehatan mental Pemuda Tersesat. Bahkan, beberapa perusahaan besar telah ikut menyumbang secara langsung melalui saya.

Alhamdulillah, pada waktu saya menulis ini, kini Pemuda Tersesat bahkan telah menjadi “Yayasan Pemuda Tersesat Indonesia”. Wah, siapa coba yang bisa menduga? Saya lho, ngimpi bakal jadi kayak gini aja tidak.

Sampai detik ini, saya tidak pernah terbayang sekelompok jamaah yang mengaku dan merasa selalu tersesat, justru bisa terus tumbuh jadi sebesar sekarang ini.

Kadang saya mikir, lagi tersesat aja udah kayak gini… apalagi kalau udah nggak coba?

____________________________________________________________________________________

Sepanjang Ramadan, MOJOK menerbitkan KOLOM RAMADAN yang diisi bergiliran oleh Fahruddin Faiz, Muh. Zaid Su’di, dan Husein Ja’far Al-Hadar. Tayang setiap waktu sahur.

Terakhir diperbarui pada 24 April 2021 oleh

Tags: hijrahJeda TersesatKolom Ramadannabipemuda tersesattobat
Husein Jafar Al Hadar

Husein Jafar Al Hadar

Magister Tafsir. Pengasuh Konten Dakwah YouTube “Kultum Pemuda Tersesat” dan Penulis Buku “Tuhan Ada di Hatimu”.

Artikel Terkait

Ustaz Salman Al-Jugjawy: Saat Rasa Takut Kematian Merubah Jalan Kehiupan
Video

Ustaz Salman Al-Jugjawy: Saat Rasa Takut Kematian Merubah Jalan Kehidupan

3 September 2025
Dakwoh membuktikan bahwa hijrah nggak harus ninggalin dunia lama. Simak perjalanan hidupnya yang penuh tantangan dan inspirasi
Video

Motivasi Hidup Ala Dabwok: Hijrah Nggak Harus Ninggalin Musik

17 Mei 2025
Suara TOA Masjid Harus Pelan, Suara TOA Masjid Harus Keras
Khotbah

Suara TOA Masjid Harus Pelan, Suara TOA Masjid Harus Keras

19 November 2021
Ada Qada dan Qadar tapi Kenapa Manusia Masih Diadili di Akhirat?
Khotbah

Ada Qada dan Qadar tapi Kenapa Manusia Masih Diadili di Akhirat?

22 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.