Awalnya tak pernah sekali pun terbesit dalam pikiran saya yang cekak, bagaimana ‘pakaian’ bisa menjadi sebuah persoalan besar. Amat besar.

Mulai dari pakaian yang dikenakan oleh Putri Indonesia kita tercinta, yang kecantikannya mewarisi eksotisme kaum anti-kapitalis, sebuah kaos merah bersablonkan perjuangan, yang sampai membuat ‘loreng-loreng bersorban’ repot-repot melaporkannya ke Isilop. Mereka benar-benar orang yang repot.

Lanjut lagi dengan sebuah gaun mahal dengan warna tak jelas, “putih emas” seperti milik Tommy—sang legenda dalam serial Power Rangers—atau “biru hitam” seperti lorèk jersey Inter Milan, yang terpaksa kalah memalukan di kandang pinjamannya akhir pekan kemarin. (Asli, ini sebenarnya saya kasihan dengan Inter, tapi ya gimana lagi).

Perdebatan tentang warna gaun ini juga terbukti bisa memicu pertengkaran kecil dengan teman, juga dengan mantan. Selain memicu debat tentang bola mata dan otak siapa yang tak lagi normal, gaun ini juga mengakibatkan pemuda berani bermimpi membelikan gaun untuk kekasihnya yang sebenarnya telah menjadi mantan. Kurang ajar sekali penyebar virus gaun ini, memang.

Karena saya pikir lebih banyak mudaratnya, daripada pusing ditanya teman-teman apakah saya melihat Tommy, Inter Milan, atau melihat mantan saya menggunakan gaun itu di pelaminan bersama kekasihnya yang sekarang, saya lebih memilih jawaban, “Sak karepmu!”

Setelah itu, saya pikir ini semua sudah berakhir. Tapi kenyataan bicara lain. Simfoni tentang pakaian belum juga berhenti. Bahkan masih berlanjut dengan irama berdebar seperti Summer ‘Storm’ Presto dalam orkestra 4 musim-nya Antonio Vivaldi.

Ketika terlalu disibukkan dengan banjir artikel dan twit-twit tentang Anindya Sang Putri, rupanya kita kecolongan sebuah fenomena yang tak kalah penting. Malahan menurut hemat saya kejadian ini jauh lebih penting. Tentang Chelsea Islan dan pakaiannya yang ‘terlempar’.

Sungguh saya merasa menyesal baru tahu ada kejadian ini. Melihat capture-an videonya, awalnya saya menolak percaya. Tanpa pikir panjang saya langsung membaca hampir semua versi berita di jagat internet yang agung ihwal keterlemparan tersebut. Tapi, Kak Syahrini malah mencoba melakukan pengalihan isu, dih!

Sebagaimana Bumiputera yang benar dan berada di jalan yang (Insya Allah) lurus, tentu saja Mas nge-fans sekali dengan Dik Islan. Permunculan Dik Islan dalam layar kaca dan layar lebar dan layar kecil yang baru beredar langsung mengingatkan saya pada tokoh Annelies Mellema Sang Bunga Akhir Abad, kekasih Minke dalam tetralogi Bumi Manusia karya Pram. Entah kenapa, begitu saya berusaha membayangkan Ann, yang muncul dalam benak saya adalah sosok Dik Islan. Entah karena sama-sama berdarah campuran, cantik dan lucu atau entah karena yang lain.

Barangkali imajinasi saya yang tidak sampai ketika membayangkan Annelies, atau Dik Islan yang memang terlalu melampaui segala imajinasi saya. Mbuh.

Annelies, sesaat setelah mendapatkan kebahagiaan luar biasa karena akhirnya menjadi istri seseorang yang dicintainya, tiba-tiba harus menerima kenyataan yang luar biasa pahit. Kenyataan hampir tak masuk akal yang mengharuskan ia berpisah dengan orang-orang yang dicintainya. Kisah Annelies selesai dengan remuk hatinya yang akhirnya menjadikannya patung pualam untuk selamanya, Annelies Mellema depresi hingga mati.

Mas sempat baca berita kalau Dik Islan juga depresi dan tidak mau syuting film lagi gara-gara kejadian sial ini. Mas Wim bilang jangan, Dik. Mas Wim dan segenap putra bangsa yang lain sedang menunggu akting Dik Islan di film Tjokroaminoto. Sekali lagi, Mas Wim mohon, Dik Islan jangan depresi. Stella yang diperankan Dik Islan sudah pasti ditunggu-tunggu dan dinanti-nanti. Betapa ngeri membayangkan Dik Islan yang sedang semangat melejitkan diri harus tenggelam seperti kapal Van der Wijk gara-gara keterlemparan tak biasa ini.

Membaca berita yang menyakitkan ini, tentu saja Mas Wim langsung memanjatkan doa, “Semoga Dik Islan tak gugur hancur lebur hatinya seperti Ann. Dik Islan kudu kuwat. Ini doa dari Mas.. Semoga diijabah oleh Kanjeng Gusti.”

Celakalah orang-orang yang merekam dan menyebarkan video itu. Apakah mereka tak tahu kalau Dik Islan adalah seorang Duta Kanker Payudara yang aktif mengkampanyekan bahaya dari pembunuh diam-diam ini? Apakah mereka juga tidak tahu kalau Dik Islan memiliki cita-cita mulia yaitu menjadi Menteri Pemberdayaan Wanita?

Keluarga Dik Islan bilang sudah tahu siapa perekam dan penyebar video sial itu. Dan alangkah besar hati mereka, untuk tidak memperpanjang lagi masalah ini… Dalam hati Mas berharap video itu tidak memperpanjang hal yang lain.

Kita tak tahu siapa pelakunya. Kita tak bisa mencegah terlemparnya video itu kemana-mana. Kata orang, segala hal yang ada di internet adalah milik semua orang. Yang sudah terjadi memang tak bisa dibalikkan lagi. Tapi yang paling jelas adalah, sebagai Bumiputra pembela bangsa, kita memiliki tugas tambahan: Mati-matian membela Dik Islan dan menyeimbangkan jagat raya agar tidak dikuasai loreng-loreng bersorban.

No more articles