Pengakuan Pengguna Jasa  Open BO yang Merasa Tersesat di Bulan Puasa

Bulan puasa, bagi beberapa orang, adalah bulan sebaik-baiknya bulan. Ada juga yang menganggap sesuci-sucinya bulan. Bagi beberapa orang yang dianggap sampah oleh masyarakat, bulan Ramadan justru menjadi bulan terbaik untuk menggunakan jasa Open BO bagi kepuasan dirinya.

Mojok.co berbincang dengan salah satu pengguna jasa Open BO yang sudah kecanduan akut dan menuturkan beberapa cerita lucu, sedih, hingga penuh penyesalan selama ia menggunakan jasa Open BO selama Bulan Ramadan. Berikut ini pengakuan narasumber seperti yang disampaikan kepada kontributor Susul Mojok, Gusti Aditya.

***

“Ketika masyarakat libur bulan puasa, kita bekerja lebih ekstra,” begitu apa yang dikatakan oleh atasan saya. Dengan menghela napas yang paling panjang, akhirnya bulan yang menjengkelkan tiba juga. Oh, maaf, bagimu bulan puasa adalah bulan yang penuh berkah, ya? Ya nggak papa. Ini perihal perbedaan sudut pandang kita melihat sebuah makna. Nggak masalah, kan?

Bulan yang penuh berkah? Memang. Saya akui itu. Tapi bukan bagi saya. Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan berkah bagi orang-orang yang beruntung. Saya sayangnya bagian yang nggak beruntung itu. Bulan puasa ya lembur, lembur, dan lembur. Libur? Hanya beberapa kali saja. Kadang saya ingin memaki-maki sekencang-kencangnya seragam yang aku gunakan. Tapi mau bagaimana lagi, seragam ini yang memberiku makan.

Bagi saya yang berjiwa malang, jauh dari agama dan hal religius lainnya, menonton konten Pemuda Tersesat ala Habib Husein Ja’far Al-Hadar, bukan merangkum ilmu yang disajikan, namun menikmati canda tawanya saja. begitulah cara pandang saya terhadap bulan puasa. Bagimu penuh berkah bagiku penuh dengan lelah.

“Libur dua hari di minggu pertama puasa, tolong dimanfaatkan dengan baik,” begitu lanjut si atasan. Bagi kawan-kawan saya, mungkin dua hari libur akan dijadikan sebagai ajang kumpul keluarga. Atau ya bagi mereka yang alim dan hatinya suci, beribadah adalah jawabannya. Libur yang amat jarang, harus dimanfaatkan.

Saya? Tentu saja. Saya akan melakukan ibadah paling khusyuk guna menyambut bulan puasa. Toh, definisi ibadah adalah menjalankan sebuah ritus, kan? Tidak harus sakral, profan pun bisa, kan? Benar, ibadah luhur yang saya tempuh guna menyambut dua hari libur di minggu pertama puasa adalah memesan jasa Open BO di Instagram.

Pakai jasa Open BO di malam bulan puasa sungguh nikmat

Sebut saja nama saya Desta. Nggak perlu saya jelaskan panjang lebar, sudah tahu lah bahwa nama itu dipalsukan. Bukan nama sebenarnya. Kalian sudah besar, sudah mengisi persetujuan bahwa umur kalian di atas delapan belas. Singkatnya ya sudah bisa mengambil tindakan dan andil guna berpikir. Makanya, jangan bully kawan kalian yang namanya serupa dengan nama samaran yang saya gunakan.

Baca juga:  Rabun Dekat dan Dua Juta Orang Murtad

Saya bekerja di salah satu instansi yang nggak bisa saya sebutkan. Cilaka mencit jika saya persilakan kepada Gusti Aditya guna mengetik secara utuh instansi yang saya huni. Namun dari ciri-ciri yang saya sebutkan di bagian pembuka, bisa menebak, kan? Ayolah, umur kalian sudah di atas delapan belas.

Saya ini amat kecanduan dunia Open BO sejak lulus SMA. Yang membuat saya terjebak dalam kenikmatan tiada putusnya ini adalah rasa penasaran. Nafsu itu nomer dua, yang nomer satu adalah menuntaskan rasa penasaran. Dengan melihat foto-foto yang bertebaran di jagat media sosial, dengan rate harga yang termaktub, dan juga testimoni yang menggiurkan, saya terpikat menjajal.

Sialnya, pertama kali saya mencoba itu ketika bulan puasa. Bangsatnya, ketika itu penyedia jasa Open BO yang saya gunakan, sedang mengadakan diskon khusus dalam menyambut bulan penuh berkah. Sialnya, saya tertarik menggunakan voucher diskon tersebut. Lebih bajingannya, saya adalah pelanggan satu-satunya yang tertarik menggunakan potongan harga tersebut.

“Karena di bulan puasa, 90% pelanggan akan memilih menggunakan peci sementara. Jasi sepi, deh. Namanya mencoba mendatangkan pelanggan, berbagai cara saya lakukan. Salah satunya, ya, dengan potongan harga,” begitu kiranya apa kata perempuan—yang kala itu—berumur dua puluh dua tahun itu jelaskan maksud dan tujuan memberikan diskonan bulan puasa.

Sembari membuka celana dalam yang melekat di tubuh saya, kok ya saya jadi geli sendiri. Saya geli lantaran menyadari bahwa ternyata saya adalah 10% orang yang justru melepas peci ketika bulan puasa. Padahal untuk harga, itu nggak masalah. Walau saya “sekolah”, baru semester awal, saya tetap dapat pesangon yang lumayan besar. Menggunakan jasa Open BO dengan tarif satu juta pun rasanya saya mampu. Namun entah kenapa, ada perasaan lebih ketika menggunakan jasa di malam bulan puasa.

Perjaka saya hilang di tangan penyedia jasa Open BO diskonan. Itulah faktanya. Penyedia jasa Open BO yang bilang, “Nggak puas, uang kembali kok, Mas,” begitu katanya di pesan pembuka. Katanya, “Beberapa penyedia jasa Open BO, kadang memiliki kebijakan masing-masing. Jelas yang sering adalah penggunaan kondom. Namun saya lebih memilih untuk memberikan kesepakatan; nggak puas, uang nggak dilepas.

Saya yang masih bau kencur saat itu, amat tertarik dengan kesepakatan penggiurkan itu. Walau pada kenyataannya, saya hancur lembur bahkan di ronde pertama. Uang saya nggak balik, lha wong saya tepar klepar-klepar.

Di tengah kesibukan, di hari libur yang amat sempit dan padat, di bulan puasa yang katanya penuh dengan berkah, saya meneruskan ibadah tercela tersebut. Banyak sekali yang mengeluh bahwa rawan menggunakan jasa Open BO selama bulan puasa karena rawan gropyokan. Namun saya nggak mempermasalahkan akan hal itu. Saya selalu menggunakan hotel bintang tiga ke atas, jadi potensi grebek-menggrebeknya kecil sekali.

Baca juga:  Bertani Rumput Mendulang Rupiah

Banyak hal lucu selama menggunakan jasa Open BO di bulan puasa

Ketika mau mencapai puncak kenikmatan, suara dari tempat ibadah berkumandang. Kami harus menunda terlebih dahulu persetubuhan. Bukan marah, malu, atau bingung, saya dan penyedia jasa Open BO justru tertawa. “Bingung, sih, kalau mau mendesah malah ada lantunan ayat. Apalagi kalau hotel yang dipesan dekat tempat ibadah,” begitu kata sang penyedia jasa. Saya tertawa, dalam hati sedih juga padahal mau klimaks.

Pernah juga ketika saya bermain untuk satu ronde, suara mobil polisi sayup-sayup masuk ke pendengaran saya. Mau nggak mau, permainan harus dipercepat dengan daya yang meledak-ledak. Si penyedia jasa, justru tertawa. Mata saya kebingungan, si penyedia jasa justru merem melek sambil menahan tawa. Katanya, “Itu suara toa bangunin orang untuk sahur di daerah sini, Mas, bukan suara mobil polisi.”

Juga pernah di suatu ketika, saya bingung hendak mengajak penyedia jasa Open BO itu sahur bersama atau enggak. Pada akhirnya kami, selesai bermain, justru sahur on the road seperti sepasang kekasih yang baru saja bermesraan bersama. Bedanya kami makan tanpa membahas apa-apa. Hanya diam dan setelah itu penuh dengan kecanggungan.

Barangkali penyedia jasa Open BO itu juga bingung menolak saya yang mengajak sahur bersama. Bodohnya, setelah kami sahur, saya bertanya, “Mau salat subuh jamaah nggak, Mbak?”

Merasa tersesat karena butuh kasih sayang 

Pengakuan pengguna jasa open BO

Ilustrasi foto oleh Clark Van Der Beken/Unsplash.com

Banyak yang bilang bahwa fetish saya ini adalah malam bulan puasa, saya hanya tertawa. Barangkali bukan malam bulan puasanya, namun ketika bersentuhan dengan penyedia jasa Open BO, saya merasa amat disayang. Saya merasa menjadi manusia yang kembali dibutuhkan walau hubungan kami sebatas profesional teman tidur belaka. Di malam bulan puasa ketika kawan-kawan kumpul dengan keluarga, saya juga mau setidaknya merasakan apa itu belai lembut kasih sayang—walau semu.

Hal yang selama ini nggak saya dapatkan di dalam keluarga, saya peroleh di sini walau beberapa persen saja kadar bahagianya. Saya bukan terjebak di dalam sebuah standar ganda dan mencoba Anda sekalian memberikan maklum, saya tahu saya salah, namun saya sudah mentok nggak menemukan jalan lain guna mencari apa itu arti dari kasih sayang. Sekalipun itu di bulan Ramadan.

Anda menyuruh saya salat? Pak Ustad kompleks asrama saja nggak saya dengarkan, apalagi Anda, wahai pembaca yang budiman.

Saya menemukan kecocokan dengan para penyedia jasa Oen BO yang saya hubungi secara random di Twitter atau Instagram. Saya yang sekarang, berbeda dengan saya yang awal-awal “sekolah”. Kini, sebelum memulai membelah malam dengan desah paling sakral, saya biasanya membuka sebuah obrolan. Apapun itu, saya ingin menemukan sebuah kecocokan dan kenyamanan. Acap kali saya temui, di tengah iringan gema sahur, tangis dan derai air mata membanjiri pipi penyedia jasa Open BO lantaran menceritakan kasih hidupnya.

Baca juga:  Tak Ada Lagi Racikan Cindil Tikus di Toko Obat Cina di Jogja

Pernah ada tangis dari penyedia jasa Open BO lantaran uang yang akan ia dapat, dikirimkan untuk orang tua di kampung sana. Padahal, ia bersekolah cukup tinggi. Ia mengenyam bangku kuliah dan tentu saja mempelajari hal-hal yang rumit. Masalah dosa, ia pasti khatam atas risiko yang akan ia emban. Nahasnya, katanya, ia lebih takut dengan sanksi yang diberikan oleh masyarakat ketimbang berat sebuah dosa.

Pernah juga ada yang mengatakan bahwa ia masuk ke dalam dunia ini lantaran kahanan. “Mau bagaimana pun, tubuh saya butuh makan,” katanya, merujuk kepada perawatan tubuhnya yang nggak murah. Ia nggak menangis, cenderung menyebalkan, namun saya amat suka dengan caranya melemparkan sebuah alasan walau nggak bisa masuk akal pikiran.

Dari sana saya menemukan sebuah kenyamanan. Sebuah kejujuran yang sulit saya temukan di dunia pekerjaanku yang penuh dengan risiko dan pengkhianatan. Dengan penyedia jasa Open BO, walau satu malam, rasanya saya bisa menyerahkan tubuh dengan tabah tanpa harus khawatir apa itu rasa kecewa.

Saya bukan fetish malam bulan puasa, namun ketika menemukan sebuah kecocokan dan kenyamanan, entah kenapa mainnya jauh lebih enak. Setiap tusukan akan menimbulkan makna. Setiap gesekan akan menghasilkan kisah. Kepuasan adalah hal tabu lantaran pada akhirnya hanya kegembiraan menjemput waktu Imsak.

Perlombaan dengan waktu subuh, itu jadi kesenangan tersendiri. Bagaimana pun, siangnya saya harus puasa. Ada kawan yang harus saya legakan, bukan Tuhan yang harus saya rituskan. Ketika kebanyakan orang itu sahur dengan makanan yang nikmat dan menjaga ketahanan, saya bersahur dengan perasaan nikmat yang saya rasakan selayaknya masakan buatan ibu di rumah.

Memangnya boleh, ya, bersahur dengan bersetubuh? Duh, saya sih kurang tahu. Rasanya saya harus tanya kepada Hyung Husein Ja’far Al-Hadar dalam Kolom Mojok Ramadan. Tersesaaaat… Oh, tersesat.

Pada akhirnya saya hanya ingin menyampaikan rasa terima kasih. Entah kepada para pembaca Susul Mojok yang budiman dan sudi membaca hingga tuntas, atau kepada para penyedia jasa Open BO yang pernah menemani saya menyingsing melawan kesepian di sebuah malam yang penuh dengan lantunan ayat-ayat yang diturunkan dari langit. Toh rasa untuk berterima kasih tak harus dihaturkan kepada orang-orang yang suci saja, kan?

BACA JUGA  Penyedia Jasa Open BO dan Bagaimana Mereka Menjalankannya liputan menarik lainnya di rubrik SUSUL.